118 views

Belajar Dari Nelayan Jepang

SEPULANG dari membeli ikan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Lempasing sore tadi, Gilang tampak tidak antusias. Padahal dia yang punya ide ingin membeli langsung ikan hasil tangkapan saat nelayan ke daratan.

“Kok kayaknya enggak happy gitu sih, dek! Kan maunya beli ikan langsung dari hasil tangkapan nelayan kita sudak mbak ikuti!?” kata Dinda.

“Ikannya kebanyakan sudah mati, mbak! Sudah enggak segar lagi kirain adek ya masih hidup, masih gelepar-gelepar!” sahut Gilang.

“Ikan-ikan itu masih segar semua, dek! Kan baru turun dari kapal nelayan! Cuma memang sudah mati, karena nelayan kan bisa lima sampai seminggu di lautan! Yang pentingkan tetap segar dan layak dimakan!”

“Kenapa kalau hasil tangkapan ikan nelayan daerah lain sampai di daratan masih banyak yang hidup, mbak? Mungkin nelayan kita harus juga belajar dari sesamanya di daerah lain, mbak?”

“Ya proses saling tukar pengalaman itu pasti terjadi dengan sendirinya selama ini, dek! Hanya kita saja yang enggak tau! Banyak faktor yang juga harus dipertimbangkan, mulai dari lamanya melaut, kesiapan sarana untuk menjaga agar ikan tangkapan tetap hidup maksimal, sarana es batu untuk menjaga kesegarannya, dan banyak lainnya! Tentu hal-hal semacam itu patut juga jadi pertimbangan, dek!”

“Gimana caranya agar ikan hasil tangkapan nelayan kita tetap hidup sampai daratan walau berhari-hari di lautan ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Άda pelajaran dari nelayan Jepang sebenarnya, dek! Mbak pernah dengar ceritanya!” ujar Dinda.

“Gimana ceritanya, mbak?!”

“Kita kan tahu, orang Jepang itu pemakan ikan terbesar di dunia! Ikan-ikan yang masih hidup adalah favorit mereka! Sejak ribuan tahun lalu, nelayan di Jepang sudah menemukan pola yang sangat baik, bahkan masih banyak digunakan para nelayan sampai sekarang!”

“Apa polanya, mbak?!” kata Gilang penasaran.

“Untuk membuat ikan hasil tangkapan di laut lepas bertahan hidup sampai di daratan, mereka memasukkan ikan hiu kecil di gentong-gentong tempat ikan tangkapannya!” jelas Dinda.

“Dikasih ikan hiu kecil, mbak? Maksudnya untuk apa?!”

“Begini, ikan-ikan hiu kecil itu jadi pemacu semangat kehidupan ikan-ikan hasil tangkapan! Ikan hiu kan punya naluri pemangsa, jadi mereka menggigit-gigit ikan hasil tangkapan nelayan yang ada di gentong tersebut! Karena dalam posisi terancam kehidupannya, maka ikan-ikan itu terus bergerak, berjuang untuk tetap hidup! Mereka berusaha sekuat tenaga untuk tetap bisa bertahan atas upaya ikan-ikan hiu kecil untuk membunuh mereka! Dengan pola ini, akhirnya mayoritas ikan tangkapan nelayan tetap hidup sampai di daratan!” urai Dinda.

“O gitu, mbak? Kalau sebelum pakai pola dimasukkan ikan hiu kecil itu, nelayan Jepang pakai apa, mbak?!”

“Ya tradisional saja, dek! Maka banyak hasil nelayan yang sudah mati sesampai di daratan! Tentu dengan kondisi begitu, harga pun turun! Setelah memakai pola ikan hiu kecil, harga ikan jadi naik dan nelayan Jepang pun makmur sejahtera kehidupannya!” kata Dinda.

“Wah, asyik juga ya, mbak! Kayaknya banyak pelajaran yang bisa kita petik dari gaya nelayan Jepang itu ya?!” tutur Gilang.

“Maksud adek apa ya?!”

“Ya itu tadi, karena ada tantangan,ada cubitan, ada ancaman, ikan-ikan yang ada di gentong akhirnya berjuang untuk tetap menjaga kehidupannya! Pada hakekatnya, kita semua kan juga begitu, mbak! Di saat ada ancaman terhadap posisi kita, kehidupan kita, prestise kita, baru kita tergerak untuk berjuang mempertahankan kehidupan!” ucap Gilang.

“Iya juga sih, dek! Masalahnya sering kita mengabaikan, menyepelekan bahkan menyederhanakan ancaman yang ada, sehingga kita tidak tergerak untuk bereaksi mencari solusi!”

“Baru akan terdadak-dadak setelah tahu kalau ternyata ikan hiu yang dimasukkan dalam gentong kehidupan itu adalah hiu besar dan bukan ikan hiu kecil lagi ya, mbak?!” sela Gilang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *