11 views

Soal Komitmen

LAMA Gilang menatapkan pandangannya pada dua remaja putri yang menghantar Koran, pagi tadi, ke rumah. “Kenapa, dek? Ada yang aneh?!” tanya Dinda.

“Emang mereka itu ya yang setiap pagi anter Koran langganan kita!” ucap Gilang.

“Iya, ya mereka itulah yang bertahun-tahun ini setiap pagi nganter Koran ke rumah! Emangnya kenapa?!”

“Adek baru tau ini, mbak! Kok mau ya, cewek nganter Koran gini?!” sela Gilang.

“Mereka itu nerusin pekerjaan ayahnya, dek! Setelah sang ayah wafat, kedua putrinya yang ambil alih tugas!” kata Dinda.

“Jadi sudah lama ya mereka itu jadi pengantar Koran, mbak?!”

“Sudah lama, dek! Sudah bertahun-tahun! Sejak yang tua masih SMA sampai sekarang mau selesai kuliah! Yang satunya dari SMP sekarang sudah mau ujian SMA!”

“Kok mbak tau sampe segitunya sih?!” tanya Gilang.

“Mbak kan pernah ngobrol-ngobrol pas mereka anter Koran, dek? Mbak kagum sama komitmen mereka menjaga sesuatu yang sudah dimulai ayahnya! Komitmen meneruskan tapakan kehidupan!” kata Dinda.

“Jadi sesuatu itu dijalani atas dasar komitmen ya, mbak?!”

“Komitmen itu pondasi kehidupan, dek! Sesuatu yang telah disepakati, harus terjaga! Harus bisa dilakoni dengan kesungguhan hati! Dan manakala kita mampu menjaga komitmen -dalam konteks apapun- sesungguhnya kita telah membangun citra diri tersendiri yang baik dan mengesankan!”

“Jadi kita harus hargai ya orang-orang yang menjaga komitmen, mbak?!”

“Iya, harus itu, dek! Bukan hanya menghargai, tapi juga menempatkannya pada posisi tersendiri! Karena hanya orang-orang terpilih dan berhati nurani baiklah yang mampu menjaga komitmen dengan sebaik-baiknya!” lanjut Dinda.

“Gimana kalo ketemu orang yang nggak pegang komitmen, mbak? Kemarin adek mau diajak berenang sama temen-temen, nggak taunya mereka jalan sendiri! Nggak kasih kabar lagi?!” ujar Gilang.

“Disyukuri aja, dek! Dengan kejadian kayak gitu, adek bisa menilai sejauhmana temen adek pegang komitmen! Semua peristiwa itu pasti berhikmah! Dan itulah pernik-pernik pelajaran kehidupan!”

“Kalo komitmen di dunia politik kayaknya nggak bisa ya, mbak? Politik kan dinamis, susah bersikapnya?!”

“Siapa bilang, dek? Politik itu alur aja, yang nentuin kan manusianya! Kalo manusianya memang orang yang berkomitmen, ya semua tetep bisa berjalan dengan baik sedinamis apapun situasinya! Persoalannya; apakah langkah itu dilakoni oleh orang yang punya sikap atau tidak! Kalo hanya sepihak saja, ya nggak bakal lahir kebersamaan yang terjaga! Maka berbahagialah tatkala menyatu dengan orang berkomitmen! Dinamika seheboh apapun di dunia politik, tetep bisa dikendalikan manakala diisi oleh mereka-mereka yang punya komitmen! Walo memang tak banyak yang punya kepribadian semacam itu!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *