49 views

Bicara KPB Lagi

“MBAK, ternyata program kartu petani berjaya alias KPB itu sudah sukses lo?!” ucap Gilang saat baca suratkabar, pagi tadi.

“Nggak bener itu, dek! Wong program itu baru dijalanin kok! Baru bagi-bagi kartu dan sosialisasi, masak sudah sukses to! Salah baca kali adek itu!” sahut Dinda sambil meneruskan sarapannya.

“Bener kok, mbak! Nyatanya Pak Gubernur sudah dapet penghargaan! Yang ngasih organisasinya wartawan lagi! Kan nggak mungkin dikasih penghargaan kalo belum terwujud dengan baik programnya, mbak!” jelas Gilang.

“Adek nggak cermat bacanya! Penghargaan yang dikasih ke Gubernur itu dia sebagai inisiator program KPB! Bukan ngomongin realisasi programe! Kayak mana to adek ini!” kata Dinda setelah membaca isi suratkabar ditangan Gilang.

“Oalah, jadi penghargaan ke Gubernur itu karena dia penggagas alias inisiator to, kirain karena program KPB-nya sudah jalan dan sukses besar! Lagian kan ada pengamat pembangunan yang bilang kalo program itu sebenernya bukan idenya Gubernur lo, mbak!”

“Adek, siapa aja bisa punya ide! Punya gagasan! Tapi inget, 100 ide cemerlang pun kalo nggak ada pemegang kekuasaan yang respek dengan ide itu, ya nggak bakal terwujud! Jadi nggak pas kalau nyoalin pelahir ide!” ucap Dinda.

“Ya tapi kan ide orang juga harus dihargai, mbak?” sela Gilang.

“Soal etika kayak gitu ya pasti adalah, dek! Tapi kan nggak perlu digembar-gemborin! Dan pelahir ide, siapapun itu, bakal bangga dan seneng gagasannya dipakai! Lagian, kalo program ini jalan dengan baik, pelahir ide juga dapet pahala! Apalagi yang ngewujudinnya, nggak cuma dapet penghargaan tulus dari rakyat, juga pahala besar!” jelas Dinda.

“Tapi Gubernur nanggepin omongan pengamat itu lo, mbak! Gubernur bilang kalo KPB itu ide dia!”

“Ya masuk akal juga, dek! Gubernur itu kan sarjana pertanian! Dan lahir sebagai anak petani! Saat jadi ASN, pernah lama juga ngurusin pertanian! Jadi ya pahamlah dia dengan dunia pertanian! Nggak heran mbak! Cuma emang dalam soal KPB belakangan ini ada yang ngeheranin aja buat mbak, dek!” kata Dinda, panjang lebar.

“Oh ya, apa yang ngeheranin buat mbak?” tanya Gilang.

“Biasanya penghargaan itu diberikan pada pihak-pihak yang sudah nyata ngewujudin ide atau programnya! Tapi ini di Hari Pers Nasional, PWI Lampung kasih penghargaan atas lahirnya sebuah gagasan yang jadi program unggulan Gubernur! Nggak kebayang, gimana kalo nanti realisasi program itu nggak maksimal! Apa berarti idenya yang salah ataukah ngelaksanainnya yang kurang pas!” urai Dinda.

“Jadi sebenernya penghargaan itu kurang pas ya, mbak!”

“Ya kalo nurut mbak sih gitu, dek! Karena kalo ide atau inisiatif yang dihargai, seharusnya banyak yang perlu dikasih penghargaan! Kayak di Pesawaran ada ide bupati setiap desa punya objek wisata! Ini luar biasa dampaknya buat perkembangan wilayah dan ekonomi rakyatnya! Dan banyak lagi ide-ide hebat dari 14 kabupaten-kota di Lampung ini! Tapi ya tentu itu kewenangan pimpinan di PWI, mereka pasti punya pertimbangan sendiri! Dan nggak lepas dari kepentingan-kepentingan politik pastinya!”

“Yang ngeheranin mbak yang lain masih ada nggak?!” lanjut Gilang.

“Masih, dek! Yaitu sikap Gubernur yang sampai ngerasa perlu nanggepin omongan pengamat pembangunan kalo KPB itu bukan ide dia!” ucap Dinda.

“Emang bijaknya kayak mana, mbak? Dicuekin aja ya?!”

“Ya mestinya biarin aja orang mau ngomong apa! Karena 100 ide cemerlang pun kalo Gubernur nggak mau pakai, kan nggak bakal terwujud!”

“Gubernur kan dikenal ekstra responsif, mbak! Jadi nggak aneh kalo dia ngerasa perlu kasih tanggepan!” kata Gilang.

“Ya bagus ekstra responsif itu, dek! Tapi eloknya pada hal-hal yang nyangkut kepentingan rakyat dan daerah! Tapi kalo yang nyenggol pribadi, sebaiknya diabaikan! Itu akan lebih mengena!” sahut Dinda.

“Ngomong-ngomong, si pengamat pembangunan yang belakangan banyak mengkritisi itu, infonya kan dulu hopeng berat Gubernur, mbak!”

“Semua juga tahu soal itu, dek! Mbak nggak mau komentar kalo itu! Cuma mbak inget kata filosof Ibnu Abi Ashim: sungguh hati anak Adam itu lebih cepat berubah daripada getaran ketel di saat mendidih! Dan buat pengamat pembangunan, mbak perlu sampeiin omongan filosof Romawi, Cicero: amicus certus in re, incerta cernitùr! Sahabat sejati itu dikenal di saat-saat sulit!” tutur Dinda seraya bangkit dari duduknya dan membawa piring kotor bekas sarapannya ke dapur kotor. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *