81 views

Ketimun Bongkok

SAMBIL menemani belanja sayuran di Pasar Way Halim, pagi tadi, rupanya Gilang punya perhatian tersendiri pada penjaja ketimun.

“Aneh, kok pada sama semua ya..! Ketimun yang bentuknya bulet pendek disingkirin!” kata dia dalam hati.

Karena penasaran, perkataan dalam hatinya disampaikan ke Dinda.

“Aneh ya, mbak! Kok timun yang bentuknya bulet pendek disingkirin di pinggiran tempat jualan, nggak disatuin sama timun-timun yang lurus panjang!” ujar Gilang.

“O, itu ya, dek! Itu namanya ketimun bongkok!” sahut Dinda.

“Maksudnya apa kok disebut ketimun bongkok, mbak?!”

“Itu istilah di pedagang sayuran aja, dek! Sebutan untuk timun yang bentuknya bulat pendek!”

“Kok tempatnya juga dijauhin dari timun-timun lain yang bagus-bagus, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya karena bisa dibilang itu timun nggak ada yang mau beli, dek! Pembeli kan pasti milihnya yang bagus-bagus! Yang lurus dan panjang! Yang bongkel-bongkel atau buntek-buntek, kan nggak ada yang mau! Biar nggak ngerusak suasana, yang timun bongkok disendiriin!” jelas Dinda.

“Jadi nggak laku dong ketimun bongkok itu, mbak?!”

“Hampir bisa dibilang memang nggak ada yang mau beli, dek! Namanya pembeli kan pasti milih yang bentuknya bagus-bagus! Tapi justru ketimun bongkok itu sebenarnya punya nilai tersendiri lo, dek!”

“Maksudnya apa, mbak?!” tanya Gilang.

“Biasanya kan pembeli selalu minta ditambahi apa yang dibelinya! Nah, tambahannya itu sama penjual dikasihlah timun-timun bongkok itu, dek! Jadi, peran si bongkok itu adalah penyenang hati sang pembeli!” kata Dinda.

“Tapi masak iya sih nggak ada yang mau beli ketimun bongkok itu, mbak?”

“Ya sebenernya ada aja sih, dek! Bagi para pembeli yang ngutamain timunnya ya tetep mau beli walau bentuknya nggak bagus! Tapi kan kita tau, kalo para pembeli itu maunya yang kelihatannya bagus luarnya, dek! Padahal ketimun bongkok itu lebih gurih dibanding timun biasa yang kelihatan luarnya bagus-bagus!”

“Kalau tau sebenernya ketimun bongkok lebih gurih dan segar, kenapa jarang orang mau belinya ya, mbak? Aneh juga ya..?!” sela Gilang.

“Penyakit manusiawi itu kan selalu silau dengan penampilan, dek! Begitu lihat tampilannya mentereng, bersih tanpa cacat langsung saja menyimpulkan itu yang terbaik! Padahal kan nggak selalu begitu! Kita kan nggak pernah tau kalo dibalik tampilannya yang menarik mata itu isi dalemnya sudah berulatan!” ujar Dinda.

“Anehnya, kok pedagangnya nggak mau kasih tau kalo timun bongkok itu sebenernya lebih segar dan gurih, mbak? Kok malah disingkirin dari sesama timun lainnya yang tampilannya sempurna ya..?!”

“Bagi pedagang itu yang penting maunya pembeli diladeni aja, dek! Yang penting kan dagangannya laris manis! Biar keuntungannya berlipat! Kalo ada yang minta tambahan, dikasihlah si ketimun bongkok itu!”

“Jadi siapa yang mau beli ketimun bongkok itu, mbak? Kan nggak mungkin nggak dijual sama pedagangnya, bisa rugi nanti malahan?!”

“Ya dijual kepada pembeli yang tidak silau oleh penampilan luar, dek! Yang tau persis apa yang dibutuhkannya! Artinya, yang mau beli dan gunakannya ya orang-orang yang sadar betul kalo yang dibutuhkannya adalah timun, bukan bentuk lahiriyah dari ketimun itu sendiri! Jadi sebenernya, keberadaan ketimun bongkok itu spesial! Harga lebih murah tapi rasanya lebih segar dan gurih! Sayangnya, jarang orang yang ngehargainya!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *