69 views

Bicara Kudeta

“MBAK, kenapa sih mesti ada kudeta? Kan semua hal bisa dibicarain baik-baik,” kata Gilang pada Dinda.

“Sebenernya nggak mesti juga ada kudeta, dek! Banyak perbaikan kehidupan yg berjalan dengan baik sesuai mekanismenya kok!” sahut Dinda.

“Ya tapi kenapa masih ada kudeta? Ini persoalannya, mbak?!” sela Gilang.

“Kudeta itu kan buat ngerebut kekuasaan, dek! Intinya kan itu! Kayak yang lagi terjadi di Myanmar sekarang ini! Kenapa kekuasaan harus direbut? Ya karena memang nggak pernah terjadi ada yang ngasihin kekuasaannya gitu aja, dek!” jelas Dinda.

“Jadi karena pengen kekuasaan, harus kudeta ya, mbak?” tanya Gilang.

“Nggak harus gitu juga sih, dek! Banyak cara-cara lain sesuai mekanisme yang ngaturnya!” ucap Dinda.

“Kalau aturannya nggak buka peluang ada kudeta, kayak mana?” ujar Gilang lagi.

“Ya nggak bisalah, dek! Hidup ini kan ada tatanannya! Urusan kekuasaan pun ada aturannya! Ya ikuti aja aturannya! Jangan nyeleneh, apalagi sekadar mau jadi trending topic!”

“Kenapa harus ada kudeta kalau aturannya nggak bolehin, mbak?” kata Gilang.

“Kudeta itu akibat dari sebuah sebab, dek! Bisa jadi orang sudah terlampau jengah dengan pemegang kekuasaan! Yang gunain kekuasaannya buat kepentingan dirinya dan kelompoknya aja! Atau karena kehidupan rakyat makin hari makin susah! Makin nyungsep! Makin nelongso! Ngopo-ngopo wes ora iso!” urai Dinda.

“O gitu, mbak! Berarti kudeta itu sebuah peristiwa yang terjadi untuk perbaikan ya? Yang bentuknya lewat perebutan kekuasaan! Gitu kan?!” tutur Gilang.

“Ya, simpelnya kayak gitulah, dek! Nawaitunya gitu! Soal realisasinya, waktu yang akan buktikan!”

“Kalau apa yang disebut kudeta itu masih dalam wacana! Masih obrol-obrolan! Masih cek sound kanan-kiri! Itu bisa masuk klasifikasi kudeta apa nggak, mbak?!” kata Gilang.

“Itu sih tergantung ngeliatnya aja, dek! Bagi yang berjiwa demokratis dan kuat kepemimpinannya, yang kayak gituan adalah dinamika! Bukan ancaman atas kekuasaannya! Justru suplemen menguatkan kepemimpinan!” jelas Dinda.

“Tapi itu ada kelompok yang riuh-rendah karena ancaman kudeta? Kayak mana itu, mbak?!” seru Gilang.

“Ya nggak apa-apa, dek! Mungkin beriuh-rendah itu kebutuhan politiknya kelompok tersebut saat ini! Meski jangan lupa juga: seringkali kebutuhan politik berubah menjadi kesalahan politik! Ini yang kadang dinafikkan orang, karena keseriusannya mikirin kudeta!” kata Dinda sambil tersenyum. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *