20 views

Bicara Debat

“KENAPA kok muka adek merah gitu ya? Lagi kesel to?” ucap Dinda saat masuk ke kamar Gilang.

“Ya kesel-kesel sedikit sih, mbak! Biasalah namanya juga lagi ikuti acara debat!” sahut Gilang. Tetap mencoba tersenyum.

“Debat apaan sih, dek! Kurang kerjaan amat, urusan pelajaran kita aja lagi nggak jelas-jelas gini, adek malah adain debat!” ketus Dinda.

“Justru ini debatnya ngomongin soal kelanjutan sekolah kita ini kayak mana, mbak! Apa mau tetep belajar di rumah aja atau kapan bisa belajar di sekolah lagi!” urai Gilang.

“Terus apa kira-kira kesimpulan debatnya, dek?” tanya Dinda sambil duduk disamping Gilang.

“Belum sampe ke kesimpulan! Ini peserta debat lagi nyampein pendapatnya!” kata Gilang sambil menatap monitor laptopnya.

“Gimana mayoritas pandangan kawan-kawan adek?!”

“Mayoritas pengennya cepet belajar kembali di sekolah, mbak! Lagian kan sekarang sudah era new normal! Tapi wilayah Bandar Lampung zona merah! Aturan pemerintah, cuma wilayah zona hijau yang boleh sekolah kembali normal!” ujar Gilang.

“O gitu, dek! Jadi kesimpulan sementara mayoritas anak didik pengen cepet bisa sekolah normal ya?”

“Iya, mayoritas gitu, mbak! Cuma pandangan orang tua dan wali murid beda lagi!”

“Apa pandangan mereka, dek?!” sela Dinda.

“Mayoritas pengennya anak-anak tetep belajar di rumah kayak beberapa bulan belakangan ini! Para orang tua takut anak-anaknya kena virus corona kalau belajarnya sudah di sekolah lagi!” jelas Gilang.

“Walah, jadi gimana nanti nyimpulin hasil debat ini kalau begitu, deń∑?!” kata Dinda.

“Kan yang namanya debat nggak harus ada kesimpulan, mbak! Biar aja wacana yang ada ini berkembang! Nanti pihak-pihak yang ngurusin dunia pendidikan biar yang nelaah dan nyimpulinnya!” tutur Gilang.

“Ya nggak gitu dong, dek! Yang namanya debat itu mesti ada kesimpulan!” kata Dinda.

“Yang mesti ada kesimpulan itu rapat, mbak! Itu juga rapat yang resmi! Baru hasilnya wajib ditindaklanjuti! Dan mengikat buat pihak-pihak terkait!” kata Gilang.

“Kalau gitu wajar dong Menko Luhut Binsar Panjaitan nolak diajak debat sama ekonom senior Rizal Ramli soal utang luar negeri itu ya? Wong hasilnya juga nggak harus ditindaklanjuti! Malahan ngabis-ngabisin energi aja!” kata Dinda.

“Wajar dan mestinya emang gitu, mbak! Lagian rencana debat itu kan sudah lebih kental nuansa politisnya! Jadi kalau pun isi debatnya berkualitas, orang nggak bakal nyambung! Urusan kebijakan pemerintah kayak gitu, eloknya, ya didiskusiin diem-diem ajalah! Ngapain gembar-gembor kalau ujung-ujungnya hasilnya nol besar!” sahut Gilang.

“Nurut adek, hal sakral yang harus dipegang dalam debat itu apa?!”

“Attitude is everyting, mbak! Etika adalah segalanya! Jadi lebih baik nggak usah ada debat, kalau yang mau berdebat kurang bisa pegang etika!” tutur Gilang seraya.menutup laptopnya. Tak mau ikuti debat sampai akhir. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *