15 views

Bicara Robot

“LUAR biasa bener Pak Jokowi ini, mbak! Selalu nyampein kekecewaannya pada para menteri setiap adain rapat terbatas! Nggak pernah dia ngalemin anak buahnya!” kata Gilang.

“Namanya bos ya harus gitu, dek! Ngasih tekenan terus ke anak buah! Biar kerjanya maksimal!” sahut Dinda. Kalem.

“Tapi ya nggak perlu terus-terusan ngenilai anak buah nggak maksimal gitulah mbak! Apalagi ukuran nilainya perhari! Emangnya robot semua itu para menteri!”

“Emang apa kata Pak Jokowi, dek?” tanya Dinda.

“Dalam rapat terbatas penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional di Istana Kepresidenan, Senin kemarin, dia ungkapin kekeselannya -bisa juga kebingungannya- karena jajaran menteri dinilainya terjebak pada pekerjaan harian! Nggak tahu prioritas yang harus dikerjakan! Dana yang disiapin 695 Triliun juga baru terserap 20% atau 141 Triliun! Jadi untuk kesekian kalinya Pak Jokowi marah dan kecewa, mbak!” urai Gilang.

“O gitu, kok tadi adek ngomong soal robot, kenapa?!” sela Dinda.

“Ya kalau ukuran Pak Jokowi ngenilai anak buahnya kerja maksimal apa nggak, cuma dalam hitungan hari dan jam, pakai aja robot! Jangan pakai manusia!” kata Gilang.

“Kenapa gitu, dek?!”

“Kalau robot kan emang nggak punya rasa lelah, mbak! Robot yang berasal dari bahasa Ceska; -residents official board of technology- itu artinya pekerja atau kuli yang nggak punya rasa lelah! Kalau masih manusia, ya pasti ada lelahnya! Makanya kurang arif dan bijaksana kalau di setiap rapat dengan menteri -yang dia pilih sendiri-, cuma marah, kesel dan kecewa aja! Kayak selama ini pada tidur semua anak buahnya itu!” ucap Gilang. Panjang lebar.

“Itu kan salah satu gaya pemimpin, dek! Nunjukin kesel dan ngenilai anak buah belum kerja maksimal itu, sebenernya, cara dia ngebangun tembok! Biar kekecewaan rakyat nggak nyampe ke badannya!” sahut Dinda.

“Ilmu ngeles gitu ya mbak maksudnya?!” sela Gilang.

“Iya, semacam itulah, dek! Dengan gaya itu kan rakyat akan ngenilai kalau nggak jelasnya penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional itu karena para menteri belum kerja bener! Nah, dengan selalu ngumbar kecewa atas kinerja belum maksimal anak buahnya itu, Pak Jokowi tetep dapet nilai plus di mata rakyat!” ucap Dinda. Sambil tersenyum.

“Tapi bisa jadi emang para menteri itu yang nggak maksimal kerjanya, mbak! Nggak bisa ngimbangi maunya Pak Jokowi!” kata Gilang.

“Adek jangan lupa! Pak Jokowi itu pengusaha lo! Pengusaha mebel yang sudah ekspor kemana-mana! Jadi bukan pengusaha kaleng-kaleng!”

“Maksudnya kayak mana sih, mbak?!” tanya Gilang.

“Pengusaha itu kebanyakan emang bukan orang pinter, dek! Tapi pinter nyari orang-orang pinter! Jadi, sebenernya, para menteri itu orang-orang pinter semua!”

“Lha terus kenapa kok kesannya Pak Jokowi nyuruh kerja anak buahnya kayak robot gitu, mbak!” kata Gilang lagi.

“Karena dia ngebalik pepatah Jawa: koyo kali keilangan kedhunge, pasar keilangan kumandhange! Seperti sungai kehilangan lubuk, pasar kehilangan gema!”

“Dibalik gimana maksudnya, mbak?!” ucap Gilang. Terheran.

“Kali tetep ono kedhunge, pasar rame kumandhange! Sungai tetep ada lubuknya, pasar rame gemanya! Makanya Pak Jokowi terus usrek kalau nyangkut Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional ini, dek! Biar rakyat tetep ngeliat kalau dia bener-bener konsen buat ngurusin rakyatnya!” urai Dinda.

“Tapi kenyataannya yang kena virus Covid-19 terus nambah, mbak! Mulihin ekonomi rakyatnya malahan dengan jajaran pejabat lakuin dinas luar biar anggarannya ke sebar ke daerah-daerah! Gimana coba itu?!” kata Gilang.

“Adek pahami ya! Ada dua penyebab kegagalan itu! Selalu mikir tapi nggak bertindak! Dan selalu bertindak tapi nggak mikir! Nah, mbak nggak tahu, kita di posisi mana sekarang!” ucap Dinda.
“Adek tahu, mbak! Karena sekarang lagi disebar virus robot! Yang penting kerja, kerja dan kerja! ” sahut Gilang sambil tertawa ngakak. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *