30 views

Mengaumnya Serigala

BEBERAPA kali Gilang bolak-balik ke depan pintu kamar Dinda. Berkali-kali pula pintu kamar diketuknya. Tapi tak jua Dinda membukanya.

Akhirnya, dengan perasaan jengkel, didoronglah pintu kamar Dinda. Terbuka. Dilihatnya Dinda tengah berleha-leha di ranjangnya.

“Mbak ini keterlalun lo! Sudah beberapa kali adek panggil, pintu kamar diketuk-ketuk, nggak juga nyahut dan dibuka! Malah kedengeran suara kenceng mbak lagi teleponan! Nggak taunya leyeh-leyeh aja!” ketus Gilang dengan wajah mrengut.

Dinda tertawa, ngakak!

“Kok malah ketawa sih, mbak? Bukannya minta maaf!” ujar Gilang, masih mrengut.

“Mbak sengaja tadi itu, dek! Ngerjain adek aja!” kata Dinda masih dengan ketawa.

“Tu kan? Kelewatan emang mbak itu! Adek panggil mbak kan disuruh mam! Karena mbak nggak juga keluar kamar dan nemuin mama, adek yang ditegur! Jadi mbak tadi itu nggak teleponan ya sebenernya?!”

“Mbak mainan aja sih, dek? Nggak ada maksud apa-apa! Iya, mbak emang nggak lagi teleponan tadi itu! Sengaja aja mbak buat kalo kayak lagi teleponan! Bahkan suaranya mbak kenceng-kencengin!” aku Dinda masih dengan ketawa.

“Sungguh terlalu mbak itu!” sela Gilang dengan nada kesal.

“Ya maaf sih, dek?! Mbak kan cuma bermaksud mainin adek aja, nggak ada niat lain! Maafin mbak ya?!” tutur Dinda sambil mengulurkan tangannya kepada Gilang.

“Ya udah, adek maafin! Tapi lain kali jangan gitu lagi ya, mbak?! Adek kesel tau dimainin kayak gitu?!” ucap Gilang seraya menggenggam tangan Dinda.

“Iya deh, mbak nggak ulangi lagi mainin adek kayak tadi itu?”

“Emang kenapa kok mbak bisa dapet ide mainin adek dengan gaya sok lagi teleponan gitu?” tanya Gilang.

“Mbak lagi mainin gaya mengaumnya sang serigala, dek!”

“Maksudnya apa, mbak?”

“Menurut buku yang mbak baca, auman serigala itu yang paling kuat kedengerannya dibandingkan suara teriakan binatang-binatang yang lain! Katanya, sekali serigala mengaum, sampai radius 10 Km bisa terdengar! Nah, karena suara mengaumnya yang sampai begitu jauh itu, ngebuat binatang lain segera waspada dan menyingkir, ketimbang diterkam serigala!” Dinda menjelaskan.

“Oh gitu ya, mbak? Adek baru tau ini malahan mbak! Hebat juga ya ternyata serigala itu?!” sela Gilang dengan wajah keheranan.

“Mbak juga baru tau tadi, dek! Kan sambil geletak, baca-baca buku, baru tau soal mengaumnya serigala ini! Yang unik itu, dengan jauhnya getaran aumannya itu, ngebuat binatang-binatang lain nyangka kalo jumlah serigalanya banyak, dek! Padahal belum tentu! Bisa jadi cuma satu atau dua ekor aja serigala yang ada di sekitar kawasan tersebut! Cuma karena suara mengaumnya menggema sampai jauh banget, ngebuat yang ndengernya langsung merinding!” urai Dinda.

“Hebat juga ya ternyata serigala itu, mbak! Nggak harus jalan bersama kelompoknya runtang-runtung kayak kebiasaan gajah, tapi bisa ngebuat binatang lain menjauh dan lari lintang pukang! Nah, yang mbak praktekkin tadi itu dengan gaya mengaumnya serigala kayak mana?!”

“Ya setiap adek ngetuk pintu, mbak soknya lagi teleponan! Mbak kenceng-kencengin suara mbak! Kan ngebuat adek akhirnya berbalik badan! Nggak maksain ngetuk pintu kamar melulu!” kata Dinda sambil nyengir.

“Oalah, jadi suara kenceng sok lagi teleponan itu reinkarnasi gaya mengaumnya serigala to? Mbak sungguh terlalu! Lagian apa menariknya dengan mbak baca soal mengaumnya serigala itu ya?!”

“Yang mbak dapetin dari kisah auman sang serigala itu; kita jangan mudah terkecoh dengan gembar-gembor ini dan itu! Cermati aja situasi dengan sebaik mungkin! Pelajari kawasan yang ada dengan merayap! Karena bisa aja, gaya mengaumnya sang serigala dimainkan untuk membuat nyali menjadi ciut! Padahal boleh jadi, suara auman serigala itu dari sebuah rekaman yang dilewatkan pengeras suara dan dibawa keliling dari kampung ke kampung dengan pik-up tua, untuk menakut-nakuti aja!” kata Dinda sambil mengikuti Gilang menuruni tangga untuk menemui mama yang memanggilnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *