13 views

Modal Sokongan

“MERIAH acara halal bihalalnya ya, mbak?!” ucap Gilang begitu Dinda sampai di rumah.

“Meriah bener, dek! Ruame! Bukan cuma pengelola sekolah, guru dan murid aja yang dateng, tapi juga para orangtua dan wali murid!” sahut Dinda.

“Wah, luar biasa ya, mbak! Sukses besarlah ya acaranya!”

“Ya, alhamdulilah, dek! Kalo yang dateng emang ngebeludak! Tapi kepala sekolah keliatan nggak ceria dan nggak nyaman, dek!”

“Kok bisa, mbak! Kan acaranya berlangsung sukses dan rame yang dateng, mestinya kan sebagai kepala sekolah ya sukacita dong!”

“Logikanya emang gitu, dek! Tapi malah buat kepala sekolah terkesan malu, dek!” kata Dinda.

“Emangnya kenapa, mbak?!” tanya Gilang.

“Rupanya, kepala sekolah tau pas mau acara kalo seluruh biayanya hasil sokongan para murid, dek! Acara itu kan yang ngegagas OSIS dan kordinasi dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan! Waktu ditanya biayanya gimana, ketua OSIS bilang kalo pake dana kas!” urai Dinda.

“Terus, mbak…?!”

“Ternyata, dana kas cuma sedikit, nggak cukup, dek! Hasil rapat OSIS, masing-masing murid dikenakan kewajiban sokongan! Nah, pas mau acara, ada salah satu wali murid yang cerita sama kepala sekolah! Kagetlah dia! Makanya saat sambutan tadi, berkali-kali dia minta maaf kalo pihak sekolah masih saja memberatkan orangtua murid!” lanjut Dinda.

“Oh gitu to, mbak! Kejadian kayak gitu mah biasa aja kali! Masih untung kepala sekolahnya tau sebelum acara digelar, mbak! ada kegiatan yang ngalami peristiwa semacam itu walo serupa tapi tak sama!” ucap Gilang.

“Oh ya, ada juga ya yang mirip kejadian di sekolah mbak, dek?!” sela Dinda.

“Ada mbak! Ceritanya, beberapa waktu lalu para guru tingkat sekolah menengah atas dan kejuruan kan adain halal bihalal dengan Pak Gubernur! Nah, setiap guru yang mau hadir di acara itu diwajibkan sokongan Rp 10.000 per-orang! Ratusan guru yang hadir, mbak! Ironisnya, Pak Gubernur kan nggak tau kalo acara yang begitu meriah itu modalnya dari sokongan para guru! Pun pimpinan dinas terkait juga nggak ngecek dengan cermat asal muasal dananya! Taunya ya dana kas MKKS aja!” kata Gilang.

“Jadi gimana lanjutannya, dek?!”

“Soal adanya acara halal bihalal para guru dengan Pak Gubernur yang ternyata bermodal sokongan para guru itu, jadi bahasan di media sosial akhirnya, mbak! Baru ramelah masing-masing pihak membela diri! Kalo kepala sekolah mbak kan tau adanya sokongan murid sebelum acara, lha ini jangan-jangan Pak Gubernur sampai sekarang pun nggak tau! Padahal, yang namanya jadi jelek di mata para guru kan beliau! Bahkan di WA kaum guru, kekecewaan mendalam itu diteriakkannya ke Pak Gubernur! Kasiankan beliau! Ini kan sama saja pihak terkait yang ngurus guru nggak peka, nggak ngejaga segala kemungkinan terburuk yang bisa merusak nama Pak Gubernur!” sambung Gilang.

“Wah, kalo kejadian ini mah bener-bener mempermalukan Pak Gubernur, dek! Nggak salah kalo para guru yang kena sokongan untuk acara itu jadi kesel! Apalagi kalo apa yang mereka sumbangkan nggak setara dengan apa yang mereka nikmati selama acara?!” ujar Dinda.

“Bener itu, mbak! Banyak guru yang nyindir-nyindir nggak ngenakin hati! Padahal sudah susah payah Pak Gubernur berbuat untuk menyejahterakan kaum guru! Cuma karena kerja-kerja nggak profesional dan kurang berintegritas, Pak Gubernur yang nggak tau apa-apa jadi sasaran kekesalan!”

“Terus gimana lanjutan cerita ini, dek?!”

“Adek nggak tau, mbak! Yang adek ambil hikmah dari peristiwa semacam ini adalah: kecermatan harus makin ditingkatkan! Karena acara yang bermodal sokongan, ternyata, tak selamanya wujud dari kebersamaan!” kata Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *