28 views

Bicara Extraordinary

“MBAK, cepetan ngapa?! Sudah ditungguin Mama dari tadi! Kan harus cepet ke dokter, biar terdeteksi Mama ini sakit apa!” kata Gilang dengan suara melengking, memanggil Dinda.

“Sebentar, dek! Mbak beresin dulu nyatok rambut ini!” sahut Dinda dari kamarnya.

“Masyaallah, cuma mau anter Mama ke dokter aja pake nyatok rambut dululah mbak ini! Ketara nggak pede bener!” ketus Gilang.

“Slow aja sih, dek! Jangan ikut-ikutan gupek kayak para menteri-lah! Mentang-mentang Presiden Jokowi ngomong sekarang harus mikir dan kerjanya dengan pola extraordinary, terus asal buat program dan luncur-luncurin aja! Akibatnya kan malah timbul persoalan baru!” kata Dinda sambil keluar kamar dan berlari ke mobil yang sudah siap jalan untuk mengantar Mama ke dokter.

“Sorry, Mam! Mbak agak lamaan! Maklumin juga, sekarang kan jamannya extraordinary, jadi bawaan adek diluar kebiasaan! Yang biasanya tenang tapi terarah, ikut-ikutan jadi gupekan!” ucap Dinda. Sang Mama hanya tersenyum.

“Mbak ini ngomong extraordinary-extraordinary terus itu apa sih maksudnya?” tanya Gilang sambil menyetir.

“Ya elah, anak sekolahan yang belajarnya di rumah aja, nggak tahu sama istilah itu? Ngapain dan kemana aja adek selama ini?!” sela Dinda. Sambil tertawa.

“Hei, mbak! Adek ini bener-bener anak sekolahan lo! Nggak pernah ada itu pelajaran yang ngebahas extraordinary-extraordinary apa dia itu?!” sahut Gilang. Tak mau kalah.

“Mbak kasih tahu ya? Istilah extraordonary itu dimasyarakatin sama Presiden Jokowi waktu dia ngasih pengarahan sama menteri-menterinya! Maksud kata itu adalah diluar kebiasaan!” ucap Dinda.

“Konkretnya apa, mbak?!”

“Karena kondisi negeri ini masih terus pandemi Covid-19 dan terancam resesi ekonomi, Jokowi minta semua menteri kerjanya extraordinary! Kerja yang diluar kebiasaan!”

“Nggak mudeng adek, mbak! Maksudnya kerja diluar kebiasaan itu kayak mana?” tanya Gilang.

“Perkataan Jokowi itu nurut Menteri Keuangan Sri Mulyani maksudnya dalam bekerja semua menteri harus sama sense of crisis, feeling dan frekuensinya!” urai Dinda.

“Ya nggak mungkin bisa gitulah, mbak! Masing-masing kan punya tupoksi! Ditambah karakter setiap menteri kan beda-beda! Adek aneh aja, kok malahan dikembangin untuk kerja diluar kebiasaan! Wong yang kerja sesuai kebiasaan aja nggak maksimal!” kata Gilang.

“Ya itu kan maunya Presiden Jokowi, dek! Lagian urusan extraordinary itu nggak ngaruh sama kita! Ngapain juga pusing-pusing!” tanggap Dinda.

“Kata siapa nggak ngaruh, mbak? Sekarang ini aja yang kita lakuin sudah diluar kebiasaan!” ujar Gilang.

“Maksudnya apa, dek?” tanya Dinda.

“Biasanya kalau nganter Mama ke dokter, kita sepanjang jalan berdoa! Sambil mbak pelukin Mama! Ngegantiin Buya yang biasa melukin Mama! Ini kita malah debatin soal extraordinary!” kata Gilang.

“Iya juga ya, dek! Sorry ya, Mam! Anak-anak Mama rupanya kena virus extraordinary juga!” kata Dinda. Nyengir dan spontan memeluk sang Mama.
Sambil menarik nafas, Mama berucap:

“Mbak dan adek perlu tahu ya! Saat kita sampaikan suatu kebenaran, akan muncul dua reaksi yang berbeda! Yang bijak akan merenung! Yang bodoh akan tersinggung!” (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *