47 views

Bicara KPB

“MBAK, bagus juga ya sekarang ada perhatian ekstra buat petani di Lampung,” kata Gilang pada Dinda, pagi tadi.

“Apa emangnya, dek?” tanya Dinda.

“Ada program kartu petani berjaya alias KPB!” ucap Gilang.

“Emang apa hebatnya itu kartu ya, dek?!” sela Dinda.

“Bukan soal kartunyalah, mbak! Tapi programnya!”

“Emang apa programnya?!”

“Intinya ya buat ngangkat kehidupan rakyat petani! Urusan dari hulu ke hilir bakal ditangani dengan lebih concern lagi! Harapannya lewat KPB ini harkat martabat petani kita ke depannya akan terangkat baik!” urai Gilang.

“Ya, apapun itu, sebagai rakyat kita patut dukung program pemerintah, dek! Soal prioritasnya buat petani, nelayan atau elemen apapun, itu hal lain! Cuma nurut mbak, ngangkat kehidupan petani itu nggak cukup dengan memainkan kartu aja lo!” sahut Dinda.

“Kartu petani berjaya itu kan istilah aja sih, mbak? Program nyatanya ya pasti adalah di lapangannya!” kata Gilang.

“Iya, mbak juga paham kok, dek! Persoalannya banyak lo untuk urusan KPB ini sebenernya! Nggak sesederhana yang dipikirin pejabat-pejabat di pemprov itu!”

“Emang apa persoalannya, mbak?” sela Gilang.

“Banyaklah, dek! Nggak yakin mbak program ini bakal sukses seperti yang ditargetin!”

“Lho, kok pesimis gitu to! Kata mbak, sebagai rakyat, kita harus dukung program pemerintah! Ini belum apa-apa sudah pesimis gini?!”

“Ngedukung itu kan nggak mesti ikut arus aja kan, dek! Ngeritik, ngasih saran bahkan berdebat itu kan bagian dari dukungan juga! Berbeda ekspresi itu lazim-lazim aja kok! Jangan apriori gitu dong nanggepin perbedaan!” ujar Dinda.

“Iya adek paham, mbak emang orang yang berjiwa dan berpikir demokratis! Jadi nggak baperan kalau berbeda pandangan! Tapi biasanya kan orang kalau sudah pegang jabatan, sulit mau terima masukan apalagi kritikan, mbak?!”

“Ya biar aja, masing-masing kita kan punya karakter, dek! Kita yang kakak adek sekandung aja beda gini kok!”

“Ya udah, terus persoalan KPB itu nurut mbak ada dimana?!” kata Gilang, menyela.

“Sederhana aja kok sebenernya, dek! Tujuannya kan ngangkat kehidupan petani biar lebih baik to? Ya simpel aja; pemprov beli hasil produksi petani -misalnya gabah- dengan harga diatas biaya yang dikeluarin petani! Hasil pembeliannya dijual lagi ke luar daerah! Kan banyak BUMD yang bisa digerakkan! Sederhananya gitu aja! Kalau mau detailnya, ya kita buka diskusi dengan pejabat terkait, dek!” urai Dinda.

“Kalau itu mah susah diwujudin, mbak? Paling juga subsidi pupuk!” tanggap Gilang.

“Adek jangan lupa, soal pupuk subsidi ini permasalahan yang nggak akan ketemu ujungnya! Kebutuhan pupuk buat petani padi di negeri ini dalam 1 tahun itu 23 juta ton! Paling yang bisa disiapin pemerintah cuma 9 juta ton doang! Ini Menteri Pertanian Yasin Limpo yang bilang waktu hearing dengan DPR kemarin! Jadi kalau prioritas KPB juga cuma di soal pupuk, bakalan ambyar deh itu program!” jelas Dinda.

“Jadi nurut mbak, kayak mana ngebuat program KPB itu sukses besar?” tanya Gilang.

“Mbak juga nggak tahu, dek! Mbak kan nggak pernah ngebahas soal itu sejak awal, masak sok tahu! Yang pasti, program KPB ini sudah jadi: new dreams, new hopes, new expriences and new joys buat petani kita! Jangan kuburkan semua itu hanya oleh kekurangpahaman pejabat utamanya karena mereka bisanya manggut-manggut sok paham aja di depan Gubernur!” kata Dinda, panjang lebar.

“Jadi Gubernur harus turun langsung gitu ya, mbak?” ujar Gilang.

“Pastinya ya gitulah, dek! A leader leads by example, not by force! Seorang pemimpin itu memimpin dengan memberi contoh, bukan dengan kekerasan!” tutur Dinda sambil acungkan jempolnya. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *