83 views

Groundbreaking

BOLAK-balik Gilang memperhatikan spanduk kecil lusuh yang masih terpasang di pojok jalan menuju ruas pembangunan jalan tol. Tulisan itu adalah: Groundbreaking.

“Mbak, apa sih maksudnya kata groundbreaking itu?” tanya Gilang pada Dinda saat sore tadi jalan-jalan ke wilayah sabah balau.

“O itu, dek! Maksudnya di lokasi ini dulunya tempat peletakan batu pertama penanda pembangunan jalan tol trans sumatera oleh pak presiden!” kata Dinda.

“Kok pakai kata groundbreaking gitu, mbak?!”

“Ya biar lebih keren aja, dek! Biar tampil beda aja! Kalo pakai kalimat peletakan batu pertama kan memang sudah biasa! Mungkin karena ini proyek luar biasa, jadi ya harus pakai sesuatu yang beda juga!”

“Memangnya istilah groudbreaking dari mana sih, mbak? Kok belakangan jadi ngetrend di era presiden sekarang?” ucap Gilang.

“Menurut sepengetahuan mbak, istilah itu pertama kali dimunculkan oleh Donald Trump bersama timnya, dek! Waktu itu Trump masih bisnisman murni, belum jadi Presiden Amerika!”

“Maksud sebenernya apa dengan memakai kata groundbreaking itu, mbak?!”

“Istilah itu untuk menggambarkan sesuatu yang baru dan inovatif dalam konstruksi gedung baru yang akan dibangun! Itu kisahnya, dek!” kata Dinda lagi.

“O gitu ya, mbak? Tapi kenapa istilah groundbreaking itu belakangan dipakai juga dalam pidato-pidato pejabat saat memotivasi jajarannya?!” ujar Gilang.

“Ya sebenernya sih nggak apa-apa, dek! Intinya kan kepada sesuatu yang baru dan inovatif! Itu kan bukan hanya dalam urusan pembangunan fisik tapi juga mental! Memang sekarang ini diperlukan keberanian untuk berpikir di luar tempurung alias out of the box! Harus punya kemauan, keberanian sekaligus kesiapan untuk melakukan hal-hal yang ekstra, yang mungkin bagi banyak orang sesuatu yang tidak lazim!”

“Misalnya kayak apa, mbak?!”

“Yang sederhana aja, karena adek merasa sudah tak ada tantangan lagi bermain di klub futsal sekarang ini, adek pindah ke klub lain yang masih baru tapi adek yakini akan berprospek ke depannya! Adek nggak takut ninggalin klub adek yang selama ini jadi juara untuk bergabung dengan tim lain yang nurut pandangan adek bisa jadi juara nantinya! Itu namanya sisi lain dari penggunaan semangat groundbreaking!” beber Dinda.

“Wah, kalo itu mah namanya berjuang dan berlatih keras dari awal lagi dong, mbak?!” sela Gilang.

“Disini kualitas kesiapan mental memang dipertaruhkan, dek! Bagi orang-orang yang punya mental dan sadar akan memaknai perjalanan kehidupan, justru dia akan selalu mencari sesuatu yang baru untuk berinovatif! Hidup tidak boleh stabil! Harus terus disuasanakan sesuatu yang baru! Ada tantangan baru! Dan jangan takut gagal! Ada pepatah Jerman yang bunyinya begini; ketakutan membuat serigala lebih besar dari pada yang sesungguhnya!”

“Mestinya kepemimpinan juga memiliki semangat groundbreaking ya, mbak?!”

“Semestinya begitu, dek! Karena apapun juga, semua tergantung pada kepemimpinan! Sepiawai apapun bawahan, sampai ke rakyat, kalo pemimpinnya kurang berani menggelorakan sesuatu yang baru dan inovatif, ya semuanya akan berjalan gitu-gitu aja! Nggak akan lahir sesuatu yang baru yang bisa mengembangkan inovasi! Kematian itu kan bukan hanya berpisahnya ruh dengan raga, tapi juga tiadanya keberanian pemimpin melakukan sesuatu yang baru penuh inovasi dalam masanya!”

“Jadi kalo kepemimpinan biasa-biasa aja apapun yang menandai lahirnya bangunan baru nggak akan berpengaruh bagi rakyatnya ya, mbak?!”

“Sudah pasti itu, dek! Maka itu pemimpin harus punya waktu untuk sesekali merenung sendiri! Introspeksi sendiri atas apa yang sudah diperbuatnya! Dialog dengan diri sendiri! Tidak melulu dikitari orang-orang yang membawa pikiran mereka masing-masing! Sehingga semangat groundbreaking yang sesungguhnya bisa diukur oleh dirinya sendiri, bukan selalu memakai masukan orang lain!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *