25 views

Bicara Sembako

“MBAK, kok urusan bagi-bagi sembako yang bisa ngebantu warga di situasi sulit gini, malah dilarang-larang ya? Aneh juga ya, mbak?!” kata Gilang selepas membaca berita online soal pembagian sembako dua bakal calon walikota Bandarlampung.

“Kalau soal itu tinggal kita ngeliatnya dari sisi mana, dek!” sahut Dinda. Cuek.
“Maksudnya gimana sih? Wong adek nanya kok mbak malah balik tanya?!” sela Gilang.

“Lha iya, yang adek pengen tahu itu dari sudut mana! Dari kacamata politik! Dari sisi sosial kemanusiaan atau agama!” kata Dinda.

“Dari semuanya aja deh, mbak! Biar dapet pencerahan!” ucap Gilang. Dengan semringah.

“Kalau dari kacamata politik, sosialisasi orang yang mau maju di panggung politik, emang harus dilakuin, dek! Karena ada fatsun; tak ada kata yang salah dari menang dan kalah! Yang salah itu ketika ngarepin kemenangan tanpa mau berjuang!” ujar Dinda.

“Jadi sebenernya ya boleh-boleh ajakan sosialisasi itu, mbak? Soal dengan ngebagi sembako atau voucher buat isi kuota, kan taktik aja itu!” tanggap Gilang.

“Sosialisasi atau ngenalin diri ke rakyat itu wajib buat yang mau nyalon di pilkada, dek! Malah salah kaprah kalau dia ongkang-ongkang kaki aja di rumah!”

“Soal ngasih sembako atau voucher kuota gimana, mbak?” tanya Gilang.
“Ya boleh-boleh aja, dek! Sepanjang nggak ngasih barang terlarang!” sahut Dinda.

“Lha tapi faktanya, agenda sosialisasi bagi sembako dua bakal calon walikota dilarang sama camat dan lurah, mbak! Kayak mana ini?!”

“Pelarangan itu nggak berdasar, dek! Karena belum masuk tahap pendaftaran, para bakal calon nggak terikat dengan aturan KPU sebagai pelaksana pilkada! Jadi ya boleh-boleh aja! Tentu karena sekarang lagi pandemi Covid-19, tetep ikuti protokol kesehatan! Sederhana aja kok soal ini mah, dek!” urai Dinda.

“Terus kenapa camat dan lurah ngelarang ya, mbak? Dasarnya apa?” tanya Gilang lagi.

“Konkretnya mbak nggak tahu, dek! Tapi mbak inget omongan Confucius, filosof asal China! Kata dia: kalau kepalanya lurus, bawahannya tak akan berani tidak lurus! Gitu aja deh intinya!” kata Dinda. Tersenyum penuh arti.

“Kalau dari sisi sosial gimana bagi-bagi sembako ini, mbak?!”

“Its oke, dek! Bagus itu! Berbagi kepada sesama! Ngebangun suasana kebersamaan yang baik! Dan dalam kondisi susah sekarang ini, adanya bagi-bagi sembako itu sangat ngebantu sesama! Juga akan perbaiki ekonomi rakyat!” kata Dinda.

“Jadi positif ya dari sisi sosial, mbak!” kata Gilang.

“Positif sekali, dek! Dan yang kayak gini yang diharepin Mendagri Tito Karnavian: pilkada bisa ngebantu bangkitnya ekonomi rakyat! Karena ada transaksi ekonomi buat nyiapin sembako-sembako yang dibagiin itu! Dan lain sebagainya!”

“Sekarang dari sisi agama, gimana mbak?” tanya Gilang.

“Sebenernya urusan ngebagi makanan kayak sembako ini sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim, dek!” sahut Dinda.

“Oh ya..? Yang bener dulu, mbak! Adek baru tahu ini lo?!” ucap Gilang. Setengah tak percaya.

“Iya, beneran ini, dek! Nabi Ibrahim itu dikenal dermawan! Terbiasa menjamu tamu! Setiap hari dia ngebagi makanan buat warga yang dateng ke rumahnya! Dia sebenernya asyik-asyik aja ngelakuin kepedulian sosialnya itu! Sampai suatu saat ada peristiwa yang ngebuatnya terhenyak!” jelas Dinda.

“Peristiwa apa itu, mbak?” ucap Gilang. Penasaran.

“Jadi kan gini, dek! Setiap Nabi Ibrahim ngasih makanan ke warga, dia selalu tanya; apakah kamu menyembah Allah? Kalau warga itu ngejawab: iya, akan dikasih makanan! Sampai suatu saat ada orang Majusi dateng! Pas ditanya Nabi Ibrahim apa dia nyembah Allah, Majusi itu melengos! Malah langsung balik badan!” lanjut Dinda.

“Terus kayak mana kelanjutannya, mbak?!” kata Gilang. Kian penasaran.

“Allah langsung menegur Nabi Ibrahim! Kata Allah: 50 tahun orang itu kafir, Aku terus kasih dia makan! Kenapa kamu yang baru mau sekali kasih makan saja sudah nuntut macem-macem! Gitu teguran Allah pada Nabi Ibrahim!”
“Waduh, terus apa yang dilakuin Nabi Ibrahim setelah ditegur gitu, mbak?!” tanya Gilang lagi.

“Buru-buru Nabi Ibrahim ngejer orang Majusi itu, dek! Minta maaf! Orang Majusi itu keheranan, kenapa Nabi Ibrahim minta maaf! Diceritainlah kalau dia ditegur Allah karena nggak berbagi makanan pada si Majusi! Akhirnya orang Majusi itu malah ikut Nabi Ibrahim! Berbaiat menyembah Allah!” urai Dinda.

“Subhanallah..! Jadi sedalam itu etika dan makna berbagi sembako sesungguhnya ya, mbak! Emang mbak tahu dari mana soal bagi sembako Nabi Ibrahim ini?!” kata Gilang.

“Mbak baca-baca buku agamalah, dek! Dan emang ada di Alqur’an! Surat Az-Dzariyat ayat 24 sampai 27!” ujar Dinda.
“Nah, ke depan kan pasti bagi-bagi sembako bakal makin rame, mbak! Karena makin deket pilkada! Gimana nurut mbak?” tanya Gilang.

“Mbak cuma mau bilang gini, dek! Hati itu punya nalarnya sendiri! Tapi nalar, tak punya hati! Terjemahin aja sendiri!” ucap Dinda sambil beranjak dari tempat duduknya. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *