13 views

Beradu Proposal

SELEPAS mengikuti acara tahlilan menyusul wafatnya Uti (nenek), Dinda bergegas ke kamarnya.

Dia tak lagi membantu yang lain menata kembali ruangan yang dipakai untuk pengajian.

“Mbak, bantu-bantu dululah! Jangan langsung masuk kamar gini! Nggak enak sama saudara-saudara yang bantuin rapihin lagi ruangan!” tegur Gilang.

“Mbak lagi ada tugas dari wali kelas, dek! Besok harus mbak serahin! Jadi izin dulu malem ini nggak ngebantuin ya, dek!” sahut Dinda.

“Emang tugas apa sih dari wali kelas itu, mbak? Kayaknya penting amat!”

“Mbak disuruh pelajari proposal yang masuk ke wali kelas, dek! Kan sebentar lagi mau ada kegiatan sosial oleh kelas mbak! Nah, wali kelas menyuruh yang mau jadi ketua panitia wajib membuat proposal kegiatannya! Ada empat temen yang ngajuin diri, jadi mbak disuruh pelajari proposalnya! Besok diminta catatannya sama wali kelas!”

“O gitu ya! Emang kenapa kayak dilelang gitu buat jadi ketua panitia aja, mbak?” tanya Gilang.

“Biar lebih fair aja, dek! Begitu kata wali kelas! Sebab, selama ini kan wali kelas yang bantu dana setiap ada kegiatan sosial di sekolah, dan dia juga yang nentuin siapa yang jadi ketua panitianya!” ucap Dinda.

“Kalo selama ini dia yang danain dan nentuin siapa ketua panitia, kenapa sekarang kok dilelang gitu, mbak? Pake disuruh buat proposal pula yang mau jadi ketua panitianya?!”

“Kali wali kelas ngubah gaya aja, dek! Dia mau liat siapa yang bener-bener bisa ngemas acaranya dengan bagus! Lagian, semua yang ngajuin diri itu termasuk deket dengan wali kelas! Jadi kali nggak enak hati kalo wali kelas nunjuk salah satunya gitu aja! Maka dipakai proses kayak gini!” ucap Dinda.

“Ya udah kalo gitu mbak! Adek bantu-bantu beresin ruangan tahlilan tadi ya!” kata Gilang sambil ninggalin Dinda di kamarnya.

Besok paginya, saat sarapan, Gilang bertanya pada Dinda: “Jadi apa catatan mbak setelah pelajari proposal semalem?”

“Sederhana aja, dek! Masing-masing dibantu dana 20% dari rencana anggaran kegiatan! Tapi semua buat kegiatan berbeda-beda! Jadi setiap minggu satu kegiatan! Pas sebulan selesai semua!” jelas Dinda.

“Kenapa kayak gitu, mbak?”

“Sebab, target temen-temen yang ngajuin diri itu bukan sukses di kegiatan sosialnya, dek! Tapi mereka mau bersaing untuk jadi ketua kelas pada pemilihan beberapa bulan mendatang! Nah, dengan masing-masing dimodali 20%, kan keliatan siapa yang punya kemampuan dekati temen-temen yang mau milih nantinya! Juga siapa yang mau keluar dana untuk kepentingan pribadinya, nggak semua ngegantungin diri sama wali kelas aja!”

“O gitu to, mbak! Asyik juga ya kalo itu jadi pola juragan yang selalu cawe-cawe dan dicawe-cawe menyambut setiap pilkada ya mbak?!” kata Gilang sambil tersenyum. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *