19 views

Cacing Hati

“KENAPA ya mbak setiap idul adha pasti aja muncul berita soal adanya penyakit cacing hati pada sapi-sapi yang disembelih sebagai qurban,” kata Gilang, siang tadi.

“Ya karena pada hari raya idul adha kan banyak sapi yang dipotong sebagai qurban dan dagingnya dibagikan ke masyarakat, dek! Jadi, perhatian berbagai pihak terkait dengan urusan penyakit cacing hati itu agak over, sehingga ditemui aj adanya sapi yang terkena penyakit itu!” ujar Dinda.

“Berarti kalo bukan pas idul adha, perhatian pihak terkait dengan adanya serangan penyakit cacing hati itu nggak serius dong?!”

“Ya nggak gitu juga, dek! Tetep adalah inspeksi pengecekan kesehatan sapi yang akan dipotong dan dikonsumsi masyarakat! Cuma mungkin nggak terekspos aja!”

“Kenapa nggak diekspos kalo temuannya memang ada serangan cacing hati, mbak? Masyarakat kan berhak tau, agar mereka terhindar dari menyebarnya penyakit yang menggerogoti hati sapi itu! Konsumsi masyarakat terhadap daging sapi kan cukup tinggi, termasuk hatinya!”

“Seharusnya emang gitu, dek! Temuan hal-hal yang terkait dengan apa yang akan dikonsumsi masyarakat, sudah selayaknya diekspos! Agar masyarakat berhati-hati! Tapi ya gitulah pihak terkait, dek! Cuma keliatan siwek pada moment tertentu aja!” kata Dinda.

“Harusnya ya ada sanksi dong pada pihak terkait, mbak! Jangan cuma ribut soal penyakit cacing hati di saat idul adha aja!” ucap Gilang.

“Bukan urusan kita kalo soal kasih sanksi atau apalah namanya itu, dek! Kalo nurut mbak, kita semua selayaknya mawas diri kenapa soal serangan penyakit cacing hati pada sapi-sapi yang mau disembelih sebagai qurban justru ramainya pada idul adha!”

“Maksudnya gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Kita kan tau, kisah penyembelihan qurban itu dimulai dari adanya perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail! Selama tiga malam berturutan, Ibrahim mendapat perintah tersebut melalui mimpinya! Bisa dibayangkan, betapa galaunya Nabi Ibrahim saat itu! Ismail yang kelahirannya begitu dirindukan harus disembelih! Logika kemanusiaan Ibrahim tentu saja menolaknya! Beruntung, sang istri, Siti Hajar, mengingatkan bila dalam urusan keagamaan banyak hal yang tidak bisa dilogikakan! Dia pun mensupport sang suami untuk menjalankan perintah Tuhan Seru Sekalian Alam!” urai Dinda.

“Terus kaitannya dengan urusan penyakit cacing hati yang kita obrolin apa, mbak?!” sela Gilang.

“Begini, dek! Akhirnya, dengan penuh keikhlasan dan semata-mata karena menjalankan perintah Tuhan, Ibrahim pun bersiap-siap menyembelih Ismail! Melihat keikhlasan dan keteguhan Ibrahim, Tuhan memerintahkan malaikat jibril untuk mengganti sosok Ismail yang juga sudah ikhlas untuk disembelih, dengan seekor domba! Dalam sekelebatan mata, gerakan pisau tajam ditangan Ibrahim pun memotong leher domba tersebut!”

“Iya, itu sejarah qurbannya, mbak? Soal cacing hatinya yang adek tunggu itu?!”

“Nah, disini baru masuk soal cacing hati itu, dek! Hakekat qurban itu kan keikhlasan yang total! Yang semua dilakukan semata-mata karena Tuhan! Bukan karena hal-hal lain! Kenapa penyakit cacing hati ramai dibicarakan saat idul adha aja?” kata Dinda.

“Iya, kenapa, mbak?!” tanya Gilang, tak sabar.

“Ya karena terkait dengan hakekat qurban itu sendiri, dek! Berqurban itu kan harus ikhlas, harus semata-mata karena Tuhan! Sumber keikhlasan itu adanya di hati, dek! Dibalik masalah merebaknya penyakit cacing hati pada sapi sekarang ini, selayaknya kita semua introspeksi; sudah benar-benar ikhlaskah hati kita dalam berqurban semata-mata karena Tuhan?! Biarkan hati kita yang menjawab, tak perlu diucapkan oleh mulut! Jadi, kita nggak usah siwek karena ramainya kabar soal penyakit cacing hati itu! Siweklah kita dengan membersihkan hati dari beragam penyakitnya, utamanya iri dan dengki!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *