14 views

Bicara Popcorn (1)

“MBAK, istilah new normal katanya diganti, karena dianggep kurang tepat! Kayak mana sih kok cucuk-cabut gini?!” kata Gilang.

“Istilah new normal itu sebenernya nggak salah, dek! Cuma kali kurang pas aja penempatannya! Sejak awal pas Presiden Jokowi nyampein istilah itu, sebenernya, sudah banyak yang ngingetin kalau kurang pas! Tapi kan jalan terus! Ya syukur kalau ada kesadaran dan akhirnya mau diubah, sesuai dengan cita rasa bangsa kita sendiri,” sahut Dinda sambil terus memetik gitarnya.

“Emang istilah new normal itu awalnya dari mana sih, mbak?” tanya Gilang.

“Dulu kan sudah pernah mbak sampein sih, dek! Lupa ya? Yang nyiptain istilah itu namanya Roger Mcnamee, tahun 2004 lalu! Dia buat buku berjudul The New Normal: Great Oportunities in Time of Great Risk! Isinya kajian selepas situasi pasca krisis ekonomi tahun 2007 dan resesi global di tahun 2008 sampai 2012!” jelas Dinda.

“Jadi sebenernya istilah new normal itu lebih ngomongin soal ngebangkitin ekonomi ya, mbak?”

“Bener, emang gitu, dek! Kalau adek baca bukunya Roger Mcnamee itu ditemui adanya 15 aturan atau trik investasi agar dalam kondisi krisis tetap bertahan!”

“Kenapa sekarang pemerintah ngeganti istilah new normal itu ya, mbak?!”

“Ya nggak tahu pastinya kenapa, dek! Pemerintahlah yang tahu soal begituan mah! Kalau dugaan mbak sih karena pemakaian istilah itu ternyata salah sasaran, dek!” ucap Dinda.

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Kalau kita runtut lagi ke belakang, istilah itu kan digelorakan buat bangsa kita cepet bangkit secara ekonomi di tengah-tengah pandemi Covid-19! Kenyataannya kan malah kacau situasinya! Dana pemerintah ratusan triliun yang sudah dianggarkan di kementerian aja kan nggak jalan! Di sisi lain, penanganan pandemi corona dengan anggaran Rp 600 triliun lebih, nyatanya juga nggak maksimal penggunaannya di lapangan! Maka wajar lagi-lagi Pak Jokowi marah sama menteri-menterinya dalam rapat Senin kemarin! Karena rakyat yang kena virus mematikan itu malah makin bertambah!” urai Dinda.

“Jangan-jangan mau diberlakuin PSBB lagi atau bahkan lockdown ya makanya kayak ada semacam revisi atas istilah new normal itu sama pemerintah, mbak?!” sela Gilang.

“Dalam kondisi kayak gini, apalagi bawaan Presiden Jokowi sudah marah-marah terus sama menteri-menterinya, segala kemungkinan bisa aja terjadi, dek! Waspada aja kita sebagai anak bangsa!” kata Dinda.

“Kenapa kita perlu waspada, mbak?!” tanya Gilang.

“Karena seseorang yang sudah beberapa kali marah itu berarti tidak stabil emosi dan alur pikirnya! Kalau hal itu terjadi pada seorang pemimpin, bisa saja ambil keputusan yang diluar dugaan dan jauh dari nalar!” ucap Dinda.

“Kalau nurut mbak, buat nurunin tensi biar bawaannya nggak marah melulu ngadepin situasi yang emang lagi sulit gini kayak mana?!” ujar Gilang.

“Sebenernya sih sederhana, dek! Pahami filosofi popcorn aja!” jawab Dinda. Enteng.

“Popcorn lagi, popcorn lagi aja lo mbak ini! Kayak nggak ada contoh lain aja! Emang kayak mana sih yang mbak maksud?!” kata Gilang.

“Popcorn itu kan berondong jagung sih, dek! Yang tanemannya di negeri kita sangat banyak! Jadi sudah familiar sebenernya buat semua kita! Cuma kita kan nggak secerdik orang luar dalam ngemasnya!”

“Yang konkrit aja ceritane, mbak?!” ketus Gilang, tidak sabar.

“Mbak ceritain kisah popcorn kalau gitu, dek! Panganan dari berondong jagung ini dikenalin saat ada karnaval atau festival di tahun 1880-an di Amerika sana! Mulai populer 10 tahun kemudian, setelah Charle Cretors, pengusaha asal Chicago, ngebuat mesinnya!”

“Terus gimana, mbak?!” sela Gilang. Penasaran.

“Saat itu, si berondong jagung sudah dikemas jadi popcorn berkat mesin buatan Charle Cretors! Cuma penjualannya belum bisa masuk gedung bioskop, dek!”

“Lho, kenapa mbak? Dilarang ya?!”

“Iya, dilarang popcorn didagangin di dalem bioskop! Karena harganya murah! Jaman itu kan cuma orang-orang kaya aja yang bisa nonton film di bioskop, dek! Nggak kayak sekarang! Masak orang kaya camilannya popcorn yang murah! Gitulah kira-kira pandangan orang waktu itu!” kata Dinda.

“Terus kapan mulai eksisnya popcorn, mbak?!”

“Saat terjadi apa yang disebut sebagai Great Depression di Amerika, dek! Yaitu era lemahnya pertumbuhan ekonomi Amerika sekitar tahun 1930! Jadi, belajar dari filosofi perkembangan panganan popcorn ini yang kita perluin saat ini, dek!” kata Dinda.

“Konkretnya kayak mana, mbak?!”

“Semua yang sudah diprogramin ya harus konsisten dijalanin! Dan harus yakin, dibalik suatu kondisi sesulit apapun pasti ada jalan buat bangkit! Tapi kita harus tetep cermat dan cerdik buat nemuin langkah yang tepat! Dan nggak bisa pakai marah-marah! Tapi tetep dengan bermusyawarah!” tutur Dinda.

“Kenapa harus pakai musyawarah, mbak?! Kan Presiden pengambil keputusan tertinggi, apa aja bisa dia putusin!” kata Gilang.

“Karena musyawarah itu inti dari hadirnya hidayah, dek! Dan sungguh berbahaya bagi orang yang telah merasa cukup dengan pendapatnya sendiri! Kalimat itu dari pendapat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bukan pendapat mbak pribadi lo, dek!” kata Dinda.

“Jadi yang penting nggak pakai marah-marah ya, mbak?!” ujar Gilang.
“Ya mesti gitu, dek! Masak makan popcorn kok sambil marah-marah! Ya nggak paslah!” ucap Dinda sambil tertawa. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *