188 views

Main Cantik

SELEPAS nonton pertandingan futsal persahabatan sore kemarin, tak henti-hentinya Gilang menyesalkan permainan timnya yang berakhir dengan kekalahan.

“Bingung sendiri adek, mbak! Tim yang adek dukung sudah main dengan maksimal sesuai instruksi pelatih, masih kalah juga!” keluh Gilang sambil duduk melamun di tepi lapangan.

“Namanya pertandingan, ya ada yang kalah dan menang, biasa aja lagi, dek!” sahut Dinda.

“Iya sih, tapi kan mbak liat sendiri, tim yang adek dukung kan menguasai permainan! Bahkan bisa dibilang mereka benar-benar bermain dengan menunjukkan kelasnya sebagai tim handal didukung permainan individu yang juga bagus-bagus! Nggak habis pikir adek, mbak! Bermain begitu cantik kok malah ujung-ujungnya kalah!” sambung Gilang masih dengan nada penyesalan.

“Memang bener sih, tim yang adek dukung memang mainnya cantik! Maka penonton juga sering bertepuk tangan untuk mereka! Tapi dalam pertandingan kan yang dihitung hasil akhirnya, dek! Menang atau kalahnya!” timpal Dinda.

“Kali karena keasyikan main cantik itu makanya nggak bisa ngegol-ngegolin juga yang berakhir dengan kekalahan ya, mbak?!”

“Iya, itu masalahnya, dek! Tim dukungan adek itu amat menjaga ritme permainan, mempertontonkan keindahan akselerasi kemampuan individu dan kekompakan tim saja! Padahal, di era sekarang ini, main cantik itu nggak ngaruh, dek! Yang penting itu ngegolin atau wujudin apa yang jadi harapan!” ucap Dinda.

“Jadi era sudah berubah ya, mbak! Nggak perlu main cantik lagi ya..?!”

“Iya dek! Nggak perlu lagi main-main cantik itu! Sekarang era pragmatisme! Gimana caranya menang, itu aja yang jadi pikiran banyak orang! Nggak peduli main tekel, main dorong, yang penting akhirnya menang!”

“Wah, jadi nggak asyik lagi dong nonton pertandingan berkelas sekalipun! Jadi ngapain pelatih ngajari anak didiknya jadi pemain hebat kalo akhirnya dikalahkan oleh pragmatisme!” kata Gilang.

“Adek perlu tau ya, untuk jadi pemain utama pun sekarang ini ukurannya bukan kualitas! Tapi bisa nggak nyeneng-nyenengin pelatih! Bawain pelatih buah tangan, main ke rumah pelatih bawa makanan! Bahkan kalo perlu ajak anak pelatih nonton atau berenang pada hari libur! Membangun kedekatan dilampiri dengan pemberian-pemberian itu yang utama sekarang ini, dek!”

“Duh, sampe segitunya ya, mbak?!” ketus Gilang.

“Iya, dek! Makanya sekarang ini banyak orang merasa nggak perlu lagi nunjukin tanggungjawab dalam pekerjaan misalnya, dengan prestasi-prestasi bagus, dengan perfect atau kedisiplinan tinggi! Ya sekadarnya aja kalo jalanin tugas, toh akhirnya juga kalah dengan orang-orang yang memberi sesuatu secara rutin kepada atasan! Hal semacam ini sudah membudaya lo, dek! Jadi jangan heran kalo ada pameo; nggak ada jabatan yang gratis! Karena ukurannya siapa yang bisa bayar, bukan siapa yang selama ini bekerja dengan maksimal!” urai Dinda panjang lebar.

“Wah, bakal semakin rusak dong mental bangsa kita, mbak! Katanya kan sekarang eranya revolusi mental!”

“Iya sih, revolusi mental ya bener, dek! Tapi kenyataan di lapangan kan nggak begitu! Tapi jangan kecil hati ya, dek! Mau dikubur gimana juga, kalo emas ya tetap akan terpancar kilaunya! Sebaliknya, yang jadi pemain inti berkat ‘pembeliannya` pasti akan membebani tim dan menimbulkan masalah nantinya! Kita tonton aja dagelan sebagian sisi kehidupan ini! Sambil dalam hati kita berucap: Emang Gue Pikirin!” kata Dinda sambil tertawa. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *