50 views

Sedekah Yang Tertolak

SAAT mengerjakan pekerjaan rumah pelajaran agama, Gilang bertanya pada Dinda. “Mbak, ada nggak syarat dalam bersedekah?!”

“Adalah, dek! Emang kenapa?!” sahut Dinda.

“Adek ada tugas sekolah, soal sedekah! Apa aja syaratnya ya, mbak?!” kata Gilang.

“Diantaranya aja ya, dek?! Sebab kalo semuanya, mbak nggak hafal!”

“Iya, nggak apa-apa! Yang mbak tau ajalah!”

“Syarat bersedekah, yang pertama adalah ada sesuatu yang akan disedekahkan! Yang kedua, ikhlas! Yang ketiga, diberikan kepada orang yang memang dirasa membutuhkan atau layak menerima sedekah!” ucap Dinda.

“Terimakasih ya, mbak? Tapi apa juga yang membuat sedekah tertolak, mbak?!” kata Gilang.

“Maksudnya apa, dek?!”

“Apa aja yang bisa ngebuat sedekah itu tertolak amalnya dimata Tuhan?! Gitu lo, mbal?”

“Ya sebaliknya dari syarat memberi sedekah itu, dek? Misalnya, kalo memang belum bisa bersedekah, ya nggak usah maksain diri! Juga kalo nggak ikhlas! Sedekahnya hanya untuk riya atau cari popularitas aja! Gitu juga, di lingkungannya memang bukan orang-orang yang kekurangan secara materi! Jadi, memberi sedekah harus pada orang yang membutuhkannya! Tapi kunci dari semuanya ya ikhlas itulah, dek!” jelas Dinda.

“Oh gitu ya, mbak? Gimana kalo sudah memenuhi syarat tapi sedekahnya ditolak, mbak?!” sela Gilang.

“Maksudnya gimana, dek?!”

“Ada sebuah kisah, saat pemotongan hewan kurban pada idul adha lalu di suatu wilayah, dagingnya tidak boleh dibagikan ke masyarakat sekitar, yang sebenernya ya berhak mendapatkannya!”

“Kok bisa? Yang nggak bolehin membagikan daging kurban itu siapa, dek?” tanya Dinda.

“Menurut kisahnya, yang melarang itu y aparat pemerintah di wilayah itu, mbak?!”

“Emang kenapa dilarang dibagikan daging kurbannya, dek? Apa karena ada penyakit pada hewan yang dipotong atau gimana?!”

“Kalo hewannya sih sehat, mbak? Nggak ada masalah! Alkisah, pelarangan pembagian hewan kurban itu karena asal muasal hewan kurban itu dari seorang tokoh yang mau maju dalam pilkada aja, mbak!” ujar Gilang.

“Astaghfirullah! Kalo kisah ini bener, pelarangan pembagian kurban itu salah besar, dek! Secara agama, yang melarangnya telah melakukan perilaku sosial keagamaan yang berlawanan dengan tata keagamaan! Secara sosial kemasyarakatan, yang melarangnya nyata-nyata telah menghilangkan rejeki bagi masyarakat di sekitarnya! Juga, memberangus niat baik sang pemberi kurban! Dalam konteks ini, hukuman sosial masyarakat akan dia terima nantinya! Dan tentu amat layak kita sayangkan, kalo urusan sedekah sudah dipolitisasi sampai seperti ini! Politik yang sesungguhnya adalah seni memimpin, memenej, dan menggerakkan masyarakat untuk kebaikan, kok malah dipraktekkan untuk kejelekan!” tutur Dinda panjang lebar.

“Emang patut diseselin ya mbak, adanya sedekah yang tertolak hanya oleh adanya persaingan menyambut pilkada itu?! Tapi kan kita juga harus pahami, yang melarang itu kan hanya menjalankan perintah atasan aja, mbak?!”

“Katakanlah emang itu perintah atasan, tapi kan dia punya hati nurani, punya iman, punya jiwa sosial, dek! Masak tertutup semua dimensi kebatinan kita sebagai manusia hanya oleh sebuah perintah semata!” sahut Dinda.

“Ya kenyataannya begitu, mau bilang apa dong?!” ujar Gilang.

“Ini yang harus jadi keprihatinan kita semua, dek! Betapa hanya karena urusan pilkada, politik lima tahunan, hal-hal yang sakral semacam pembagian daging kurban pun dilarang! Padahal, yang namanya pilkada itu kan pesta demokrasi! Pesta itu tempatnya orang bersukacita, penuh keceriaan dan keakraban! Bukannya pesta yang membuat kita mabuk dan tak bisa lagi membedakan mana yang berdimensi ke-Ilahi-an dan mana yang bernuansa politik sesaat! Kita layak mengelus dada penuh prihatin, kalo kisah yang adek sampein itu bener! Betapa ironisnya, sedekah yang ikhlas tertolak hanya oleh ketakutan tak beralasan terkait pilkada! Subhanalah!” sambung Dinda, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *