59 views

‘Mitsaqon Golidho’

“ADEK, lagi ngapain? Mbak pengen diskusi?!” tulis Dinda via WA-nya kepada Gilang.

“Lagi baca buku, mbak? Telepon aja ya?!” jawab Gilang.

Tak lama, handphone Gilang berdering. “Hai, mbak? Sehat-sehat ajakan?!” sapa Gilang.

“Alhamdulilah, berkat doa adek, mama dan buya, mbak sehat-sehat aja! Semua disini sehat jugakan, dek?!” ujar Dinda.

“Iya, alhamdulilah sehat semua, mbak! Saling doa jangan putus ya, mbak! Karena doa adalah pengharapan terakhir yang bisa kita sampaikan pada Tuhan atas segala hal yang kita inginkan!”

“Iya, dek! Kalo doa mah nggak putus kok! Kan doa itu juga bagian terpenting untuk tetep terjaganya ikatan batin kita! Oh ya, mbak mau diskusi bentar ya?!”

“Oke, soal apa, mbak?” tanya Gilang.

“Sekarang ini, di ruangan asrama mbak kan ada temen-temen yang sekelas dan adek kelas! Kami di satu ruangan! Jadi sering muncul selisih paham dalam urusan yang sepele-sepele sebenernya! Tapi dampaknya jadi ngebuat kurang nyaman, dek!” Dinda memulai cerita.

“Misalnya kayak mana, mbak?!”

“Ya urusan lampu ajalah, dek! Ada sebagian adek kelas yang nggak bisa tidur kalo lampunya terang! Sudah diganti pake lampu tidur! Temen-temen mbak sekelas protes, katanya nggak nyenyak tidurnya karena temaram! Jadi pas waktunya mau tidur misalnya ya, pasti aj timbul suasana yang kurang harmonis! Padahal kami kan satu ruangan, dek!”

“Ya mbak lapor aja ke pimpinan asrama dong?!” sela Gilang.

“Sudah, dek! Katanya mbak yang harus atasi! Gimana dong?!”

“Lho, kok mbak yang harus atasinya?!”

“Kan mbak ditunjuk jadi kepala ruangannya, dek!”

“Oh gitu to, mbak? Adek saranin mbak lakukan pendekatan yang baik aja! Dengan temen-temen sekelas yang lebih senior untuk memahami pembawaan adek-adek kelas! Kepada adek-adek kelas, mbak minta mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan dan gaya yang sudah Ada sejak sebelum mereka masuk asrama!” tutur Gilang.

“Mbak sudah lakuin itu, dek! Bahkan sudah beberapa kali lo! Mbak adain pertemuan nggak formal dan terpisah, tapi masih aja!” ucap Dinda.

“Gini, mbak! Dalam nanganin hal kayak gini, adek inget sepotong kalimat di Alqur’an; mitsaqon golidho! Kita pakai pola agama aja, kan sekolahan mbak berbasis agama!”

“Maksudnya kalimat mitsaqon golidho itu apa, dek?!” tanya Dinda.

“Mbak kan kepala ruangan, jadi yang pas ya
pakai gaya sesuai ajaran Alqur’an itu! Artinya mitsaqon golidho itu berada di pertengahan! Mbak harus bener-bener bisa berposisi di tengah! Menggabungkan yang keras sekaligus lembut!” kata Gilang.

“Oh gitu ya, dek? Kan mbak sudah lakuin lobi-lobi dengan mereka secara terpisah, tapi nggak ada hasilnya, dek?!”

“Diulang lagi, mbak! Dengan satu keteguhan bahwa mbak memakai pendekatan mitsaqon golidho! Nggak cuma mengandalkan kepinteran aja, tapi dilampiri oleh keyakinan kalo yang mbak lakuin itu membawa suara Tuhan yang ada dalam kitab-Nya!” tutur Gilang.

“Emang ada pengaruhnya tah, dek?!” ujar Dinda.

“Mbak, kita ini hidup terdiri dari menyatunya batin dan lahiriyah! Batin itu terkait erat dengan kesadaran akan keberadaan kita di dunia ini sebagai apa?! Itu kan pasti nyangkut Tuhan! Jadi manakala secara lahiriyah sudah merasa terbentur, tak ada salahnya kita merekatkan kebatinan kita dengan sang pemberi tugas kehadiran di muka bumi ini yaitu Tuhan! Ikhtiar lahiriyah mbak sudah cukup, sudah ajak temen-temen bicara dan saling mengalah untuk ketenangan! Nah, perkuat itu dengan langkah-langkah yang merefleksikan keeratan mbak dengan Tuhan! Yakin aja, pasti ada jalan keluarnya!” urai Gilang panjang lebar.

“Adek yakin kalo mbak ajak lagk temen-temen dan adek kelas bicara, bisa selesai masalahnya?!” kata Dinda.

“Insyaallah, mbak! Sebagai pemimpin, sepanjang mbak kukuh memposisikan pada porsi mitsaqon golidho, pasti semua hal ada jalan keluarnya! Karena seseorang dipercaya sebagai pemimpin itu bukan sekadar penunjukan manusia, melainkan peran Tuhan yang lebih besar perannya! Itu sebabnya, sebijak-bijaknya pemimpin adalah yang konsisten menggabungkan ke-Ilahian-nya dan realita di sekitarnya! Gitu ya, mbak?! Insyaallah, Tuhan memberkahi langkah mbak ke depan!” lanjut Gilang sambil menyudahi pembicaraan dengan Dinda via handphone. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *