36 views

Terpincang-Pincang Tapi Bergengsi

BERKALI-KALI Dinda teriak histeris setiap Gilang di-takle lawannya dalam pertandingan final futsal antar sekolah, sore tadi.

Apalagi setelah melihat Gilang terpincang-pincang jalannya. Dinda yang duduk di kursi penonton bagian depan berteriak; meminta pelatih mengganti sang adek. Tapi permintaannya tak ditanggapi.

Tepat di menit terakhir, dengan gerakan refleks, Gilang yang lari terpincang, menyepak bola tepat di ujung gawang lawan. Gol…! Menanglah tim sekolahnya dengan hasil akhir: 3-2. Dramatis!

Tanpa sungkan, Dinda melompat dari kursi penonton menuju tempat pemain. Dipeluknya Gilang dengan penuh kebanggaan.

“Adek luar biasa! Mbak bangga!” ujarnya.

“Terimakasih, mbak! Ini kemenangan tim, mbak! Adek beruntung aja di penghujung pertandingan bisa ngegolin! Kalau diperpanjang mainnya karena skor yang sama, bisa-bisa tim adek kalah!” kata Gilang.

“Oh gitu ya, dek! Kalo tadi tetep 2-2 terus perpanjangan waktu, tim adek bisa kalah ya?!”

“Iyalah, mbak! Liat aja, semua pemain tim adek kan sudah cedera! Adek aja hampir nggak kuat lagi jalan, karena kaki ini sakit bener dihantemin pemain lawan!”

“Pemain lawan adek emang kasar-kasar mainnya ya? Kayak nggak ngerti aturan aja!” tukas Dinda.

“Ya begitulah pertandingan, mbak! Berbagai cara dilakukan lawan untuk buat kita ngedrop! Buat kita nggak bisa ngendaliin emosi! Buat kita kehilangan percaya diri, jadi gampang dikalahin!” ucap Gilang.

“Tapi adek sama temen-temen tetep nggak kepancing buat main kasar, itu yang mbak angkat topi!”

“Instruksi pelatih, dalam situasi apapun harus bermain dengan bersih dan cerdas, mbak! Nggak boleh melakukan hal-hal yang bisa mencederai lawan! Istruksi itu yang kami pegang! Walo resikonya ya hampir kami semua jadi terpincang-pincang gini jalannya!”

“Jadi emang harus bermain dengan baik dan bergengsi ya, dek?!”

“Iya, mbak! Main bersih, cantik dan bermoral! Nggak boleh halalin semua cara untuk memenangi pertandingan!”

“Hebat itu, dek! Didikan pelatih emang nggak salah! Adek sama tim ditanamkan moralitas bersaing yang fair! Mbak jadi inget cerita sebuah film, dek!” kata Dinda.

“Film apaan, mbak?!” tanya Gilang.

“Judulnya Red Cliff, dek! Dalam film itu dikisahkan, pasukan Cao-Cao sedang mengepung pasukan Zhou Yu di dekat sebuah teluk dengan tebing sekitarnya berwarna merah! Pada saat kedua pihak sudah menyiapkan diri untuk perang, ternyata sebagian pasukan Cao-Cao kena wabah penyakit!” urai Dinda.

“Terus, mbak…!?”

“Melihat kondisi begitu, beberapa staf khusus Zhou Yu menyarankan agar segera dilakukan penyerangan, tapi Zhou Yu menolak dengan alasan kemanusiaan! Pada saat bersamaan, dengan liciknya Cao-Cao malah mengirim mayat-mayat pasukannya yang terkena wabah dengan rakit ke posisi pasukan Zhou Yu! Dengan target agar pasukan Zhou Yu juga tertular wabah, sehingga banyak yang sakit dan tewas!” sambung Dinda.

“Jadi perang nggak akhirnya, mbak?!”

“Bukan soal jadi perang nggaknya yang mau mbak sampein, dek! Tapi dari kisah ini kita bisa melihat siapa dari kedua pemimpin pasukan itu yang memiliki standar moral lebih tinggi! Keliatan kan gimana Zhou Yu tak mau merendahkan harkat martabatnya dengan memancing di air keruh! Sebaliknya, kita bisa liat dengan nyata gimana Cao-Cao tidak segan-segan menghalalkan segala cara untuk menyerang musuhnya!”

“Oh gitu ya, mbak! Berarti kami taat ikuti omongan pelatih agar main bersih dan rendah hati itu mengandung nilai moral yang tinggi y?!” kata Gilang.

“Iya dek! Tanpa adek dan temen-temen sadari, pelatih itu mengajarkan sebuah strategi kehidupan yang bijak, yaitu moral, hasil, dan sumber daya! Itu pola bertaktik yang hebat, dek! Makanya, walo adek terpincang-pincang begini tapi bergengsi!” kata Dinda.

“Pincang-pincang gini kok bergengsi to, mbak? Ya nggaklah! Sakitnya aja nggak karuan!” sela Gilang sambil meringis menahan sakit.

“Maksudnya, dalam sebuah pertandingan, pasti ada yang terluka tapi karena tetep ngejaga permainan yang fair, gengsinya beda! Apalagi akhirnya menjadi juara! Dan hanya orang-orang dengan kemampuan tertentu yang tak terpancing emosinya dan keluar dari alur moral permainan, dek! Maka bahagialah, adek! Meski secara lahiriyah terpincang-pincang tapi gengsi menjaga keapikan permainan tetep terjaga! Gaya semacam ini yang sesungguhnya disukai banyak orang! Ketimbang grabak-grubuk, hantam sana-sini!” tutur Dinda lagi. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *