52 views

Debat Kandidat Calon Pilkada Tuba Diwarnai Protes

HARIANFOKUS.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tulangbawang  menggelar debat kandidat calon kepala daerah, bertempat di Gedung Kartini, Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kecamatan Menggala, Sabtu (26/11).

Dalam debat kandidat yang di gelar KPU Tuba ini, sempat terjadi sedikit ketegangan, antara masyarakat dengan penyelenggara. Pasalnya,”Debat Publik” yang dilakukan itu, masyarakat tidak diperkenankan memberikan tanggapan kepada pasangan calon.

Hadir dalam acara debat kandidat yang dimulai pukul 14.10 WIB ini. Kepala Badan Kesbangpol Tuba, Yen Dahren. Dandim 0426 TB, Letkol Artileri Kusfiandar. Ketua DPRD Provinsi Lampung, Dedi Afrizal. Ketua Panwaslu Tuba, Komi Pelda. Komisioner KPU Tuba yakni, Reka Punnata, Rudi Antoni, Feriyanto, Hernantori dan Ahmad Faisol, serta ratusan pendukung dari 3 Calon Bupati Tuba.

Diketahui, debat kandidat calon kepala daerah akan dilakukan sebanyak tiga kali, yang tak lain dalam rangka menyambut pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Tuba, dan yang pertama saat ini untuk calon bupati, sementara selanjutnya nanti akan untuk calon wakil bupati dan setelah itu baru berbarengan debat kandidat calon bupati dan wakil bupati.

Berikut ketiga nama dan nomor Pasangan Calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Tuba periode 2017 – 2022. Nomor urut 1, Syarnubi – Sholiha (Bisa). Nomor urut 2, Hanan A Rozak – Heri Wardoyo (Handoyo). Nomor urut 3, Winarti – Hendriwansyah (Win-Hendri).

Dalam sambutannya, Komisioner KPU Tuba Bidang Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Humas, Hernantori, mewakili Ketua KPU Tuba, Reka Punnata, yang sekaligus membuka secara resmi kegiatan debat kandidat, mengatakan bahwa debat kandidat merupakan tahapan kampanye, yaitu penyampaian visi – misi dan program masing-masing calon bupati.

“Tujuan debat kandidat ini adalah merupakan hal yang sangat penting, karena masyarakat akan mengetahui cara apa yang akan dilakukan oleh para calon jika kelak terpilih, seperti bagaimana meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan Kabupaten Tuba. Meningkatkan pelayanan dan partisipasi publik dalam menyelesaikan persoalan Kabupaten Tuba. Dan bagaimana melakukan keserasian pembangunan Kabupaten Tuba, terhadap pembangunan Provinsi, Nasional, guna memperkokoh NKRI,” jelas Hernantori.

Sebagai Moderator debat publik calon bupati Tuba kali ini, adalah Prof Dr. Erina Pane, yang berasal dari Akademisi Universitas Lampung (Unila). Ia memandu berlangsungnya penyampaian visi – misi ketiga calon, dan memoderator debat kandidat antar calon maupun mengatur para calon agar ketika menjawab pertanyaan yang telah disiapkan oleh pihak KPU Tuba dan pertanyaan antar Paslon dapat secara tertib dengan batasan waktu yang telah ditentukan.

Pertanyaan yang telah disiapkan oleh KPU Tuba itu dalam bentuk surat tertulis, dengan pemilihan pertanyaan melalui pengundian, pertanyaan itu berasal dari berbagai sumber, mulai dari Rektor ataupun Dosen Universitas yang ada di Provinsi Lampung, hingga para pengamat dan pakar, hukum, ekonomi, budaya, pemerintahan dan lain-lain.

Calon Nomor urut 1, Syarnubi, mendapat salah satu pertanyan yakni seputar Ekonomi, yakni terdepat potensi pengembangan wisata, alam sejarah wisata di kecamatan Menggala Kabupaten Tuba, akan tetapi mengapa investor belum tertarik, bagaimana solusinya.

“Untuk menarik para investor agar bisa mengembangkan potensi ekonomi wisata alam sejarah di Kecamatan Menggala. Imej wajah Kota Menggala yang menyeramkan harus terlebih dahulu di rubah, dengan menjamin keamanan, keselamatan dan kenyamanan orang dari luar Kecamatan Menggala saat berkunjung,” Jawab Syarnubi.

Sementara, Nomor urut 2, Hanan A Rozak, mendapat salah satu pertanyaan seputar dunia Pendidikan, bagaimana sasaran pondasi apa yang dapat membuat ilmu Pendidikan mampu untuk membangun Tuba.

“Pemerintah harus mampu menciptakan komponen pendidikan, mulai dari sarana prasana, sumber daya manusia dan tentu muridnya sendiri, barulah menghasilkan kenyaman. Dan agar dunia pendidikan mampu selaras membangun Kabupaten Tuba, para tenaga pendidik harus berasal dari wilayah sekitarnya,” Jawab Hanan.

Sedangkan nomor urut 3, Winarti, mendapat salah satu pertanyaan tentang pentingnya budaya bahas Lampung.

“Saya sangat setuju jika pendidikan bahasa Lampung jadi prioritas, karena pendidikan bahasa Lampung sangat penting, sebab dapat mempertahankan kebudayaan lokal bahasa Lampung, dan terkait hal ini akan di lakukan perubahan di segala bidang. Untuk mendapatkan guru bahasa Lampung, itu tidak sulit, karena di Lampung banyak Universitas jurusan itu,” jawab Winarti.

Selanjutnya, dalam sesi tanya jawab saling lempar pertanyaan antar para calon. Yang didebatkan adalah mengenai bagaimana solusi menjaga kearifan budaya lokal, sampai ke persoalan konflik perusahaan PT. BNIL, hingga ke persoalan harga Singkong.(saidi)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *