21 views

Bicara Relawan

“MBAK, siapa orang-orang itu? Ngapain mereka berkerumun dan bawain plastik daging qurban itu? Mau dibawa kemana itu?” kata Gilang pada Dinda saat melihat belasan orang sibuk menyusun plastik berisi daging qurban dan dimasukkan ke tas masing-masing.

“Mereka itu relawan, dek! Ngebantu ngebagiin daging qurban buat masyarakat yang ngebutuhinnya!” jelas Dinda.

“Yang bener dulu, mbak! Apa iya mereka mau bagiin daging qurbannya?!” sela Gilang. Ragu.

“Mereka emang ngajuin diri buat ngebantu kita bagiin daging qurban disini, dek! Mereka ikhlas ngebantunya! Ya bersyukurlah ada yang ngebantuin, dek! Nggak kebayangkan mau bagiin ratusan plastik daging qurban gini cuma kita aja? Berapa lama coba?!” ucap Dinda.

“Emang mereka nggak minta upah atau apa gitu, mbak?” tanya Gilang. Dengan nada penasaran.

“Nggak, dek! Mereka ikhlas ngebantu! Nggak minta apa-apa! Cuma kan kita juga harus ngehargai mereka! Jadi masing-masing dikasih dua kantong plastik daging qurban! Untuk pribadi mereka! Ya timbal-baliklah, dek! Saling menguntungkan! Itu sudah unggah-ungguhnya kalau kita dibantu orang!” kata Dinda. Panjang lebar.

“Mbak yakin yang dibawa mereka akan sampai ke yang dituju? Mbak percaya abis ngebagiin daging qurban nanti mereka nggak minta upah?” ucap Gilang. Dengan wajah serius.

“Ya yakin dan percayalah, dek! Mereka kan relawan! Yang ngelakuin segala sesuatunya dengan ikhlas! Tanpa pamrih! Namanya aja udah rela, itu kan ikhlas! Lagian kenapa sih adek kok kayaknya serius bener merhatiin relawan ini?!” tutur Dinda.

“Bukan apa-apa sih, mbak? Adek lagi rada-rada apriori aja sama yang beratribut relawan gitu!” kata Gilang.

“Emang kenapa, dek?!” tanya Dinda.

“Kan lagi rame sudah dua minggu ini, orang-orang yang dulu relawan Jokowi waktu pilpres ngomelin Menteri BUMN! Karena nama-nama yang mereka usulin -yang katanya diminta Pak Jokowi- untuk jadi pejabat di BUMN, nggak ada yang masuk!” urai Gilang.

“O gitu! Ya bedalah kalau itu mah, dek! Itu kan relawan politik, kalau ini kan relawan sosial!” sahut Dinda. Datar.

“Ya sama ajalah, mbak! Mau relawan apa aja ya tetep ada yang diharepin! Relawan itu cuma istilah, mbak! Nggak terus rela dan ikhlas lahir batin, nggak ngarepin apa-apa dari yang diperbuatnya!” kata Gilang.

“Jadi sebenernya relawan itu cuma istilah to, dek! Bukan perwujudan pada perbuatannya yang ikhlas dan nggak ngarep apa-apa ya?!” sela Dinda. Mengernyitkan dahinya.

“Ya gitu faktanya, mbak! Ikuti itu perkembangan tokoh yang katanya dulu aktivis 98, sekarang siwek neriakin Menteri BUMN! Juga di tingkat daerah, karena dulu relawan ngebantu Pak Arinal jadi gubernur terus sekarang ngerasa dicuekin, ya nyari-nyari masalah! Semua laku kayak gitu intinya biar dapet ‘bayaran’ atas kerelawanannya saat suksesi kepemimpinan! Itu sudah lazim terjadi, mbak!” lanjut Gilang.

“Oalah, ternyata gitu to, dek! Mbak nggak paham kalau urusan relawan ternyata kayak gitu! Terus nurut adek baiknya gimana dong ini! Mbak jadi ragu juga, bakal disebarin ke masyarakat nggak daging qurban ini nanti!” ujar Dinda. Gamang.

“Adek juga bingung, mbak! Tapi baiknya mbak tambah aja yang buat mereka! Untuk pribadi masing-masing ditambah lagi tiga kantong plastik daging qurbannya!” saran Gilang.

“Nah, kalau kayak gitu mah malah banyak yang buat pribadi relawan ketimbang buat masyarakat, dek?” ketus Dinda.

“Ya sudah ikhlasin aja, mbak! Ketimbang nanti mereka marah-marah! Kayak relawan Pak Jokowi yang marah-marah terus karena ngerasa belum dapetin apa-apa padahal sudah berjuang habis-habisan! Kan malu juga kita sebagai pemilik hewan qurbannya!” kata Gilang.

“Wah, emang sampai marah-marah.gitu ya, dek? Karena ngerasa nggak dihargai usulan nama yang diminta Pak Jokowi itu ya?!”

“Iya, mbak! Dan sekarang makin banyak relawan Pak Jokowi yang marah! Ngerasa sudah berdarah-darah, tapi nggak dikasih balesan jabatan! Apalagi nurut mereka, yang dulu nggak ngapa-ngapain, malah dapet posisi!”

“Terus nurut adek kalau ngadepin kondisi kayak gini gimana?!”

“Nyantai ajalah, mbak! Ikuti aja sampai dimana! Sekalian bisa ngukur kualitasnya!” sahut Gilang. Tenang.

“Maksudnya gimana, dek?” tanya Dinda.

“Ya diemin aja! Karena dari kemarahan itu kita bisa ngenilai kualitas seseorang! Marahnya orang yang mulia bisa terlihat dari sikapnya! Marahnya orang bodoh bisa terlihat dari ucapan lisannya! Gitu aja kok repot sih, mbak!” ujar Gilang sambil menarik tangan Dinda. Kembali memasukkan daging qurban ke dalam kantong plastik untuk dibagikan kepada masyarakat dan tetap dibantu para relawan. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *