36 views

Bicara Nadiem

“HAHAHA..! Aneh bener emang Pak Nadiem Makarim ini!” kata Dinda sambil ketawa ngakak.

“Apaan sih, mbak? Kenapa lagi si Mas Menteri itu?!” tanya Gilang. Terheran melihat Dinda yang mendadak tertawa ngakak.

“Makin lama jadi menteri, makin keliatan nggak nyambungnya dia dengan tugas ngurusi dunia pendidikan dan kebudayaan! Bakalan bubrah dunia pendidikan kita kalau menterinya kayak gini dipertahanin terus!” lanjut Dinda.

“Emangnya kenapa sih, mbak?” tanya Gilang.

“Pak Nadiem bilang 100% dana BOS boleh digunain buat beli kuota, dek! Buat ngatasi saat ini yang sekolah daring! Lha pikirannya itu gimana ya?”

“O gitu, emang nggak pas ya, mbak?!”

“Ya nggak paslah, dek! Kalau dana BOS 100% boleh digunain buat beliin kuota guru dan siswa, terus bayar gaji guru honorernya gimana? Beli alat tulis kantor dan keperluan sekolah lainnya kayak mana!” urai Dinda.

“Mbak sendiri nilai Mas Menteri ini sebenernya kayak apa?!” ucap Gilang.
“Salah tempat dia, dek! Nggak pas dengan kemampuannya! Jadi, ya keliatan nggak ngerti apa-apa gitu jadinya! Padahal kalau kita ngutip omongan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia!” kata Dinda.

“Kan Mas Menteri sudah bisa ngubah dunia, mbak! Ngelahirin gojek!” sela Gilang.

“Ya tempat dia sebenernya di dunia begituan, dek! Bukan di dunia pendidikan formal kayak yang ditangani sekarang ini!” jelas Dinda.

“Iya juga sih ya! Kalau nempatin orang nggak sesuai keahliannya, bakal hancur itulah adanya! Terus kayak mana nurut mbak?!” ujar Gilang.

“Bener itu, dek! Kalau tukang kayu ditugasin mlester dinding, ya nggak bakal maksimal hasilnya! Pedagang siomay disuruh ngurusin pemerintahan ya bakal rusak birokrasinya! Semua kita punya keahlian! Tapi nggak semua urusan, kita berkeahlian! Ya, kalau nurut mbak, Pak Jokowi harus nge-resuffle Pak Nadiem, dek! Nggak ada pilihan lain! Itu kalau Pak Jokowi mau nyelametin belasan juta anak bangsa yang saat ini lagi sekolah!” kata Dinda.

“Nggak ada pilihan lain selain diresuffle ya, mbak! Kasian jugalah kalau diganti!” ucap Gilang. Prihatin.

“Lebih baik ngeganti satu orang ketimbang dunia pendidikan bangsa ini rusak nggak karuan, dek!” tegas Dinda.

“Tapi kan banyak programnya yang lagi jalan, mbak! Pakai tageline Belajar Merdeka! Ya biar berproses dululah!”

“Aduh adek! Program organisasi penggerak (POP) dengan anggaran Rp 595 Miliar itu aja bermasalah kok! Lagian targetnya cuma dari kegiatan POP itu nanti Kemendikbud bisa milih metode pelatihan terbaik doang! Itu kan sama aja boong! Lebih baik dana sebanyak itu buat ngelengkapin sapras semua sekolah di negeri ini! Kalau cuma perlu dapetin metode pelatihan terbaik, minta aja masukan ke pakar-pakar pendidikan! Nggak perlu dana ratusan miliar!” ulas Dinda.

“Mbak kayaknya nggak seneng bener ya sama Mas Menteri ini! Ngomongnya jutek melulu!” kata Gilang. Sambil tertawa.

“Mbak nggak kenal sama Pak Nadiem itu, dek! Apa urusannya jadi seneng atau nggak seneng! Karena mbak kan pelajar, kayak adek! Jadi ya wajar kita cermati urusan dengan dunia pendidikanlah! Apalagi dia bilang kalau sekolah negeri itu mestinya buat anak-anak dari ekonomi menengah ke bawah! Ini nunjukin kalau dia nggak paham fatsun pendidikan bangsa kita, dek! Bahaya kalau menteri nggak paham dengan nafas dan tujuan hakiki dari tugasnya!”

“Emangnya salah omongan dia, mbak?” tanya Gilang.

“Salah kaprah, dek! UUD 1945 mengamanatkan negara berkewajiban memberikan pendidikan untuk semua anak bangsa! Intinya gitulah, dek! Nggak boleh negara ngebeda-bedain berdasarkan SARA dan kemampuan sosial ekonomi rakyatnya!”

“Jadi nggak karuan gini dunia pendidikan kita gara-gara si Mas Menteri ini ya, mbak! Bakal kayak manalah nantinya, nggak kebayang!” ucap Gilang. Bergumam.

“Pastinya kalau Pak Nadiem tetep jadi Mendikbud, dunia pendidikan bangsa ini makin nggak karuan, dek! Nggak jelas alurnya! The potential loss dan generation loss! Hilangnya potensi dan hilangnya generasi!” kata Dinda.

“Wah, bahaya juga kalau gitu ya, mbak! Mungkin karena Mas Menteri sekolahnya banyak di luar negeri, jadi nggak paham fatsun dunia pendidikan negerinya sendiri!”

“Ya boleh-boleh aja sekolah di luar negeri, dek! Tapi mbok yo nginjek bumi gitu lo! Nyesuaiin dengan lingkungan dan etika dimana sekarang berada!”

“Mas Menteri sendiri pernah ngaku kalau dia sendiri kebingungan jalanin tugas sebagai Mendikbud lo, mbak! Karena harus berurusan dengan tata aturan birokrasi dan administrasi yang njelimet!” kata Gilang.

“Sebenernya seluruh rakyat juga tahu, dek! Pak Nadiem itu punya kepinteran! Cuma bukan di urusan pendidikan! Makanya jadi grusak-grusuk nggak karuan! Akibatnya dunia pendidikan ikut nggak karu-karuan!” tutur Dinda.

“Adek jadi inget pepatah Jawa, mbak! Mas Menteri kayak kesandhung ing rata, kebentus ing tawang! Tersandung di tempat rata, terbentur ke langit!” kata Gilang. Tersenyum penuh arti. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *