143 views

Mengarang Bebas

SESAMPAINYA di Alun-Alun Kota Jogjakarta, Dinda mengajak Gilang buru-buru berteduh dibawah sebuah pohon beringin.

“Ngapain mbak duduk disini?” tanya Gilang setelah duduk dibawah sebatang pohon beringin tua yang rindang.

“Mbak lupa, dek! Mbak belum buat karangan untuk dipentaskan di acara malam nanti!” jawab Dinda.

“Kan cuma acara temu kangen keluarga aja sih, mbak! Ngapain buat cerita atau karangan?!”

“Ya siapa tau nanti disuruh menceritakan bagaimana kehidupan kita selama ini, dek! Jadi mbak sudah punya tulisannya!”

“Alah mbak, ngarang-ngarang aja ntar kalau emang mbak disuruh maju mewakili keluarga kita! Nyantai ajalah, ngapain pakai buat karangan segala!” tutur Gilang.

“Ya kalau sudah buat tulisan, karangan, kan lebih enak nyampeinnya, dek! Lebih sistematis, lebih bagus tata bahasanya, dan bisa terangkum dalam sedikit catatan apa saja yang layak untuk disampaikan!” ucap Dinda.

“Mengarang bebas aja sih, mbak? Bukan untuk pentas dalam sebuah lomba ini!” kata Gilang.

“Ya enggak gitu juga kali, dek! Mbak kan ntar mau mewakili keluarga kita, masak ngarang bebas, enggak pantaslah!”

“Mbak, sekarang ini eranya orang demen mengarang bebas tahu! Pokoknya, apa aja yang ada dipikirannya, dituangkan gitu aja ke medsos dan sebagainya! Enggak pakai mikir lagi apakah karangannya itu akan berdampak baik atau buruk, yang penting nyeplos-nyeplos aja!”

“Nah, itu yang enggak boleh, dek! Kalau bahasa sekarang, itu yang disebut dengan ujaran-ujaran kebencian! Ujaran-ujaran pembunuhan karakter! Ujaran-ujaran desktruktif! Ujaran-ujaran yang keluar jauh dari sikap kewelas-asihan! Itu jangan diikuti, dek! Kalau misalnya kita mau mengkritik atau bahkan menyerang pemimpin, serang dan kritiklah kebijakannya yang kurang pas! Jangan sekali-kali menyerang pribadinya! Kita tetap harus memegang teguh totokromo, unggah-ungguh, teposeliro dan welas asih!” urai Dinda.

“Alah, mbak! Pikiran kayak mbak ini sudah kadaluarsa! Enggak bisa dilakuin dalam kehidupan sekarang! Itu budaya masa lalu!” ketus Gilang.

“Adek, sebagai anak bangsa, kita memang harus mengikuti perkembangan zaman dengan segala pernak-perniknya! Tapi jangan melupakan dimensi kemanusiaan kita! Kita ini anak-anak bangsa yang berbudaya, yang sudah diwarisi tata aturan nilai-nilai kehidupan yang humanis, yang membuat kehidupan adem ayem! Jangan karena takut dicap sebagai anak kurang gaul, terus kita ikuti alur pikir dan deretan kepribadian modern yang tidak selaras dengan nafas kita sebagai anak bangsa yang beretika!”

“Jadi ngomong-ngomong, kapan mbak mau mengarangnya ni?!” sela Gilang.

“Ya ini, sambil kita ngobrol inilah, dek! Mbak bayangin itu kambing-kambing yang digembala bapak tua dipojokan!” ucap Dinda sambil menunjuk seorang bapak tua yang ada di sudut Alun-Alun.

“Memangnya kenapa, mbak?!”

“Mbak bayangin, betapa sekarang ini teramat banyak sesama kita yang kayak kambing-kambing itu, dek! Dikasih makanan rumput kering aja sudah kesenangan dan mau mengikuti apapun perintah sang penggembala! Iya kalau sang penggembalanya berperilaku baik, kalau dia punya watak semaunya saja, kan kasihan kambing-kambing yang tidak berdosa itu!”

“Ya biar ajalah, mbak! Kambing kan hewan, enggak punya otak dan perasaan! Jadi enggak bakal protes terhadap apapun yang dimauin sang penggembala!” kata Gilang.

“Inilah kesalahan mendasar kita semua, dek! Tanpa sadar acapkali¬† meremehkan hewan karena tak berotak dan tak berperasaan! Sedang perilaku kita sendiri pun sering kali sama saja, tapi karena keegoisan, kita enggak pernah mau disamakan dengan hewan! Jadi sekarang saatnya kita menunjukkan bila kita memang manusia yang sesungguhnya, sesuai dengan fitrah yang dititahkan Tuhan, bukan manusia yang berkehewanan!” sahut Dinda sambil mengambil kertas dan pulpen dari tasnya untuk mulai menulis dibawah rindangnya pohon beringin tua. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *