37 views

Dingin-Dingin Dimandiin..!

TIDAK seperti biasanya, sambil mandi pagi tadi Gilang bersenandung. Sayup-sayup terdengar lengkingan suaranya dari kamar mandi: Dingin-dingin dimandiin jadi masuk angin..!

“Dek, cepatan mandinya, ini kok malah nyanyi-nyanyi!” tegur Dinda sambil mengetuk pintu kamar mandi.

“Sabar, mbak! Masih sabunan! Lagian, biasanya mbak mandi lama juga enggak pernah adek ketuk-ketuk pintunya!” balas Gilang dari dalam kamar mandi.

“Sejak kemarin kan cuacanya mendung melulu! Ujan terus! Jadi dingin! Nanti kelamaan di kamar mandi malah sakit lo!”

“Kan adek sambil nyanyi-nyanyi, jadi enggak kerasa dinginnya, mbak! Lagian seminggu kedepan, cuaca di daerah kita memang lagi akan banyak hujan, mbak! Jadi ya nyantai ajalah!”

Tak lama kemudian Gilang keluar kamar mandi dengan badan bergetar kedinginan.

“Tu kan, apa mbak bilang! Adek pasti kedinginan! Sini mbak kasih minyak kayu putih badannya biar anget!” ujar Dinda sambil mengoles minyak kayu putih ke badan Gilang.

“Terimakasih mbak cantik! Kalau mbak perhatian gini, senang adek!” kata Gilang yang spontan mencium dan memeluk Dinda.

“Apaan sih adek ini! Lebay! Tadi adek bilang seminggu kedepan cuaca daerah kita akan banyak hujan itu kata siapa? Jangan sok tahulah!” ketus Dinda.

“Adek baca koran, mbak! Itu prediksi BMKG! Nah, adek bayangin, akan banyak anak-anak jatuh sakit nantinya, meriang! Akan banyak orang tua yang kambuh rematiknya!”

“Ah, sok tahu kamu itu, dek!”

“Beneran lo, mbak! Kalau cuaca enggak ceria begini, akan banyak yang sakit! Itu sudah alamiah mbak!”

“Ah, itu omongan ngarang, dek! Tubuh kita itu dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan cuaca, dek! Jadi mau terus redup, hujan deres atau panas terik, enggak bakal banyak pengaruhnya! Justru dengan cuaca yang selalu mendung begini, banyak membawa kebaikan bagi orang-orang yang mampu membaca tanda-tanda zaman!” urai Dinda.

“Maksudnya apa, mbak?” tanya Gilang sambil berpakaian.

“Bagi mereka-mereka yang memaknai cuaca mendung kayak sekarang-sekarang ini sebagai tanda-tanda zaman, iya akan menjauhkan dari praktik-praktik kekerasan, bersikap panas-panasan dalam kehidupannya! Sekarang ini kan lagi banyak yang terjebak dalam situasi panas, dek!”

Wong lagi musimnya mendung dan hujan kok panas-panasan, marah-marahan, ya enggaklah, mbak?!”

“Adek kok enggak percaya sih! Itu di Lampung Timur, soal mau membahas APBD aja masuk dalam suasana panas lo! Antara legislatif dan eksekutif lagi saling bersitegang! Tensi politiknya memanas!” jelas Dinda.

“Kok bisa ya, mbak! Mestinya kan cuaca alam membawa pengaruh psikologis bagi kita-kita yang manusia?!” kata Gilang.

“Mestinya ya begitu, dek! Dengan cuaca yang selalu mendung, yang seringkali turun hujan, bisa meredakan kalau sedang dilanda amarah atau pertentangan! Tapi memang hanya orang-orang tentu saja yang bisa memaknai perubahan cuaca sebagai ayat-ayat Tuhan! Karena sesungguhnya, tiada sia-sia apapun yang tengah terjadi dalam kehidupan! Tinggal bagaimana kita bisa memetik maknanya serta menyadari bahwa diatas langit ada langit!” (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *