26 views

Bicara New Normal

“ADEK, pakai dulu maskernya! Sudah naik motor, nggak pakai masker pula! Itu namanya cari masalah!” tegur Dinda saat Gilang mau antar Mama ke Pasar Waydadi.

“Nyantai aja sih, mbak! Sekarang sudah new normal! Nggak kaku-kaku amat lagilah aturannya!” sahut Gilang sambil memanaskan motornya.

“Nah, ini yang salah kaprah! New normal itu bukan terus ninggalin kebiasaan protokol kesehatan yang sudah dijalani selama ini, dek! Tapi justru itu yang harus jadi kebiasaan sehari-hari! Adek ini gimana sih mikirnya!” ketus Dinda.

“Emang yang dimaksud new normal itu sebenernya kayak mana sih, mbak?!” tanya Gilang.

“New normal itu intinya hidup dengan tatanan baru, dek! Dengan kebiasaan baru! Dengan pikiran-pikiran baru! Biar hidup kita tetep survive! Gitulah sederhananya!” ucap Dinda.

“Kok malahan njelimet bener aturannya kalo adek baca soal new normal ini, mbak?! Emang kalo tatanan baru mesti diikuti aturan-aturan yang malahan bisa ngebingungin gitu ya?!” kata Gilang.

“Contohnya gimana, dek?!” sela Dinda.

“Urusan aktivitas di masjid aja deh! Pengurusnya harus buat pernyataan untuk jalanin protokol kesehatan bagi jamaah yang datang! Kalo ngelanggar siap diproses hukum!” urai Gilang.

“Emang ada kayak gitu, dek?” tanya Dinda. Terheran.

“Ada mbak! Kan banyak pointnya dalam surat edaran Menteri Agama soal menormalkan lagi kegiatan di tempat-tempatibadah! Salah satunya; pengurus tempat ibadah harus buat surat pernyataan siap jalanin semua aturan! Kalo ngelanggar, diproses hukum!” kata Gilang.

“Mbak baru tau ini malahan, dek! Padahal konsep new normal yang sebenernya itu buat ngebangkitin lagi ekonomi yang terpuruk! Bukan sampai ngurusin soal-soal hubungan spesial manusia dengan Tuhannya begini!” jelas Dinda.

“Sebenernya istilah new normal itu dari mana sih, mbak?!” kata Gilang.

“Yang nyiptain istilah new normal itu namanya Roger Mcnamee, dek! Dia seorang investor teknologi yang sukses! Karyanya berjudul The New Normal: Great Oportunities in Time of Great Risk!” urai Dinda.

“Arahnya kemana new normal yang dikenalin sama si Roger itu?” tanya Gilang.

“Prinsipnya di bidang ekonomi, dek! Si Roger itu buat 15 aturan dalam investasi agar pada kondisi krisis tetep bisa bertahan! Itu semua lahir pasca krisis ekonomi 2007-2008 dan resesi global 2008-2012 lalu!” urai Dinda.

“O gitu! Jadi prinsipnya new normal itu ke urusan ekonomi ya! Tapi kenapa sekarang ini semua kementerian buat aturan, mbak! Kan malah ngebuat rakyat bingung!”

“Namanya juga masuk pada kehidupan dengan tatanan baru, wajar aja kalo banyak dibuat aturan, dek! Itu pedoman buat semua rakyat! Tapi ya nggak usah ngebuat bingunglah! Dibuat enteng-enteng ajalah, dek!”

“Dibuat enteng kayak mana kalo nyatanya segitu banyak aturan! Kan nggak mungkin kita tahu dan pahami aturannya! Mestinya kalo prinsip new normal itu ke sektor ekonomi, ya buat aja aturan yang terkait sektor itu!” kata Gilang.

“Nggak bisa juga, dek! Harus dipahami hukum sebab akibatnya! Kausalitasnya! New normal ini dilahirin kan karena ada corona! Wabah itu masih tetep seliweran di sekitaran kita! Yang positif setiap harinya terus bertambah banyak! Tapi hidup harus berlanjut! Jangan sampe ekonomi keburu ambruk dan remuk!” jelas Dinda.

“Ah, njelimet ngomongin new normal, mbak! Yang penting kan kita tetep pake masker, sering-sering cuci tangan pake sabun dan jaga jarak di keramaian! Itu aja yang simpel! Mau pake istilah new normal atau apa aja, terserah! Kenyataannya kita hidup belum normal ini kok!” kata Gilang sambil duduk di jok motornya karena Mama sudah siap berangkat ke pasar. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *