99 views

Komitmen Itu Harga Diri

SEPULANG dari bermain sepeda di klub ‘Genjot Abis’, Gilang tampak kelelahan dengan raut wajah yang menandakan penuh pikiran.

“Abis bersepeda ria dengan teman-teman klub kok malah lesu gini to, dek?! Mestinya, walo capek, wajahnya ya cerialah! Ini kok kayak lagi ada beban gitu! Emangnya ada apa?!” sapa Dinda sambil menyodorkan segelas air putih setelah Gilang mengandangkan sepedanya di garasi.

“Kecapekan aja, mbak! Abis muter jauh bener! Nguras tenaga road show kali ini!” sahut Gilang sambil menenggak air putih yang diberikan Dinda.

“Ya sudah pasti capek mah, dek! Namanya abis ngeguwes sepeda belasan kilometer! Tapi kayaknya capek adek bukan kehabisan tenaga aja deh! Kayaknya ada yang lagi jadi beban pikiran ya?!”

“Kok mbak tau aja sih kalo lagi ada yang jadi beban pikiran adek?” sela Gilang.

“Ya taulah, dek! Mbak itu ngerasain kalo adek ada apa-apa itu! Makanya jangan ada yang ditutupi dari mbak, karena mbak pasti tau, dek! Cerita dong, emangnya apa yang lagi adek pikirin? Kok kayaknya nambah buat adek capek aja!” tutur Dinda.

“Jadi gini, mbak! Tadi waktu kami istirahat di kawasan kebun karet, ketua klub bilang kalo dia mundur dari klub!” Gilang mulai cerita.

“Lho, alasannya apa, dek?!”

“Katanya sih pengen suasana baru aja, mbak! Tapi bukan soal mundurnya itu aja yang jadi pikiran adek sama teman-teman anggota klub, mbak?!”

“Memangnya kenapa…?!”

“Ketua bilang, karena dia mundur, otomatis semua inventaris yang dulu dikasihnya buat klub, mau ditarik! Kan kacau kalau begini, mbak?!” ujar Gilang.

“Emangnya apa komitmennya dulu, dek? Kok bisa gitu aja dia main tarik?! Emangnya anggota nggak partisipasi tah, dek?!”

“Dulu komitnya, dia siapin kantor buat klub, mbak! Emang dia siapin tanahnya, terus kami anggota klub sokongan dan usaha sana-sini buat ngebangun kantor itu! Jadilah bangunannya! Semua kegiatan rapat atau pertemuan-pertemuan selama ini ya di kantor klub itulah! Tapi karena ketua bilang dia mundur, kantor itu mau diambilnya lagi! Alasannya tanah kantor atas nama dia! Kalo klub mau terus pakai kantor itu ya beli aja! Kami kan bingung, mbak!” beber Gilang.

“O gitu ya, dek! Wah, susah juga ya kalo ketemu orang kayak gitu! Padahal semua orang paham, yang namanya komitmen itu adalah harga diri, dek! Jadi kalo ada orang yang nggak teguh pegang komitmennya, berarti diragukan loyalitas dan dedikasinya, dek!”

“Itulah, mbak! Selain mikirin gimana soal kantor klub nantinya, adek juga kepikiran, apa ketua klub nggak nimbang kalo nama besarnya rusak hanya karena mengingkari komitmennya sendiri! Hidup kan masih lama dan dipastikan walo mundur dari klub, dia akan tetap bermain sepeda itulah! Apalah perasaannya kalo semua orang tau karakternya kayak habis manis sepah dibuang gitu!” kata Gilang sambil masuk rumah untuk bersihin badan. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *