34 views

Bicara Satgas

“NGAPAIN repot-repot sih ngadepin masa orientasi siswa baru, dek! Kan sudah ada wakil ketua OSIS yang tugasnya pembinaan siswa! Kasih aja dia tugas!” kata Dinda saat melihat Gilang tengah membuat struktur pelaksana MOS di sekolahnya.

“Biar ngikuti perkembangan, mbak! Sekarang ini kan jamannya ngebuat satuan tugas gitu, jadi adek ya ikutanlah! Biar dianggep tetep update sama perkembangan yang ada!” sahut Gilang.

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Ada perkembangan yang bisa dijadiin rujukan! Tapi juga bisa dijadiin ketawaan! Jangan asal ikutan aja dong!” ucap Dinda lagi.

“Jadi mbak nggak setuju ya kalo adek buat satgas untuk nangani pelaksanaan MOS nanti?” tanya Gilang.

“Ya nggaklah, dek! Ngapain? Kan sudah ada wakil ketua OSIS yang emang tugasnya ngebidangi kegiatan semacam itu?! Maksimalin aja!” jelas Dinda.

“Nurut mbak, perlu dibentuk satgas itu kalau kondisinya kayak mana?!” tanya Gilang lagi.

“Kalau secara struktural nggak ada lembaga yang nangani masalah itu, dek! Dan persoalannya sudah bener-bener urgent! Istilahnya sudah sampe tenggorokan! Kalau nggak dibuat satgas, bakal bubrah itu kegiatan!” urai Dinda.

“Lha ini Pak Jokowi buat satgas lagi, mbak! Satgas pemulihan ekonomi! Setelah ada satgas covid-19! Gimana nurut, mbak?!” kata Gilang.

“Mbak nggak paham gimana alur pikirnya soal itu, dek! Setahu mbak, di struktur pemerintahan itu ada berbagai kementerian yang tugasnya ngurusin soal ekonomi! Nurut mbak, ya lembaga yang ada aja dimaksimalin! Ngapain buat-buat satgas lagi! Malah kebanyakan instrumen kebijakan, makin lamban gerakannya!” ujar Dinda.

“Malah bisa tumpang-tindih programnya ya, mbak?!”

“Ya iyalah, dek! Akhirnya program satgas yang diduluin! Karena dianggep punya nilai plus kalau sukses nangani satgas! Akibatnya, program kementerian jadi terbengkalai! Yang kayak gini ini mestinya yang dicermati sama wakil rakyat di DPR-RI itu, dek!”

“Bisa aja kan sebenernya ngebentuk satgas itu buat nutupi lembonnya kinerja kementerian-kementerian terkait selama ini ya, mbak?!” kata Gilang.

“Sebenernya ya itulah, dek! Buat nutupi kerja menteri yang belum maksimal, dibuatlah satgas-satgas itu! Jadi rakyat bisa maklum kalau kerja jajaran pemerintahan belum maksimal! Karena satgas kan baru dibentuk! Yang kayak gini ini mestinya jadi ketawaan itu, dek!”
“Jadi kayak lawakan ya, mbak?!” sela Gilang.

“Ya semacam itulah, dek! Anggep-anggep lahirnya satgas-satgas itu kayak hiburan di masa pandemi covid-19 ini! Karena nggak banyak yang bisa diharep dari satgas-satgas itu! Wong yang struktur baku jajaran kementerian aja dikalahin sama satgas kok! Di satu sisi mau ngebubarin belasan lembaga, di sisi lain ngelahirin satgas! Lelucon aja dunia ini, dek!” ujar Dinda sambil tertawa.

“Awas lo, mbak! Sekarang ini ngeritik aja bisa jadi masalah lo?!” kata Gilang mengingatkan.

“Mbak kan ketawa, dek! Mosok ketawa aja nggak boleh! Mbak jadi inget pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Waspadailah datangnya gangguan dari orang-orang kaya ketika dia merasa lapar dan dari orang-orang miskin ketika dia merasa kenyang!” tutur Dinda dengan wajah serius.

“Maksudnya apa pernyataan itu, mbak?!” tanya Gilang.
Dinda hanya mengangkat bahunya. “Wallahua’lambis sowaf!” (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *