18 views

Bicara Satgas (1)

“MBAK, coba tebak kemana tujuan utama lahirnya satgas yang diresmiin Pak Jokowi hari Senin lalu?” kata Gilang, sore tadi.

“Maksudnya yang ngeganti istilah itu ya, dek? Dari gugus tugas jadi satgas!” sahut Dinda.

“Iya, sederhananya gitulah pokoknya, mbak?!”

“Tujuan utamanya ya nanganin pandemi Covid-19 sekaligus mulihin ekonomilah, dek!” kata Dinda.

“Salah, mbak! Yang mbak sampein itu kan ngutip dari istilah di Peraturan Presiden nomor 82/2020 yang ngelahirin satgas itu!” ucap Gilang.

“Jadi nurut adek kemana dong tujuan utamanya?” sela Dinda.

“Ngasih kerjaan sama percetakan! Dan tukang buat stempel!” kata Gilang sambil nyengir.

“Maksudnya ini opo to, dek?!” sela Dinda. Tidak nyambung.

“Kan dulu namanya gugus tugas, mbak! Buat nangani pandemi Covid-19 itu lo?! Sekarang berubah jadi satgas! Artinya yang pertama dilakuin kan ngeganti semua kop surat dan stempel! Mulai dari pusat sampai kabupaten! Yang ngerjain siapa? Kan pegawai percetakan sama tukang buat stempel!” ucap Gilang. Tertawa.

“Ah adek ini! Kirain mbak mau ngomong apa, nggak tahunya mainan aja!” kata Dinda sambil mrengut.

“Ya emang ngomongnya mainan, mbak! Tapi benerkan kata adek? Dengan langkah awal ngeganti semua kop surat dan stempel se-Indonesia ini diharepin ada pemulihan ekonomi! Gitu lo mbak tujuan utamanya!” urai Gilang.

“Sesederhana itu, dek?! Emang bisa dengan gitu aja urusan pandemi Covid-19 yang setiap hari terus nambah pasien positif itu tertangani? Yang mbak perkirain di akhir Juli nanti yang positif kena corona bisa 100.000 orang?! Emang dengan ngeganti kop surat sama stempel aja bisa pulih ekonomi kita? Jangan ngada-ngadalah, dek!” kata Dinda. Berubah serius.

“Ya nggak usah serius gitu juga kali, mbak! Wong emang masalahnya sederhana kok!”

“Sederhana kayak mana coba?!” tanya Dinda. Penasaran.

“Cuma lewat satu peraturan itu aja Presiden Jokowi bukan cuma ngelahirin dua satgas dalam bahasa Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional! Tapi juga ngebubarin 18 lembaga atau badan yang keberadaannya lewat belasan peraturan sebelumnya! Sederhanakan? Ini namanya efektif efisien, mbak!” kata Gilang.

“Iya, terus apalagi?!”

“Sebelumnya, lewat Perpu nomor 1/2020 yang sekarang sudah jadi UU nomor 2/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19, pemerintah ngatur APBN sendiri tanpa ngebahasnya lagi dengan DPR-RI! Hak budgeting wakil rakyat sudah dianulir dengan adanya UU itu! APBN cukup lewat peraturan Presiden aja! Sederhanakan pola mainnya?! ” lanjut Gilang.

“O gitu, terus apalagi, dek?!” kata Dinda. Makin penasaran.

“Lewat UU itu juga jelas diterangkan kalau pejabat negara yang terlibat dalam penanganan pandemi Covid-19 diberi hak imunitas! Artinya ada kekebalan hukum buat mereka! Lembaga yudisial pun nggak bisa ngegugat apalagi nyidangin mereka-mereka yang terlibat dalam penanganan kasus corona itu, mbak!”

“Wah, bisa sehebat itu ya negeri ini sekarang! Eksekutif sendirian ngelola semuanya! Ditambah dipakein baju hak imunitas pula!” ucap Dinda.

“Ya inilah kesederhanaan Pak Jokowi dalam jalanin kepemimpinannya, mbak! Nggak pakai ribet, yang penting semua maunya tetep jalan!” ujar Gilang.

“Kalau sudah gitu, ya ngapain ngerubah-ubah istilah ya, dek?!”

“Mbak jangan lupa, anggaran penanganan Covid-19 ini hampir Rp 700 triliun! Kan biar keliatan bener-bener digunain, ya harus dikemas dengan banyak kesibukan gitulah! Toh, kalaupun ada penyimpangan sudah disiapkan pagernya yaitu adanya hak imunitas! Jarang-jarang lo di negeri ini dimainkan pola kayak gini, mbak!” sambung Gilang.

“Tapi masak pemulihan ekonominya kok nyontohin percetakan sama tukang stempel aja sih, dek? Rakyat ini kan beragam profesi?!”

“Ya dari yang sederhana dulu dong, mbak! Jangan ujug-ujug! Satu-satu mulihinnya!”

“Lho, berkali-kali kan Pak Jokowi marah sama menteri-menterinya karena dinilai nggak maksimal gunain anggaran, ini kok gayanya alon-alon asal kelakon to?! Mana yang mau diikuti?!”

“Dulu kan Pak Jokowi juga pernah bilang untuk kita hidup berdamai dengan corona! Nyatanya gitu sampai sekarang malah nambah terus yang kena, dia ngasih sinyal lampu merah lagi! Jadi emang bisa aja laporan yang dia terima nggak sesuai dengan faktanya, mbak! Maka dia sering keliatan gedandapan! Terkaget-kaget!” kata Gilang.

“Kalau ngeliat kayak gini, mbak jadi inget apa yang diucapin Umar bin Khattab: Yang paling aku khawatirkan adalah aku melakukan kesalahan dan kalian tidak mau meluruskan kesalahan itu karena takut kepadaku!” tutur Dinda. Dengan raut wajah sedih.
Gilang tak menjawab. Hanya mengangkat bahunya saja. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *