14 views

Pelesiran Di Batu Mandi

AKHIR pekan kemarin, Gilang minta Dinda menemaninya untuk rekreasi alias pelesiran di objek wisata Batu Mandi, Hanura, Pesawaran.

“Kan adek sama temen-temen sekelas, masak mbak ikut!?” kata Dinda.

“Ya nggak apa-apalah, mbak! Temen-temen adek kan mbak kenal semua!” ucap Gilang.

Karena Gilang ngotot minta “didampingi”, Dinda pun ikuti kemauan adeknya semata wayang itu.

Setibanya di objek wisata yang memiliki pantai cukup landai dengan debur ombak yang tertata apik, keduanya mengambil tempat duduk di posisi agak pojok. Teman-teman Gilang sudah bertaburan. Berlarian di pantai. Sebagian kongkow di tempat-tempat yang disediakan pengelola.

“Dek, itu kok duduknya misah-misah gitu ya?! Bukannya berkumpul dulu!” kata Dinda.

“Iya emang gitu, mbak! Mbak jangan heran, nanti ada empat grup yang akan misah duduknya!” ucap Gilang.

“Lho, kok gitu, dek? Ini kan rekreasi sekelas, ya mestinya nyatu semua dong?!”

“Biar aja, mbak! Nanti temen-temen yang malah enak dan maksimal wisatanya!”

“Maksudnya apa sih, dek?!”

“Gini lo, mbak! Pertengahan bulan nanti kan mau ada pemilihan ketua kelas! Nah, ada empat temen yang mau nyalon! Di Batu Mandi inilah kesempatan mereka untuk mensosialisasikan diri dan program mereka ke depan! Jadi mbak nggak usah heran kalo ada empat tempat yang akan didatangi temen-temen secara bergiliran!” kata Gilang.

“Oh gitu to, dek? Jadi pelesiran ini sekaligus jadi ajang kampanyelah istilahnya ya? Bagus juga polanya ya? Para pemilih diajak bermain sambil sosialisasi!” tutur Dinda.

“Iya, asyikkan, mbak? Dan yang pasti, masing-masing yang mau nyalon itu pada bawa makanan untuk temen-temen sekelas! Jadi nggak khawatir kelaperan abis bermain di pantai, mbak!”

“Oh ya? Jadi untuk makan dan cemilannya disiapin temen adek yang mau nyalon ketua kelas ya?!”

“Ya iyalah, mbak! Makanya ada yang nyiapin pempek, siomay, es dawet, sampai ke nasi padang! Terjaminlah pokoknya urusan makan dan minuman temen-temen dalam pelesiran ini!”

“Hebat juga ya pola kampanye ini? Siapa yang punya idenya, dek?!” tanya Dinda.

“Ya adek-lah yang punya ide ini, mbak?!” sahut Gilang sambil tersenyum.

“Oh gitu, maksudnya apa, dek?!”

“Ya biar tetep nyatu aja semuanya, mbak! Soal proses suksesi biar tetep berjalan dengan ceria tanpa mengganggu kebersamaan kami sekelas!” jelas Gilang.

“Yang punya ide untuk berwisata ini siapa emangnya, dek?!”

“Rekreasi ini emang agenda kelas, mbak! Setiap 6 bulan sekali kami adainnya! Nah, kebetulan sebentar lagi mau ada pemilihan ketua kelas, adek bilang ke temen-temen yang mau nyalon untuk ‘nyukongin’ semua kebutuhan temen-temen selama wisata ini! Mereka mau semua! Alhamdulilah kan, nggak perlu keluarin uang kas kelas!” imbuh Gilang sambil tertawa.

“Nanti dulu, dek! Bukannya sekarang ini adek yang jadi ketua kelasnya? Emang adek nggak mau nyalon lagi?” ucap Dinda, tiba-tiba.

“Adek emang ketua kelasnya, mbak? Ya sesuai aturan sih, adek masih bisa nyalon lagi, mbak?” sahut Gilang.

“Terus, adek mau nyalon lagi nggak?!”

“Insyaallah, mbak! Masih liat perkembangan aja!”

“Kalo adek masih mau nyalon lagi, kok malah memfasilitasi temen-temen yang mau nyalon seterbuka begini?!” kata Dinda.

“Namanya nyalon itu kan hak semua orang, mbak? Adek nggak boleh ngelarangnya! Tapi tetep adek arahin biar semuanya berjalan dengan baik! Tetep menyatu dan suasananya ceria-ceria aja walo ada persaingan!”

“Nah, kalo yang lain-lain pada modal dengan nyiapin makanan dan minuman di wisata ini, apa yang adek berikan buat temen-temen?!”

“Adek kan tetep ngejaga kebersamaan temen-temen sekelas ini, mbak?! Itu nilainya juga sama dengan apa yang dilakuin temen-temen yang mau nyalon, yang nyiapin makanan dan minuman! Coba kalo nggak adek buat agenda pelesiran di Batu Mandi ini, kan bisa aja temen-temen jadi terusik kebersamaannya! Salahnya kita itu kan setiap kali mau ada suksesi, yang dimunculin pasti suasana persaingan, pasti provokasi kamu ke saya atau ke dia, dan sebangsanya! Itulah yang disadari atau tidak akhirnya melahirkan pikiran dan perasaan bahwa kita harus jaga jarak dengan sesama! Padahal hakekatnya nggak begitu! Suatu persaingan mestinya tetep dihiasi dengan semangat kebersamaan, dengan suasana keakraban dan tetep bertegur sapa dengan tulus antar sesama!” kata Gilang.

“Okelah soal itu, dek! Yang mbak mau tanya, adek optimis kepilih lagi nggak kalo maju nanti?!” ucap Dinda.

“Insyaallah, mbak! Kalo secara lahiriyah, temen-temen sekelas bisa rasain, adek tetep jadi pengendali penjaga kebersamaan! Contohnya ya acara ini, kan semua yang mau nyalon bisa adek satuin dan temen-temen yang mau milih tak perlu keluar uang tambahan buat makan dan minum! Itu lahiriyahnya, mbak! Secara batiniyah, Tuhan yang menentukan! Bagi adek, terpilih lagi alhamdulilah, nggak juga ya tetep alhamdulilah, mbak! Karena Tuhan penentu segalanya, bukan sesuatu apapun itu selain Dia!” tutur Gilang seraya mengajak Dinda untuk berjalan ke pantai. Menyatu dengan teman-temannya sekelas. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *