30 views

Menjalani Takdir

SEJAK dua hari lalu Gilang tampak gelisah, karena akan ditinggal melaksanakan ibadah umrah. Dia sadar, akan ada sesuatu yang “hilang” dalam kesehariannya selama beberapa waktu.

“Adek jangan gelisah terus jadi nggak tenang ya? Kan sudah biasa kita ditinggal mama sama buya umrah! Berdoa aja yang diperbanyak ya, agar semua kita selalu terjaga!” kata Dinda melalui telepon.

“Ya emang biasa sih ditinggal umrah, mbak! Cuma sekali ini kok rasanya beda ya?!” sahut Gilang.

“Apanya yang beda, dek! Wong di rumah juga ada abang, ada bude, dan ada ayuk-ayuk! Adek kan nggak sendirian!”

“Ya adek ngerasain beda aja sih, mbak? Mungkin karena mbak jauh ya? Jadi adek nggak bisa ngalem-ngalem!” ucap Gilang.

“Jangan lebay, dek! Mbak jauh ini kan buat sekolah! Buat meraih masa depan yang lebih baik! Dan adek perlu tau, mbak merantau ini bagian dari menjalani takdir!” kata Dinda.

“Ah, mbak sok tau deh! Bisa bilang sekolah jauh dari rumah karena menjalani takdir!”

“Lho, kan memang begitu, dek! Kita semua ini sebenernya menjalani takdir lo! Selepas SD mbak harus sekolah di luar kota, merantau dan tinggal di asrama, itu bagian dari takdir mbak, dek! Bukan sekadar mau-maunya mbak aja! Bukan juga karena buya sama mama merestuinya! Tapi memang sudah jalannya begitu, dek! Ada alur takdir yang membawa mbak harus menjalani semua ini!” urai Dinda.

“Jadi kita semua sebenernya tergantung pada takdir ya, mbak?” tanya Gilang.

“Pada hakekatnya begitu, dek! Ada runtutan catatan perjalanan kehidupan seorang anak manusia yang dilukis di lauhil mahfuz sana sejak kita akan dilahirkan! Dan itulah yang akan membawa kita pada kehidupan ini!”

“Takdir itu bisa diubah nggak, mbak?!”

“Bahwa kita harus berjuang untuk menjadi yang terbaik dalam konteks keberadaan sebagai khalifah fil ardh, itu betul, dek! Bahwa kita yang biasa-biasa saja mesti berusaha keras untuk menjadi luar biasa, itu wajib, dek! Tapi jangan mengingkari takdir dengan menyalah-nyalahkan Tuhan! Karena Tuhan tidak akan beruntung dengan kehebatan kita, dan Tuhan juga tidak akan merugi dengan kebodohan kita! Jadi, kita sendirilah yang harus berhitung dengan cermat akan runtutan takdir diri kita sendiri!” ujar Dinda.

“Jadi bisa aja kita sekolah sama, belajar sama, les juga sama, tapi ke depannya berposisi beda ya, mbak?!”

“Iya, bisa itu, dek! Dan selama ini, kalo kita cermati sekeliling kita, hal itu sering terjadi! Itulah takdir, dek! Sesuatu yang harus kita akui kesahihannya setelah kita melakoni perjuangan! Salah juga kalo kita hanya berpasrah diri karena meyakini takdir adalah pengikat segalanya, dek! Berusaha, berjuang, dan selalu baik dengan sesama adalah akumulasi yang harus kita lakukan untuk meraih takdir yang terbaik itu!”

“Jadi kalo adek sudah berjuang, sudah berdoa, sudah berbaik sangka dengan sesama tapi tetep nggak bisa jadi ketua kelas, itulah takdir adek ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Iya, betul itu, dek! Pemahaman bahwa setelah berusaha kita serahkan hasilnya pada Tuhan itulah yang harus dimantapkan di jiwa! Karena kalo berjuang tanpa menyandarkan pada ketentuan Tuhan, apa yang kita lakukan akan sia-sia bahkan bukan mustahil Tuhan akan marah pada kita! Itu sebabnya, keseimbangan dalam kehidupan perlu terus dijaga, dek!”

“O gitu ya, mbak! Adek jadi tau sekarang, kenapa mama sama buya rutin umrah setiap tahunnya, untuk menjaga keseimbangan hidupkan, mbak!” ujar Gilang.

“Iya bener itu, dek! Sekaligus menjalani bagian dari takdir buya dan mama! Karena itu, adek jangan gelisah ya?! Karena posisi adek yang jauh dari mbak di saat ditinggal umrah pun sebenernya juga bagian dari menjalani takdir! Yang ikhlas aja ya dek! Karena dengan keikhlasan itulah semua akan tetap nikmat dijalaninya!” tutur Dinda sambil menutup telepon dan berjanji besok sore akan hubungi lagi adek semata wayangnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *