38 views

Bicara Kepo

“ADEK, istirahat lagilah! Biar kondisi badannya cepet pulih! Kalau adek sakit gini kan mbak juga yang repot!” tegur Dinda pada Gilang yang masih asyik ikuti perkembangan dunia melalui internet, sampai dinihari.

“Ya belum bisa tidur, gimana dong, mbak?!” sahut Gilang.

“Tadi kan sudah minum obat, biasanya bawaan ngantuk! Kok adek ini malah ngebelalak gitu matanya ya?!”

“Ya mana adek tahu, mbak! Lagian kan nggak semua obat itu berefek ngantuk!”

“Tapi biasanya buat yang lagi sakit, obatnya pasti yang ada pengaruh ngantuknya, dek! Biar istirahat, jadi cepat pulih!” kata Dinda.

“Kali obat yang buat adek ini nggak kayak biasanya, mbak! Kan sekarang emang lagi jaman yang penuh ketidakbiasaan!” ucap Gilang.

“Sudah nggak usah ngelantur! Jadi orang jangan kepo-anlah! Nanti malah nggak sembuh-sembuh sakitnya karena kurang istirahat!” sela Dinda.

“Justru semangat kepo itu harus dikembangin, mbak! Jangan dimatiin! Karena bawa nilai positif buat kita!” kata Gilang. Bersemangat.

“Hei, dek! Dimana-mana juga orang itu nggak suka sama orang kepo tahu! Dimana positifnya coba!” kata Dinda.

“Itu yang salah, mbak! Kepo itu sebenernya ngajak kita berpikir dan berbuat positif! Cuma karena banyak yang nggak paham soal kepo, jadinya dinilai negatif!” jelas Gilang.

“Emang apa coba yang dimaksud kepo itu setahu adek?” tanya Dinda.

“Kepo itu singkatan, mbak! Dari kalimat: knowing every particular object! Artinya orang yang serba ingin tahu! Nah, jadi sebenernya positif kan nilainya?!” urai Gilang.

“Tapi kenyataannya banyak orang yang nggak suka sama orang kepo!” ketus Dinda.

“Ya karena nempatin ke-kepo-annya aja yang kurang pas, mbak! Padahal maksudnya kan bagus! Ngajak kita biar nggak kuper!”

“Terus hasil ke-kepo-an adek sekarang ini apa?”

“Ternyata, nyambut pilkada 2020 ini Pak Jokowi bukan cuma ngedorong tapi juga ngelarang, mbak!” kata Gilang.

“Maksudnya apa, dek?!”
“Seluruh rakyat Indonesia kan tahu, Pak Jokowi ngedorong anaknya si Gibran nyalon walikota Solo! Buktinya dia nyuruh saingan beratnya, Pak Purnomo yang sudah teruji kemampuannyan untuk mundur! Yang secara spesial dipanggil ke Istana! Juga ngedorong menantunya, si Bobby nyalon walikota Medan! Gitu kan faktanya yang ada sekarang!” kata Gilang.

“Iya, yang beredar di masyarakat kayak gitu emang, dek! Terus yang ngelarang?!” tanggap Dinda.

“Pak Jokowi rupanya diem-diem ngelarang iparnya, Pak Wahyu Purwanto, nyalon bupati di Gunungkidul Jogjakarta! Padahal sang ipar sudah setahun lebih sosialisasi! Relawannya juga sudah ada di semua desa!” lanjut Gilang.

“Nah, kenapa dilarang maju iparnya itu, dek?” tanya Dinda. Terheran.

“Kata Pak Wahyu, dia disuruh Pak Jokowi konsentrasi aja di bidang sosial, mbak!”

“Emang iparnya itu punya yayasan sosial ya? Atau baru nyemplung juga ke dunia politik kayak anak dan menantunya?!”

“Nggak, mbak! Pak Wahyu itu sudah lama berpolitik! Jabatannya aja sekarang dewan pakar Nasdem di kabupatennya! Dia juga mantan Rektor Universitas Gunungkidul!” kata Gilang.

“Berarti kan sudah berpengalaman! Sudah teruji punya kemampuan ya, dek! Kok malahane disuruh mundur sama sang ipar yang kebetulan lagi jadi Presiden yo?!” ucap Dinda dengan lirih.

“Ya itu seninya kehidupan demokrasi kita saat ini, mbak! Penentu politik kita itu kelompok pemilik uang dan kekuasaan! Baru diikuti kelompok tiket, yaitu partai pengusung! Yang terakhir, kelompok relawan! Lebih kecil lagi pengaruhnya!” ujar Gilang.

“Terus nurut adek dengan keadaan dunia politik kayak gini gimana?” tanya Dinda.

“Dalam dunia ke-kepo-an dikenal fatsun gini, mbak! Sering kali kita tak bisa merubah keadaan! Tapi bisa merubah persepsi kita tentang keadaan itu sendiri!” kata Gilang.

“Maksudnya gimana sih, dek?!” ucap Dinda. Penasaran.

“Woles aja sih, mbak! Slow aja maksudnya! Namanya kita lagi ada di dunia gabut! Dunia nggak jelas! Ya nggak usah dijelasinlah!”

“Yo nggak gitulah, dek! Kan lebih baik dibuat terang benderang! Kan sekarang jamannya apa-apa harus transparan!” kata Dinda.

“Mbak perlu tahu ya? Hidup sekarang itu sing penting sawang sinawang! Tak perlu terang! Cukup ada dan tidak padam!” tutur Gilang sambil mematikan gadget dan menarik selimut. Mencoba memejamkan matanya. Mengakhiri ke-kepo-annya. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *