33 views

Kanti : Saya Ndak Mau Ngerepotin Anak Cucu

HARIANFOKUS.COM – Mendapatkan pekerjaan yang layak adalah impian semua orang. Beragam profesi di geluti guna mencapai taraf hidup yang lebih baik. Bahkan ada yang nekad melakoni pekerjaan yang kurang terpuji demi memenuhi kebutuhan hidup. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Sukanti yang rela berjibaku dengan terik matahari dan pekatnya debu jalanan demi mempertahan kejujuran sebagai modal hidup paling utama.

Sukanti hanyalah seorang pedagang burung keliling yang saat ditemui wartawan harianfokus.com sedang beristirahat menepi di pinggir JL. Sultan Agung, Way Halim, Bandarlampung. Wajahnya saat itu nampak terlihat kelelahan dengan napas yang tersengal-sengal. Kakek dari 8 cucu yang kerap disapa Pak Kanti ini, baru saja usai berkeliling Bandarlampung menjajakan dagangannya.

Tak terasa waktu semakin cepat berputar, sepuluh tahun sudah Kanti berdagang burung keliling ditemani sepeda motor bebek tua kesanyangannya “ Sudah 20 tahunan saya berjualan burung keliling, biasanya saya keliling kota Bandarlampung dari pagi sampai malam. Sebelum berjualan burung saya nuking,” tutur Kanti, Selasa (12/1/2016) seraya membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya, petanda dirinya sedang dilanda kehausan,

Pria bertempat tinggal di daerah Teluk Betung, Bandarlampung ini menawarkan beberapa jenis burung yang sangat terjangkau harganya dirinyapun sangatlah sedikit mengambil laba dari hewan dagangannya. ” Saya jual burung yang murah-murahan aja. Burung jalak, cecek jenggot dan cecak raja. Biasa saya jual dari harga Rp. 50 Ribu – Rp. 100 Ribu. Ndak mau ambil untung banyak-banyak, yang penting cukup untuk makan saya dan istri saja,” ujarnya.

Kanti yang tak sanggup menjual burung primadona yang sedang trend karena terbatasnya modal ini pula mengungkapkan bahwa diusia yang semakin beranjak tua ini dirinya tidak mau merepotkan anak-anaknya, oleh sebab itulah dirinya sekuat tenaga menahan panas dan letih setiap harinya. Tak jarang keringat Kanti terbuang sia-sia oleh karena tak ada satu orangpun yang membeli burung kicaunya.

“Kalau penghasilan ya ndak tentu kaya hari ini aja belom ada yang laku, kalau ada pembeli paling satu dua aja. Saya masih kerja karena ndak mau ngerepotin anak cucu, biar uang mereka (anak-anaknya) untuk sekolahin cucu biar jadi orang (sukses). Tuhan masih kasih saya nafas, itu tandanya saya sebagai kepala keluarga masih harus kerja, ndak nadah sama anak, apalagi sampai nipu atau nyolong,” ungkapnya. (sdm)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *