49 views

Bicara Garam

“WOY, mbak! Alangkah asinnya bakso ini! Kelewat banyak ngasih garamnya tahu!” kata Gilang saat menyantap bakso urat buatan Dinda.

“Emang sengaja mbak kasih garamnya banyak-banyak, dek!” sahut Dinda dengan santainya.

“Maksudnya apalah buat bakso asinnya minta ampun kayak gini!” sela Gilang. Memprotes.

“Biar adek tetep bersyukur!”

“Apa hubungannya bakso asin kayak gini sama bersyukur! Jangan ngada-ngada, mbak! Kalau emang masaknya ngasih garam kebanyakan, ya omongin aja!” ucap Gilang.

“Nggak! Emang mbak sengaja ngebuat baksonya asin gini kok, dek! Ya biar adek tetep bersyukur! Kalau urat sapi itulah rejeki adek dari ngurusin qurban di sekolahan kemarin itu!” urai Dinda.

“Maksudnya kayak mana sih, mbak?!” tanya Gilang.

“Kemarin kan pulang dari sekolah habis motong sapi qurban, adek kesel-kesel! Uring-uringan nggak jelas! Karena ternyata adek kebagian urat semua! Nggak ada dagingnya! Gitukan?!” kata Dinda.

“Iya, emang gitu! Karena adek yakin ada kawan yang nuker plastik daging adek itu, mbak! Adek kan sudah dipilihin spesial sama guru, karena adek Ketua OSIS! Nggak tahunya pas nyampe rumah, isinya urat semua! Secuil pun nggak ada dagingnya! Ya gimana adek nggak kesellah, mbak! Adek tahu kok yang disiapin buat adek itu atinya sapi qurban!” urai Gilang.

“Itulah yang akhirnya ngebuat adek jadi kurang bersyukur sama rejeki yang diterima! Karena ngerasa kalau sebenernya adek kebagian ati, bukan urat! Maka mbak buat bakso urat ini asin, supaya adek ngebrengoh! Nyadar diri!” tanggap Dinda. Panjang lebar.

“Terus kenapa harus dibuat asin kayak gini baksonya, mbak?!” ucap Gilang. Tak melanjutkan makan baksonya.

“Ada filosofinya itu, dek! Hiduplah seperti garam, secukupnya aja! Maksudnya ya tetep bersyukur dengan yang dikasih Allah! Dan tetep membumi! Jangan karena Ketua OSIS, adek ngerasa perlu dan selalu diutamain! Biasa-biasa ajalah hidup ini!” kata Dinda. Menasihati.

“Jadi adek harus belajar dari setiap kejadian ya, mbak! Biar nggak gampang lupa diri!” tutur Gilang. Merendahkan hati.

“Kita semua emang harus terus ngasah diri, dek! Nguatin kepribadian! Jangan bangga karena dipuji! Jangan tumbang karena dihina!” kata Dinda.

“Ya tapi kan wajar sih mbak adek kesel! Masak jatah daging ati adek dituker sama urat!” ucap Gilang.

“Seringkali kehidupan ini nggak butuh permintaan pengertian, dek! Jadi jangan biasain berwajar-wajar untuk ngebenerin sikap kita yang emang nggak wajar! Adek harus pahami bener kalau musuh yang paling bahaya adalah yang berpura-pura jadi kawan! Dan kepahitan yang paling besar adalah berharap kepada sesama manusia!” urai Dinda.

“Jadi kalau ngadepin kejadian kayak kemarin ini adek mesti gimana, mbak?” tanya Gilang.

“Tetep bersyukur! Belajarlah mensyukuri apa yang ada! Bukan meratapi apa yang ada! Belajarlah mensyukuri apa yang sudah terjadi! Bukan meratapi apa yang sudah terjadi!” kata Dinda lagi.

“Tapi susahlah mbak mau bisa nerimo gitu aja!” sela Gilang.

“Inget ya, dek! Dengan keyakinan, buat segalanya jadi mungkin! Dengan harapan, buat segalanya jadi indah! Maka itu, jadilah orang yang sederhana dalam ucapan, tapi hebat dalam tindakan! Jadilah orang yang sederhana dalam penampilan, tapi luar biasa dalam pencapaian!” tutur Dinda. Memotivasi.

“Tapi emang kemarin waktu motong qurban itu adek nggak mood bener, mbak! Kawan-kawan banyak yang lakunya aneh-aneh! Kali karena kelamaan sekolah di rumah ini ya? Bikin adek nggak nyamanlah pokoknya!” ujar Gilang.

“Sudah saatnya adek selektif dalam semua hal! Jangan denger yang nggak perlu didenger! Jangan lihat yang nggak perlu dilihat! Jangan ngomong yang nggak perlu diomongin! Dan nggak usah cari tahu yang nggak perlu kita tahu! Simpel aja kok sebenernya mau tenang dalam hidup ini, dek!” jelas Dinda.

“Jadi ngasih garam banyak-banyak di bakso urat ini cara mbak ngajarin adek soal kehidupan ya? Cerdik juga ternyata mbak ini!” ujar Gilang. Sambil mengacungkan dua jempol ke Dinda.

“Filosofi garam itu kan jelas, dek! Secukupnya aja! Kalau sedikit ngasihnya, kurang gurih! Kalau kebanyakan, mblenger! Dan cuma orang-orang berhati bersih aja yang bisa dapet pelajaran dari setiap proses kehidupan yang dijalani!” ucap Dinda seraya mengambil mangkok lain berisi bakso urat yang dimasak dengan garam secukupnya dan langsung menyodorkannya ke Gilang. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *