26 views

Memilih Kucing

“ADUH, mbak! Ngapain lama bener sih? Sudahlah, mana yang mbak kepengen, ya beli aja!” ujar Gilang saat temani Dinda ke sebuah pets shop, sore tadi.

“Kalo mau beli kucing, jangan buru-buru milih dan memutuskannya, dek! Kita harus cermati bener dan fahami rasnya! Jangan asal milih dan beli aja!” balas Dinda yang masih bolak-balik memperhatikan belasan ekor kucing dalam kandangnya.

“Memangnya beda ras, beda bentuk dan perawatannya ya, mbak?!”

“Ya iyalah, dek! Kan banyak bener ras kucing itu! Mulai dari persia, maine coon, norwegia forest, birman, sphynx, siamese, scotish fold, american curl sampai ke kucing bengal!” jelas Dinda.

“Wah, banyak bener ya aneka kucing ras itu, mbak! Terus mbak mau milih yang mana?!”

“Itu baru sebagiannya aja, dek! Masih banyak ras-ras lain di dunia perkucingan! Yang tadi itu ras paling terkenal! Mbak kan masih milih, jadi belum tau mau beli yang mana nanti!”

“Beli yang ras sphynx aja, mbak?!” kata Gilang.

“Ngapain, dek? Adek tau nggak, kucing jenis sphynx itu nggak berambut alias gundul! Kucing hairless! Jadi yang keliatan ya langsung kulitnya aja, dek! Kan ngeri malahan!” jelas Dinda.

“Tapi kata pegawai pets shop ini, banyak lo yang beli kucing jenis sphynx, berarti kan keren, mbak?!”

“Masing-masing orang kan beda selera, dek! Kalo mbak nggak mau, geli dan ngeri ngeliatnya! Kalo kata temen mbak yang punya kucing sphynx, kucing ini makin menarik kalo sudah punya lipatan kulit yang berkerut-kerut! Tapi mbak tetap nggak suka, dek!”

“Kalo nggak mau sphynx, yang american curl aja, mbak! Pasti lebih keren, karena kucingnya orang amerika sana!” ujar Gilang.

“Iya sih, ras ini memang lumayan jadi buruan penggila kucing, dek! Dia punya ciri khas telinganya kriwil alias keriting! Waktu lahir, ya biasa aja, begitu umur 10 hari mulai ada perubahan kontur kupingnya!”

“Nah, antik berarti, mbak? Ya sudah, kucing ini aja yang dipilih, mbak?!” sela Gilang.

“Sabar dong, dek! Kuping keriting itu nggak seterusnya, dek! Cuma sampai usia empat bulan aja, setelahnya ya kayak biasa lagi kupingnya! Persis kayak kucing yang lain!”

“Gimana kalo kucing bengal, mbak? Kayaknya jarang yang punya lo jenis ini!” sambung Gilang.

“Memang sih, kalo bicara tampilan, kucing bengal ini keliatan macho, dek! Warna rambutnya sangat khas, cerminan leopard, jaguar dan macan tutul!”

“Berarti keren banget itu, mbak? Memangnya kucing bengal itu asalnya darimana sih, mbak? Tau nggak, mbak?!”

“Si bengal ini dikembangkan dari persilangan kucing domestik dengan Asian Leopard Cat, yang dilakukan pertama kali oleh Jean S Mill pada 1963 lalu, dek! Kucing ras ini bisa dilatih sopan santun, memiliki sifat aktif, ingin tau dan suka ketinggian, tapi nggak galak, dek!” urai Dinda.

“Jadi, sebenernya yang mau mbak pilih itu kucing apa sih? Sudah berjam-jam lo kita di pets shop ini, mbak!” ketus Gilang.

“Ya mbak belum mutusin, dek! Sabar dong…!!” sahut Dinda.

“Sudah, gini aja, mbak! Mau kucing ras apa aja, nggak penting! Mau ada bulunya atau gundul sekalipun, lebih nggak penting lagi! Adek inget kata Om Adi; yang penting kucing itu bisa nerkem tikus! Jadi sekarang kita pulang!” kata Gilang sambil menarik tangan Dinda keluar dari pets shop. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *