18 views

Bicara Nilai

“KOK bengong gitu merhatiin raportnya, dek? Ada yang aneh ya?!” kata Dinda pada Gilang yang tampak mengernyitkan dahi saat memandangi hasil raport dari gadgetnya.

“Ada yang aneh aja nurut adek, mbak?!” sahut Gilang tanpa menengokkan wajahnya.

“Apa yang aneh emangnya, dek?”
“Nilai adek ini, mbak? Kok bisa kayak gini ya?!”

“Emangnya kenapa sih?!” sela Dinda.

“Ini nilai matematika adek kok 87 ya?” ucap Gilang.

“Nurut adek mestinya lebih tinggi lagi ya nilainya?!” kata Dinda.

“Nggak, mbak! Justru ini kelebihan! Nilai ulangan akhir adek kan cuma 74, kok jadi 87 di raport ini ya?!” ucap Gilang.

“Ah adek mah! Kirain mbak apaan! Nilai di raport itu kan kumpulan nilai dari berbagai tugas pekerjaan rumah, ulangan harian sampai ujian akhir! Nggak cuma ambil dari hasil ulangan akhir aja! Makanya yang mudeng dengan sistem penilaian dong, dek! Coba kalau tadi ngomongnya ke orang lain, malahan adek diketawain dan ketauan nggak pahamnya,” urai Dinda.

“Adek kan nggak tahu, makanya tanya mbak! Emang bukan hasil ulangan akhir aja ya yang ditulis di raport itu? Repot juga ya pak guru kita dalam nentuin nilai buat anak didiknya!”

“Yang namanya nilai di raport itu nggak bakal dalam sekali test case, dek! Pasti ada tahapan-tahapannya! Ada jejak-jejak yang harus dilalui! Maka sebenernya nggak gampang emang beri nilai itu! Apalagi kalau nilai seseorang! Nggak bisa sak dek sak nyek alias ujug-ujug!” lanjut Dinda.

“Jadi nggak gampang ya mbak nilai seseorang itu?” tanya Gilang.

“Ya nggak gampanglah, dek! Jangan adek kira yang cengar-cengir atau senyum-senyum kalau ketemu adek itu berarti orangnya supel! Familiar dan bisa jadi sahabat! Sebaliknya, kalau ketemu yang cuek atau sok jaim, janga n langsung ngenilai kalau orang itu nggak bisa diajak bersahabat! Semua butuh waktu untuk nilai seseorang itu!” kata Dinda.

“Maksudnya biar waktu yang ngebuktiin ya, mbak! Baru kita bisa kasih nilai!” ujar Gilang.

“Iya gitu, dek! Apapun itu butuh proses! Perlu waktu! Dan nggak etis juga kalau kita sudah kenal dengan seseorang, seiring jalannya waktu ternyata karakternya nggak klop, terus kita ngejauhinnya! Ya tetep aja ada silaturahmi, cuma berjarak!” tutur Dinda.

“Bagusnya kalau emang nggak sesuai sama karakter kita, ya nggak usah bersahabatlah, mbak! Ngapain?!” sela Gilang.

“Kita bisa nyimpulin nilai nggak sesuai sama karakter kita itu kan lewat proses, dek! Lewat perkenalan, pertemanan, ngobrol-ngobrol dan segala macemnya! Masak iya, sudah terlanjur kena, jadi gitu aja dianggep kayak nggak pernah kenal! Kan nggak bagus juga dalam etika pertemanan!” jelas Dinda.

“Gimana kalau kayak yang dialami bapak kawan adek, mbak! Bapaknya kan RT, karena dianggep nggak pernah merhatiin warganya, sama Pak Camat dicopot dari jabatannya atas usulan Pak Lurah! Padahal Pak Lurahnya juga jarang ngantor! Boro-boro merhatiin kepentingan warganya! Kayak mana nilainya?!” kata Gilang.

“Baiknya bapak kawan adek yang dicopot dari RT itu buat surat ke Pak Camat! Misalnya, ngelaporin kalau sebenernya Pak Lurah juga selama ini nggak pernah ngurus kepentingan warganya! Cuma ngutamain segelintir warga yang mau runtang-runtung sama dia aj a! Yang mau jadi keset kakinya! Tapi bapak kawan adek itu jangan mikir mau jadi RT lagi! Jadi apa yang disampeinnya bener-bener apa adanya! Nggak ada kepentingan apa-apa selain buat perbaikan warga!” urai Dinda panjang lebar.

“Bener juga, mbak! Nanti adek sampein ke kawan adek! Mana Pak Camat nunjuk Pelaksana RT-nya bukan dari warga tempat mereka lagi, mbak! Cuma kebetulan dikenal warga situ aja!” kata Gilang.

“Nah, kalau kenyataannya kayak gitu, sulit kita nilainya, dek?!” ketus Dinda.

“Lho, kenapa emangnya, mbak?!” sela Gilang.

“Karena itu keputusan politis, dek! Yang sering kali hukum kemanusiaan dan etika kehidupan dilanggar semaunya! Sesuai dengan kepentingan saat ini aja! Mbak nggak mau komentar kalau disuruh nilai keputusan politis!” kata Dinda.

“Emangnya kenapa, mbak?!”

“Karena penilaiannya sekehendak yang lagi punya kepentingan! Tolok ukurnya nggak jelas! Mbak nggak mau ngenilai hal-hal yang abstrak!” tutur Dinda sambil meninggalkan Gilang, yang masih memandangi nilai raport yang menuliskan kalimat: naik ke kelas IX. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *