21 views

Bicara Kedermawanan

“WUIH, baik bener adek hari ini! Semua orang yang lewat nggak pakai masker, langsung dikasih!” kata Dinda saat melihat Gilang membagi-bagikan masker pada pengendara motor yang lewat depan rumah.

“Untuk saling ngingetin dan berbagi aja, mbak! Lagian masker ini dikasih ayahnya kawan adek! Disuruh ngebagiin ke pemotor yang nggak pakai masker!” ucap Gilang.

“O gitu! Banyak amat ngasihnya, dek! Dua kotak besar gitu! Terus maskernya ada tandanya nggak!” kata Dinda lagi.

“Maksud ada tandanya itu apa, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya semacam penanda kalau masker itu dikasih siapa? Kan sudah mau pilkada, banyak calon yang manfaatin kondisi pandemi Covid-19 ini untuk sosialisasi dengan ngebuat masker banyak-banyak! Terus dikasih penandanya: bisa pake nama atau lambang partainya!” urai Dinda.

“Nggak ada, mbak! Cuma warna item aja! Nggak ada apa-apa lagi!” jelas Gilang.

“Kalau gitu, ayah kawan adek itu bener-bener ikhlas dalam berbuat, dek! Semata-mata ngebantu sesama agar meminimalisir terkena virus corona!” tutur Dinda.

“Selama ini ayah kawan adek itu emang dikenal kedermawanannya, mbak! Dia sering diem-diem ngebantu orang! Padahal nggak dimintai bantuan!” ujar Gilang. Membanggakan.

“Itu yang paling bagus, dek! Dermawan itu emang orang yang memberi bukan karena diminta! Pahalanya luar biasa di mata Allah! Tapi gimana siap dia dengan keluarga terdekatnya, dek! Dermawan juga nggak?!” kata Dinda.

“Nah, nggak tahu kalau soal itu? Emang kenapa ya, mbak?” sela Gilang.

“Sebaiknya bersikap dermawan itu ditujukan pada keluarga terdekat dulu! Baru ke sekeliling, dek!”

“Kenapa gitu, mbak?”

“Karena mereka bagaikan sayap yang kalian pakai untuk terbang! Makanya, kedermawanan yang hakiki itu diutamakan ke keluarga terlebih dulu! Dan jangan sampai riya’ atau cari ketenaran dari perbuatannya itu! Harus ikhlas bener!” ujar Dinda.

“Emang kenapa kalau amal ngebagiin masker kayak gini buat nyari ketenaran, mbak?” tanya Gilang.

“Sia-sia aja, dek! Sebuah hadits qudsi bilang begini: barang siapa mencari ketenaran dengan amalnya, ia seperti orang yang mengusung air di punggungnya naik ke gunung! Ia letih dan lelah namun tak sedikit pun amalannya diterima!” tutur Dinda.

“Wah, bisa sia-sia aja ya amal kita kalau niatnya nyari tenar? Terus emang nggak boleh bersikap dermawan ke orang lain sebelum ke keluarga terdekat, mbak?!” ucap Gilang.

“Ya boleh-boleh aja, dek! Yang penting kan nawaitunya itu! Karena semua perbuatan tergantung niat! Lagian emang banyak kok orang yang keliatannya amat sangat dermawan ke orang lain, tapi sama keluarga sendiri cupelnya minta ampun!” kata Dinda.

“O gitu, banyak ya yang lebih berbagi ke orang lain ketimbang ke keluarga sendiri, mbak?!”

“Banyak sekali, dek! Orang lain nyanjung-nyanjung kedermawanannya sementara keluarganya justru merasa terhina karena nggak diperlakukan selayaknya keluarga!”

“Nah, kalau seandainya mbak ngalami keterhinaan kayak gitu kayak mana sikapnya?!” sela Gilang.

“Mbak ikuti petuah Ustad Hilmi Firdausi aja, dek! Hinaan orang itu seperti batu yang dilemparkan orang ke kita! Jangan kita lempar balik! Kumpulkan saja batunya, untuk dijadikan jembatan menuju kesuksesan dunia akherat!” kata Dinda yang kemudian ikut membantu Gilang membagikan masker di tepian jalan. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *