24 views

Yang Dinanti Itu Namanya; Tukin

MINGGU siang, Gilang mengajak Dinda untuk melihat ladang yang saat ini ditanami singkong.

“Aduh dek, panas-panas gini kok ngajak ngeliat ladang sih? Sore-sorean ajalah!” kata Dinda menanggapi ajakan Gilang.

“Justru kita berangkatnya dari sekarang, mbak! Biar sore sudah di ladang! Kalo kita berangkatnya sore, bedug maghrib kita baru nyampe! Terus mau ngeliat apa?!” sahut Gilang.

Dinda pun akhirnya mengalah. Memenuhi maunya Gilang. Berangkatlah mereka ke ladang yang ada di kawasan Natar, Lampung Selatan.

Sesampai di ladang, keduanya tersenyum gembira. Tanaman singkongnya tumbuh subur dan siap untuk dipanen.

“Siapa dek nama yang ngerawat dan nunggu kebun kita ini?!” ujar Dinda.

“Pak Tukin, mbak! Emangnya kenapa?!”

“Cari dulu Pak Tukin itu, dek! Minta tolong dia cabutin beberapa batang pohon singkong yang sudah besar! Sambil kita petikin daunnya yang masih muda-muda!”

Gilang beranjak dari ladang menuju sebuah rumah. Kediaman Pak Tukin. Tak lama kemudian dia kembali menemui Dinda.

“Gimana, dek? Ada Pak Tukin di rumahnya?” tanya Dinda.

“Nggak ada, mbak! Kata orang di rumahnya, Pak Tukin sudah seminggu nggak pulang! Βelum tau kemana dia perginya!” jelas Gilang.

“Emangnya Pak Tukin sering pergi-pergi nggak pamitan ya sama keluarganya?!”

“Ya mana adek tau, mbak? Kenal Pak Tukin juga karena dia yang ngurus ladang ini! Ketemu pun baru tiga kali! Jadi gimana nih, mbak? Pak Tukin nggak ada, terus jadi nggak kita nyabut singkongnya?!” ucap Gilang.

“Kita tunggu aja dulu, dek! Siapa tau, sore ini Pak Tukin pulang!” kata Dinda.

“Aduh, mbak! Keluarganya aja nggak tau kemana perginya Pak Tukin kok kita malah menanti dia di ladang kayak gini! Yang bener aja, mbak?!” sela Gilang.

“Ya siapa tau, dek! Kayaknya kan tipe Pak Tukin itu bangsa yang semau-mau! Walo keberadaannya diakui, baik oleh keluarganya maupun kita, kan kalo dia mau pergi ya pergi-pergi aja! Nah, siapa tau, berkat watak semaunya itu, sore ini dia muncul!”

“Aneh mbak mah! Ini sama aja menanti dalam ketidakpastian, mbak! Mendingan kita minta tolong tetangga sebelah rumah Pak Tukin aja yuk?!” ajak Gilang.

“Kenapa, adek ragu ya Pak Tukin mendadak muncul?!”

“Ya iyalah, mbak! Wong dia pergi sudah seminggu aja nggak pake pamit-pamit sama anak istrinya! Boro-boro mau muncul pas kita lagi di ladang!”

“Jadi sebenernya, bukan cuma kita aja lo yang menanti datangnya Pak Tukin itu, dek! Ratusan bahkan ribuan orang lain juga amat sangat berharap yang namanya Pak Tukin muncul!” kata Dinda.

“Ngomong apa sih mbak ini? Maksudnya itu apa?!”

“Adek mah selalu terlambat lo ikuti perkembangan? Sekarang ini ribuan orang amat menanti yang namanya Tukin itu!”

“Iyalah gitu, maksudnya itu siapa yang menanti si Tukin, mbak?!” ketus Gilang.

“Jadi gini, dek! Ribuan, bahkan mungkin belasan ribu ya, aparat pemerintah yang bertugas di lingkungan Pemkot Bandarlampung, sekarang ini menanti-nanti munculnya si Tukin itu! Tukin yang dimaksud tentu bukan Pak Tukin yang ngurus ladang kita, tapi tunjangan kinerja! Ada dana hak ASN dalam istilah tukin yang sejak April lalu sampai menjelang akhir September ini belum diberikan kepada semua aparatur Pemkot Bandarlampung yang berhak menerimanya!” jelas Dinda.

“Oalah, kirain adek apaan, mbak? Ya kan emang sudah biasa sih mbak urusan yang jadi kewenangan Pemkot Bandarlampung buat aparaturnya sering molor gitu? Dari soal dana sertifikasi guru sampai lain-lainnya! Kan emang urusan keuangan pemkot susah ditebak, mbak?!”

“Iya sih, cuma kan yang namanya tunjangan kinerja itu hak ASN lo, dek! Kebayangkan, kalo misalnya untuk staf mestinya terima Rp 1 juta sebulan, ini sudah enam bulan nggak terima apa-apa! Padahal mereka harus terus disiplin dalam bekerja, harus maksimal melayani masyarakat! Kalo mereka kerjanya ogah-ogahan disanksi, tapi haknya nggak dikasih! Kasianlah dek nasib ribuan ASN itu!” tutur Dinda.

“Aneh juga ya, mbak?! Urusan si Tukin ini kan sebenernya sudah jadi kewajiban, kok malah diabaikan! Lha kalo untuk ASN-nya aja dianggep remeh temeh kayak gitu, kok pimpinannya bisa-bisanya terkesan nduluin maunya masyarakat dalam mewujudkan program-programnya! Padahal yang mau ngerancang dan ngewujudin program pembangunan itu kan ya ASN itulah! Nurut adek sih, ini sudah aneh bin ajaib, mbak?! Karena keterlambatan memberikan tukin kayak gini, setiap tahunnya terjadi! Bahkan ada yang mengaku nggak pernah terima full 12 bulan!” kata Gilang.

“Nah, kalo faktanya kayak gini, ASN yang nyata-nyata bekerja untuk mendukung kesuksesan pimpinan aja nggak dipeduliin akan haknya, kebayangkan sebenernya bagaimana tata administratif keuangan pemkot selama ini! Walo semua tau, pimpinannya ngelotok kering soal keuangan pemerintahan, tapi dengan kenyataan yang dirasakan ribuan aparaturnya menanti-nanti si Tukin yang enam bulan ini nggak jelas juntrungannya itu, selayaknya sang pimpinan mawas diri! Atau jangan-jangan posisinya juga sama; menanti si Tukin datang!” ucap Dinda sambil tersenyum. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *