47 views

Kerikil Dalam Sepatu

DINDA terheran-heran melihat Gilang keluar lapangan saat pertandingan sepakbola baru berjalan 15 menit. Apalagi, jalannya pun terpincang-pincang.

“Adek kenapa…?!” tanya Dinda yang buru-buru mendekati Gilang begitu keluar lapangan permainan.

“Nggak tau ini, mbak! Kaki kanan kiri adek sakit bener!” ujar Gilang sambil membuka sepatunya.

“Masyaallah, kok bisa ada kerikil begitu di dalem sepatu sih, dek? Ya pantes aja ngebuat adek nggak nyaman!” sela Dinda begitu melihat keluarnya beberapa kerikil dari dalam sepatu setelah Gilang melepas kakinya.

“Adek juga nggak tau kapan ada kerikil di sepatu ini, mbak?!”

Saat dilepasnya kaos kaki, tampak telapak kaki Gilang melepuh disana-sini.

“Adek diem disini dulu ya? Mbak ambilin obat sebentar!” kata Dinda sambil berlari mengambil tasnya.

Saat obat oles di-borehin ke telapak kaki, Gilang tampak meringis kesakitan.

“Pedih bener, mbak! Pelan-pelan aja ngasih obatnya!” ucap Gilang.

“Sabar ya, dek! Iya, pelan-pelan aja mbak borehin obatnya kok! Mbak bilang ke pelatih aja ya, kalo adek nggak bisa nerusin pertandingan!” kata Dinda berinisiatif.

“Iya, mbak laporin ke pelatih ya?”

Setelah menyampaikan kondisi Gilang pada pelatih, Dinda kembali ke tempat adeknya duduk. Gilang terpaksa duduk bersila, karena telapak kakinya sakit bila menginjak tanah akibat luka melepuh karena adanya kerikil di dalam sepatunya saat bertanding.

“Kok bisa ya ada kerikil di sepatu adek, mbak?!” tutur Gilang sambil menenggak air mineral yang diberikan Dinda.

“Adek nggak cermat sih! Mestinya, pas mau pake sepatu, ya diperhatiin dulu! Anehnya, kok adek nggak rasain ada yang nggak beres waktu masukin kaki ke sepatu!”

“Adek kan begitu mau masuk lapangan, baru pake sepatu, mbak! Jadi nggak perhati lagi! Lagian, waktu awal lari di lapangan, nggak kerasa apa-apa lo! Mungkin karena kaos kaki adek tebel ya, jadi nggak langsung ketauan kalo ada yang nggak beres!” kata Gilang.

“Masih untung adek pake kaos kaki tebel, coba kalo tipis, jangan-jangan melepuhnya akibat kerikil di sepatu ini jadi lebih parah!” sela Dinda.

“Iya juga sih, mbak? Cuma yang adek nggak habis pikir, siapalah yang iseng bener masukin kerikil ke sepatu adek ini ya? Apalah maksudnya?!” ujar Gilang.

“Sudah, adek nggak usah mikirin yang begituan ya? Sudah jelas ada yang melakukannya! Soal siapa orangnya, nggak usah dipikirin! Gitu juga maksudnya apa, nggak usah nambahin pikiran!” kata Dinda.

“Wajar ajakan adek jadi penasaran dan pengen tau, mbak?”

“Ya itu wajar-wajar aja, dek! Cuma lebih baik nggak usah mikirinnya lagi! Ambil hikmahnya aja ya?!”

“Maksudnya apa, mbak? Kok ambil hikmahnya aja gitu?!” sela Gilang.

“Disyukuri aja, untung bukan paku payung yang dimasukin ke sepatu adek! Hikmahnya dengan kejadian ini, adek akan semakin hati-hati dan cermat! Sebab peristiwa semacam ini bukan hal yang tak mungkin dialami oleh orang lain, walo dalam konteks yang berbeda, dek! Banyak pola orang ekspresiin gejolak iri dengkinya pada orang lain, walopun belum tentu orang itu berbuat salah! Ada kalanya kita melakukan hal benar sesuai posisi kita pun, tetap saja dicuatkan suasana iri dan dengki itu!” kata Dinda.

“Jadi adek harus gimana dong ke depannya, mbak?!”

“Lebih cermat dan lebih bijak aja, dek! Walo dengan kecermatan dan sikap bijak, tak akan pernah menghentikan penyebaran virus iri dan dengki! Tapi yakin aja, tak ada obat terbaik dari pada terus menebar kebaikan dan kebijakan! Tetap tegarlah adek sebagai pemain yang tau kapan harus menghadang penyerang lawan dan kapan mesti mengecoh kiper lawan! Tanpa sedikit pun berpikir kalo yang menaruh kerikil di sepatu itu adalah kawan sendiri!” tutur Dinda sambil memeluk Gilang yang sesekali meringis; menahan sakit. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *