20 views

Urusan Beras

“MBAK, ayo dong sarapan? Sudah siang ni? Kepala adek sudah sakit lo!” kata Gilang.

“Nah, ini lagi! Urusannya terkait beras juga!” ujar Dinda.

“Wong diajak sarapan kok jawabannya urusan beras lagi sih, mbak?!”

“Adek liat nggak, mbak kan lagi baca koran! Baca berita terkait urusan beras! Ada perusahaan penyalur beras yang diduga ngoplos beras dan diperkirakan merugikan negara sampe triliunan! Kan ini berita besar, dek!”

“Ya segala hal yang ngaitin dengan beras emang jadi perhatian, mbak! Itu bisa dimaklumi, sebab bisa dibilang 95% rakyat Indonesia kan memang makanan utamanya nasi! Nah, nasi itu dari beras!”

“Ya itu adek, terlambat makan nasi sebentar aja kepala pasti pusing! Gitukan dek?!” kata Dinda sambil tersenyum.

“Emang mbak nggak? Sama ajalah! Cuma bedanya, mbak bisa sekali sehari makan nggak pake nasi, kalo adek ya nggak bisa! Kenapa gitu ya, mbak?!”

“Karena sejak bayi, kita sudah dikenalkan nasi sebagai makanan utama, dek! Jadi, perut dan seluruh struktur tubuh kita sudah terbiasa dengan asupannya! Maka nggak usah heran kalo sampai saat ini, kuliner sehebat dan se-modern apapun, kalo mau laris, ya harus menyajikan nasi sebagai salah satu menunya!”

“Iya juga ya, mbak! Pantes aja beragam kuliner luar negeri kurang laris ya karna cuma ngebawa menunya sendiri, nggak ngegabungin dengan nasi!” kata Gilang sambil ngajak Dinda ke meja makan untuk sarapan.

“Faktanya emang gitu, dek! Makanya, segala hal terkait beras, jadi urusan banyak petinggi! Mulai dari penanaman, subsidi benih dan peralatan, sampai ke urusan penjualannya dalam kontrol ketat pemerintah! Sebab ya itu tadi, urusan bahan pangan satu ini nyangkut kehidupan mayoritas bangsa!” jelas Dinda.

“Tapi kalo urusan beras ditangani dengan langsung penyegelan gudang yang berisi ribuan ton kan bisa buat ketersediaan di pasaran berkurang, mbak?! Dampaknya harga beras malah bisa mahal?!”

“Kalo itu teknis atau gaya aparat penegak hukum, dek! Tentu mereka punya polanya! Kita nggak paham! Tapi mbak yakin, nggak bakalan gaya itu ngebuat harga beras jadi naik, pasti ada langkah-langkah lain juga! Yang justru sebenernya harus diutamain itu adalah seringnya beras murah untuk rakyat miskin yang dioplos dengan beras yang sudah kutuan itu lo! Kan sering bener ada berita, beras untuk warga miskin baunya sudah apek, sudah rusak bahkan banyak binatangnya! Tapi kan nggak pernah ada tindakan konkret penanganannya!”

“Iya juga ya, mbak! Padahal, beras itu sangat bermanfaat bagi warga miskin! Kenapa bisa begitu ya, mbak?!”

“Ya itulah fakta, dek! Kalo selama ini banyak pihak menilai penegakan hukum kita masih kurang serius kalo nyangkut orang miskin, ya nggak salah! Walo sebenernya, mau kita miskin atau kaya, ya urusan beras itulah yang seringkali ngebuat kita harus berpikir keras!” lanjut Dinda sambil menikmati sarapannya; nasi goreng dengan ikan asin. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *