21 views

Bicara Perenungan

“HEI, ngapain maghrib-maghrib duduk ngelamun di teras, dek! Kesambet nanti!” tegur Dinda pada Gilang.

“Adek ini bukan ngelamun tau mbak! Tapi lagi merenung! ” sahut Gilang yang terkejut dengan teguran Dinda.

“Hayo, ngerenungin apa ya? Jangan-jangan adek mulai tertarik sama kawan-kawan perempuan di sekolah yang selama ini ngefans sama adek sang Ketua OSIS ya?!” ledek Dinda sambil tertawa.

“Nggaklah, mbak! Semua temen aja kok! Nggak ada yang spesial buat adek! Lagian belum kepikir sama adek buat ada yang spesial!” ucap Gilang.

“Gitu tah, dek? Bukannya adek sering chatingan dengan salah satu kawan perempuan adek di sekolah ya?!” Pancing Dinda.

“Ya sebatas bertemen aja, mbak! Nggak lebih! Apalagi adek kan sudah punya wanita spesial! Dua orang lagi!”

“Oh ya..? Dua orang wanita spesial, dek! Siapa mereka itu ya?!” sela Dinda. Penasaran.

“Mama dan mbak! Itulah dua wanita spesial buat adek! Emang mbak kira siapa?!” jawab Gilang sambil tertawa.

“Ah, kirain mbak siapa dua wanita spesial adek itu! Bisa aja lo cah ragil ini becanda!” kata Dinda.

“Nggak becandalah, mbak! Mama dan mbak emang wanita spesial buat adek! Dan adek ditugasin buya buat jagain mama dan mbak selama buya masih mondok! Makanya mbak jangan marah kalau adek sering overprotektif! Nggak ngasih mbak main lama-lama sama temen mbak!” urai Gilang.

“Duh, senengnya hati mbak jadi salah satu perempuan spesial buat adek! Bangga lo mbak dengan pernyataan adek ini!” ucap Dinda, yang spontan memeluk dan mencium Gilang.

“Ya nggak usah lebay gitu juga kali, mbak! Biasa-biasa ajalah!” kata Gilang, berusaha melepaskan pelukan Dinda.
“Kalau boleh mbak tau, apa yang buat adek ngelamun dari tadi ini?!” kata Dinda sambil duduk di kursi depan Gilang.

“Sudah adek bilang adek ini bukan ngelamun tapi ngerenung! Beda arti dan maksudnya dua kata itu, mbak!” sahut Gilang.

“Iya deh, adek lagi merenung! Terus apa perenungannya?! Kok mbak perhatiin begitu seriusnya adek sekali ini!”
“Adek nggak sreg bener dengan hasil raport kemarin itu, mbak!” kata Gilang.

“Maksudnya gimana, dek?”

“Adek kan dapet ranking 5, mbak! Biasanya kan nggak pernah keluar dari tiga besar di kelas! Kok sekarang nurun! Itu yang jadi perenungan adek dari tadi!” urai Gilang.

“Oalaah, itu to yang adek pikiran berjam-jam duduk di teras ini!” kata Dinda.

“Iya, soal turunnya ranking nilai adek di kelas itu yang jadi pikiran! Padahal adek sudah evaluasi, waktu dan konsentrasi buat belajar nggak berubah! Tetep disiplin dan konsisten!”

“Adek jangan lupa, dengan posisi adek sebagai Ketua OSIS, otomatis banyak waktu dan pikiran adek yang selama ini cuma fokus pada pelajaran, menjadi terpecah! Dan itu lazim-lazim aja kok, dek! Ada istilah: nggak mungkin dalam sekali tembakan, dua kelinci akan kena! Jadi nggak usah kelewat berat mikir dan ngerenunginnya! Lagian kan adek masih di lima besar peraih ranking kelas! Dibawa enjoy ajalah!” kata Dinda panjang lebar.

“Justru karena adek ketua OSIS itu makanya ngerasa gimana gitu, kok ranking adek malahan turun!” ujar Gilang.

“Adek jangan keilangan pede gini dong! Coba adek itung, berapa banyak kawan adek di kelas yang nggak pernah ikutan di kegiatan OSIS, yang rankingnya dibawah adek? Lebih banyakkan?! Evaluasi, introspeksi atau ngerenung kayak gini emang bagus sih, dek! Cuma jangan malah buat ngedrop! Tapi harus bisa jadi pemacu untuk langkah ke depan!”

“Ya tapi kayak mana caranya, mbak? Adek bingung memulainya darimana!” kata Gilang.

“Adek renungi aja kalimat yang mau mbak sampein ini ya?! Yang mbak dapetin waktu bezoekin buya di pondoknya! Di pojok ruangan ada kalimat bunyinya gini: jangan terlalu lama menyesali keburukan yang sudah terjadi. Jadilah yang terbaik karena yang terjadi. Hidup ini maju. Bukan mengharapkan kembalinya masa lalu! Nanti adek pahami baik-baik kalimat itu ya! Ayo sekarang kita maghriban dulu!” tutur Dinda sambil merangkul Gilang masuk ke dalam rumah. Untuk solat maghrib berjamaah. Gilang jadi imam, Mama dan Dinda jadi makmum. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *