21 views

Bicara Frustrasi

“ADEK ini kenapa ya, kok demen bener sama lagu Kartonyono Medot Janji? Lagi patah hati dan frustrasi tah?!” kata Dinda pada Gilang yang sedang asyik memainkan gitar menyenandungkan lagu berbahasa Jawa yang sedang digandrunginya itu.

“Nggaklah, mbak! Adek mah jauh dari urusan patah hati apalagi frustrasi! Adek suka aja sama lagu ini! Melankolis dan tetep lestariin budaya lokal!” sahut Gilang.

“Tapi syairnya itu lo, dek? Nggambarin orang patah hati! Mbak takut aja kalau adek sampai frustrasi!” lanjut Dinda.

“Nggaklah, mbak! Adek nggak seringkih itulah! Itu cuma nyanyian aja dan nggak ngaruh sama perasaan adek!” ucap Gilang. Sambil cengengesan.

“Iya mbak tahu adek laki-laki tegar! Nggak gampang ambruk mentalnya! Tapi wajar aja kan kalau mbak khawatirin adek! Karena sekarang ini lagi kenceng-kencengnya virus frustrasi, dek!” kata Dinda lagi.

“Adek senenglah mbak perhatiin apalagi khawatirin! Kan adek cuma punya mbak satu inilah! Mbak juga cuma punya adek satu inilah! Ya sudah seharusnya kita sama-sama ekstra peduli dan perhati! Emang sekarang lagi merebak virus frustrasi tah, mbak?!”

“Iya, dek! Virus frustrasi ini lebih bahaya dibanding virus corona! Walau sebenernya emang berkaitan!” jelas Dinda.

“Coba jelasin sih mbak! Biar adek paham!” ucap Gilang seraya menaruhkan gitarnya di meja.

“Penyebabnya nggak jauh-jauh sih, dek! Tetep urusan sama penanganan virus corona itulah! Sejak Senin kemarin, istilah penanganan Covid-19 alias corona diubah sama menteri kesehatan! Nggak ada lagi PDP, OPD dan OTG!” kata Dinda.

“O gitu, terus pakai istilah apa sekarang, mbak?” tanya Gilang.

“Balik ke istilah lama, dek! Yang emang sudah dikenal di dunia kesehatan! Istilah yang dipakai sekarang kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi sampai ke istilah kontak erat! Istilah ini sudah sah dan berlaku, dek! Kepmenkesnya sudah ada! Jadi jangan lagi pakai istilah yang lama!” urai Dinda.

“Ngapainlah ganti-ganti istilah gitu ya, mbak? Sudah istilah new normal diganti jadi adaptasi kebiasaan baru, sekarang istilah buat klasifikasi pasien corona juga ikut diubah! Kok kayak nggak ngerti apa yang urgent aja ya?!” kata Gilang.

“Ya itu yang mbak bilang lagi merebak virus frustrasi itu, dek! Tapi ada juga yangsudah ngakui kalau dia bener-bener frustrasi, dek!”

“Oh ya, siapa yang berani terang-terangan ngaku frustrasi itu, mbak?!” sela Gilang.

“Nadiem Makarim, dek! Medikbud! Dia ngaku frustrasi disuruh tangani urusan pendidikan dan kebudayaan sama Jokowi! Latar belakangnya sebagai orang bebas dan ngelahirin Gojek, gitu jadi menteri ketemu dengan adanya tatanan birokrasi, administrasi, regulasi dan lain-lain! Belum lagi selalu jadi sorotan publik! Pengakuan Nadiem kalau ia frustrasi ngurusi kemendikbud itu pas wawancara dengan youtubetempo Sabtu lalu,” urai Dinda.

“Itu virus frustrasi kedua! Masih ada lagi nggak yang sudah kena virus itu juga, mbak!” kata Gilang.

“Masih ada, dek! Presiden Jokowi mau bubarin 18 lembaga atau komisi sebentar lagi! Alasannya buat ngehemat anggaran!” tutur Dinda.

“Jadi itu semua mbak simpulin lagi ada serangan virus baru yang numpang di virus corona yaitu virus frustrasi, gitu ya?!” ujar Gilang mencoba menterjemahkan alur pikir Dinda.

“Iya, emang gitu nurut mbak, dek! Dan virus ini lebih parah! Apalagi nyerang orang-orang yang punya kewenangan ngambil kebijakan!” ucap Dinda.

“Jadi kita harus gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya nggak gimana-gimanalah, dek! Kita ya gini-gini aja! Emang mau ngapa juga! Yang penting mbak sudah pastiin adek nggak patah hati apalagi frustrasi karena lagi suka dengan lagu Kartonyono Medot Janji itu!” kata Dinda sambil tersenyum.

“Yang adek bingung, kok menteri kesehatan sibuk ngeganti istilah terkait status pasien corona! Terus mendikbud yang katanya teruji kemampuannya, malahan ngaku frustrasi! Terus Pak Jokowi malahane mau ngebubarin belasan lembaga! Apa nggak ada yang lebih penting sekarang-sekarang ini ketimbang kayak gituan ya?!” kata Gilang. Panjang lebar.

“Adek, sehebat apapun orang, kalau dalam kondisi bingung, kehebatannya jadi hilang! Dan sekarang, malahan virus frustrasi yang mencuat kepermukaan! Yo wis, kita mainkan lagi lagu kesukaan adek itu! Biar nggak ikutan kena virus frustrasi!” tutur Dinda sambil mengambil gitar dan meminta Gilang bernyanyi. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *