13 views

Bicara Reshuffle

“MBAK, apaan sih yang dimaksud reshuffle-reshuffle itu?” tanya Gilang, sepulang dari kongkow dengan teman-temannya di sebuah cafe di bilangan Pahoman, Bandarlampung.

“Maksudnya itu pergantian, dek! Emang kenapa?!” ucap Dinda.

“Tadi waktu adek ngumpul sama temen-temen, di meja lain ada beberapa bapak-bapak sibuk bener ngomongin reshuffle-reshuffle gitu! Apaan kali ya, lagi kongkow di cafe malah ngomongin kayak gituan!” jelas Gilang.

“Ya nggak apa-apa juga kali, dek! Namanya cafe itu kan tempat umum, siapa aja bisa dateng! Ya obrolannya pasti macem-macem jugalah, dek!”
“Iya sih, tapi sudah kayak yang ngerti dan nentuin bener gitu soal reshuffle-reshuffle, mbak!” sela Gilang.

“Reshuffle itu kan sesuatu yang alamiah aja sih, dek! Bahasa kitanya pergantian! Nggak anehkan? Kan emang kapan aja terjadi pergantian itu! Dari soal waktu aja; ada pagi, siang, sore dan malam! Terus berputaran! Semua di dunia ini pasti ngalamin pergantian! Cuma karena bapak-bapak di cafe tadi pakai bahasa Inggris dengan istilah reshuffle, jadi agak asing di telinga ya?!” kata Dinda. Meledek.

“Emang istilah reshuffle itu lagi ngetrend ya, mbak? Kok tadi seru bener bapak-bapak itu ngobrolinnya?” tanya Gilang.

“Iya emang, dek! Sudah dua minggu ini istilah reshuffle lagi ngetrend, gara-gara Pak Jokowi marah sama menteri-menterinya yang dinilai kerjanya nggak extraordinary alias biasa-biasa aja! Sampe keceplosan kalau dia sudah kepikir mau nge-reshuffle kabinet! Dari situ asal muasalnya maka istilah reshuffle ngetrend lagi, dek!” jelas Dinda. Panjang lebar.

“O gitu ya, mbak? Terus apa urusannya bapak-bapak tadi ngebahas soal reshuffle ya?” ucap Gilang.

“Ya mana mbak tahu, dek! Cuma prinsipnya: kehidupan duniawi ini diwarnai oleh pergantian yang harmonis antara dua kejadian yang justru bertentangan! Harmoni kehidupan akan dapat dirasakan kalau terjadi perbedaan dan pergantian! Gitu kata orang bijak, dek!” tutur Dinda.

“Jadi sebenernya reshuffle-reshuffle itu biasa aja ya, mbak? Cuma pergantian aja!” sela Gilang.

“Iyalah, hal yang lumrah aja kok! Cuma emang karena yang ngomong itu Presiden, jadi dapet perhatian berbagai kalangan! Padahal, banyak pergantian yang sehari-hari juga terjadi! Kayak adek, kan minggu lalu sebagai Ketua OSIS, ngeganti wakil ketua dan beberapa pengurus lainnya! Lumrah-lumrah ajakan?!” urai Dinda.

“Kalau misalnya mbak jadi Presiden, apa dalam kondisi pandemi Covid-19 yang terus nggak karuan ini pilihannya nge-reshuffle kabinet?!” tanya Gilang.

“Kalau mbak, pasti nggak, dek! Sebagai Presiden, mbak ajak semua menteri: back to the straight path! Kembali ke jalan yang lurus! Artinya ya sadar diri akan tugas yang dikasih negara ini buat apa?! Sederhana aja kok?!” kata Dinda.

“Ngapa nggak reshuffle aja, mbak?!”
“Kalau buat mbak: menjemput yang terserak dan mengumpulkan yang bercerai, lebih mulia dari pada ngeganti-ganti orang yang malah nimbulin barisan sakit hati!” sambung Dinda dengan kalem.

“Jadi nggak ganti-ganti dong menterinya kalau mbak yang jadi Presiden?!” kata Gilang.

“Kalau mbak ngeyakinin bener bahwa: setiap jaman ada tokohnya dan setiap tokoh ada jamannya! Simpelkan, dek?!” ujar Dinda. Nyengir.

“Jadi sebenernya, ngomongin reshuffle-reshuffle itu nggak penting ya, mbak?!” sela Gilang.

“Bagi mereka-mereka yang nganggep itu penting, ya pentinglah, dek! Makanya jangan pukul rata kalau nilai orang itu! Karena -sering kali- maksud baik kita pun belum tentu sesuai dengan orang lain! Apalagi sekadar obrolan di cafe!” tutur Dinda sambil memeluk Gilang. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *