19 views

Rumah Sakit

SORE kemarin, Dinda mengajak Gilang membezoek temannya yang sedang dirawat inap di sebuah rumah sakit. Baru 5 menit sampai di tempat yang dituju, Gilang sudah berbisik; mengajak pulang.

“Sebentar ya, dek? Nggak panteslah baru nyampe terus pamitan! Basa-basi sebentarlah!” bisik Dinda.

Karena merasa tidak nyaman, Gilang memilih keluar ruang perawatan. Dia tunggu Dinda di pojokan. Sampai sekitar 30 menit kemudian Dinda muncul.

“Lama amat sih, mbak?” ujar Gilang begitu Dinda menggandeng tangannya mengajak meninggalkan kawasan vip rumah sakit.

“Namanya nengok orang sakit itu ya jangan buru-burulah, dek! Yang sakit kan perlu dikasih motivasi agar keyakinannya untuk sembuh terus bergelora! Juga perlu mendengar keluh kesah soal penyakitnya! Itu etika tak tertulis saat mem-bezoek orang sakit, dek!” sahut Dinda.

“Tapi namanya rumah sakit itu kan tempatnya beragam penyakit, mbak! Berbagai virus bisa aja beterbangan saat kita datang! Salah-salah, pas kondisi badan lagi lemah, malahan ada virus yang menyerang! Sakit pulalah kita!”

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Rumah sakit sekarang ini sudah canggih, dek! Sterilisasinya nggak perlu ngebuat takut pembezoek! Liat aja, sarana cuci tangan ada dimana-mana! Bangunannya pun modern semua! Peralatannya juga bagus-bagus! Jadi nggak usah khawatir ketularan!” kata Dinda.

“Iya sih, tapi namanya rumah sakit kan tetep aja rawan dengan penyebaran penyakit, mbak! Makanya adek nggak mau lama-lama di area ini!” sela Gilang.

“Adek tau nggak, yang dirawat di rumah sakit ini adalah orang-orang yang tengah terserang penyakit dan punya keinginan untuk sembuh! Banyak diluaran sana yang sebenernya sakit tapi nggak bisa berobat ke rumah sakit! Ironisnya lagi, mayoritas mereka nggak tau kalo sebenernya mereka itu tengah sakit!” ucap Dinda.

“Karena mereka nggak punya uang untuk berobat ya, mbak? Kan sudah banyak program berobat gratis, mbak?! Tinggal dateng aja ke rumah sakit atau puskesmas!” kata Gilang.

“Bukan itu yang mbak maksud, dek? Kalo yang ada di rumah sakit ini kan jelas-jelas memang sedang sakit, dan si pasiennya sadar kalo dirinya sakit karenanya perlu perawatan untuk sembuh! Diluaran sana, yang nggak masuk rumah sakit, lebih banyak lagi orang yang sebenernya sedang sakit! Mereka sehari-hari bisa aja ngantor di bangunan mentereng, dengan jabatan prestisius, dan kemana aja dia jalan selalu ada pengawalan, disambut dan dihormati banyak orang kalo datang ke setiap acara, tapi sebenernya dia itu dalam kondisi sakit, dek!”

“Ah, adek nggak nyambung yang mbak maksud?!” ketus Gilang.

“Gini lo, dek! Yang namanya penyakit itu ada yang secara lahiriyah terdeteksi, tapi penyakit batiniyah nggak bisa terekam oleh alat secanggih apapun! Nah, yang sakit secara batin ini sebenernya lebih banyak dan berbahaya ketimbang yang menjalani perawatan di rumah sakit!”

“Jadi kalo yang sakit batinnya gimana ngobatinya, mbak?!”

“Obatnya ya pada dirinya sendiri, dek! Pada kesadaran personalnya! Repotnya, yang mayoritas terjangkit penyakit jenis ini adalah kaum pejabat, dek! Penyakit batin ingin meraup semua jabatan itu virus yang paling berbahaya dan itu yang saat ini menjangkiti banyak orang! Penyakit tidak ada puasnya dengan apa yang diperoleh saat ini adalah virus yang akan mematikan! Dan itu nggak bisa diobati di rumah sakit! Kecuali akibat besarnya hasrat dan nggak tercapai, akhirnya kejiwaannya yang terganggu! Baru bisa ditangani secara medis dan dirawatnya di rumah sakit jiwa!” beber Dinda.

“Ih, adek ngeri bayanginnya, mbak! Ngeliat rumah sakit gini aja adek merinding, apalagi bayangin nge-bezoek yang dirawat di rumah sakit jiwa!” sahut Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *