33 views

Bicara Dinasti

“NGOPO to mbak, pulang-pulang kok ngelamun gini!” sapa Gilang pada Dinda yang tengah termenung di teras belakang, selepas dari sekolahan, sore tadi.

“Lagi mikirin gimana cara mbak ngomong, dek!” sahut Dinda sambil minta Gilang duduk di kursi sebelahnya.

“Maksudnya ngomong apa ya? Emang ada apa, mbak?” tanya Gilang.

“Tadi mbak dipanggil ketua yayasan, dek! Disuruh nyetting gimana caranya anak dia bisa jadi pemeran utama pada drama kolosal yang dipentasin akhir tahun nanti!” kata Dinda.

“Emang masalahnya apa kok sampai mbak bingung ngomongnya?!” ucap Gilang.

“Sebab pemain utamanya sudah ada, dek! Sudah terlatih dan nyatu dengan tim drama ini!”

“Emang anak ketua yayasan itu selama ini nggak terlibat sama sekali ya?”

“Nggak, dek! Aktif di kegiatan apa juga nggak di sekolah! Makanya mbak bingung harus kayak mana ngomong sama temen-temen!” kata Dinda lagi.

“Nyantai aja, mbak! Nggak usah mumet-mumet yo! Pasti ada jalan keluarnya!” kata Gilang. Menenangkan.

“Ya tapi kayak mana jalan keluarnya itu, dek?!” ujar Dinda dengan nada kesal.

“Gampang aja kok itu mah, mbak!”

“Yo gampangnya itu kayak mana, dek? Jangan cuma bilang nyantai aja mbak! Gampang itu mah mbak! Jalan keluarnya yang mbak butuhin! Bukan nenang-nenangin hati mbak aja!” ketus Dinda. Mrengut.

“Mbak ajak kumpul temen-temen pemain drama! Terus mbak bilang aja kalau acara pentas nanti bakal batal!” kata Gilang.

“Kok gitu ngomongnya? Kan nggak batal, dek!” sela Dinda. Tidak sabar.

“Jangan dipotong dulu donk, mbak! Nyantai ajalah! Kalau mbak ngomong gitu, kan pasti temen-temen pada protes! Baru setelah itu mbak sampein kalau acara bisa tetep jalan dengan satu syarat!”

“Syaratnya anak ketua yayasan jadi pemeran utama, gitu ya mbak bilang?!” Dinda menyela lagi.

“Ya mbak bilang aja gitu! Adek yakin temen-temen mbak pada ngertiin akhirnya!” lanjut Gilang.

“Adek yakin temen-temen mbak akhirnya bisa terima?” tanya Dinda dengan nada cemas.

“Adek yakin, mbak! Soal mereka nerimanya dengan ikhlas atau ngegerundel, itu lain masalah! Yang penting kan mereka nerima dan permintaan ketua yayasan bisa diwujudin!” tutur Gilang sambil cengengesan.

“Kok adek bisa punya pikiran canggih gini ya sore ini! Abis makan apa sih?!” kata Dinda sambil tersenyum. Merasa agak lapang pikirannya.

“Adek lagi pahami soal dinasti tetep nggak bisa dikikis gitu aja walau kita tinggal bukan di negeri kerajaan, mbak!” tanggap Gilang.

“Maksudnya apa sih, dek? Mbak nggak nyambung!”

“Itu lo mbak, gara-gara anaknya Pak Jokowi si Gibran nyalon walikota Solo, soal dinasti jadi bahasan lagi! Seru baca pro kontranya! Dari situlah adek punya ide buat ngatasi problem mbak sore ini!” urai Gilang.

“Emang nggak boleh ya anak presiden nyalon walikota, dek?” tanya Dinda.

“Ya boleh ajalah, mbak! Nggak ada aturan yang ngelarang kok!”

“Lha terus kenapa urusan dinasti diributin donk?!”

“Karena kita ada di negara demokrasi, mbak! Kalau kita tinggal di kerajaan, ya nggak ada yang ngusilin! Kayak urusan drama ini aja, kalau orang ngenilainya dari sisi demokrasi, ketua yayasan sekolahan mbak dianggep nggak demokratis! Sebab maksain anaknya ikut main drama! Jadi pemeran utama pula! Padahal selama ini ngikut apa-apa juga nggak pernah! Kan gitu?!”

“Nurut adek, soal dinasti ini gimana?!” tanya Dinda.

“Kalau adek sih pegang prinsip sederhana aja, mbak! Kemuliaan seseorang itu datang dari amal kebaikan dan kesantunan! Bukan karena nenek moyang dan keturunan!” ucap Gilang.

“Jadi adek nggak ikutanlah ya kalau ada yang ngebahas soal dinasti-dinasti gini?!”

“Nggak, mbak! Adek nggak mau ikutan ngebahas soal gituan! Karena ngomongin dinasti itu rentan ke arah kedengkian!”

“Emang kenapa dengan kedengkian, dek?” tanya Dinda lagi.

“Kedengkian itu ngebuat seseorang ngebenci orang lain yang nggak berbuat salah sama dia! Dan yang pasti, nggak ada kesenengan pada diri orang yang dengki!” ujar Gilang.

“Jadi orang yang terus-terusan ngomongin soal dinasti itu bisa terjebak pada perilaku dengki, gitu ya dek?!”

“Bisa aja sampai kesana, mbak! Padahal kita semua kan nggak pernah bisa milih mau lahir dari perut wanita mana dan siapa? Nggak juga bisa nentuin bapak kita siapa? Karena puluhan tahun sebelum lahir pun, takdir kita sudah ditulis dengan indah oleh Allah di lauhil mahfud sana! Artinya mbak, sebagai makhluk jangan lupa akan tatanan proses kehidupan ini!” kata Gilang.

“Maksud adek sudahilah ngomongin soal dinasti itu ya? Utamanya kalau nyambut pilkada gini?!” kata Dinda.

“Iya, arifnya ya gitu mbak! Karena nggak ada manfaatnya! Salah-salah malah nambahin dosa! Selain ngecilin keagungan Allah yang sudah nyiptain kita sebagai makhluk terbaik-Nya!”
“Gimana caranya biar soal dinasti nggak terus-terusan jadi omongan nggak produktif ya, dek?!” kata Dinda.

“Adek inget, seorang sahabat pernah nulis gini di status wa-nya, mbak! Sebuah silet memang tajam, tapi tak bisa digunakan untuk menebang pohon! Sebaliknya, sebuah kapak memang kuat, tapi tak bisa digunakan untuk memotong sehelai rambut!” ujar Gilang sambil beranjak dari kursinya. Meninggalkan Dinda yang mencoba menelaah kalimat yang disampaikan adek kesayangannya. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *