100 views

Soal Kesederhanaan

“MBAK, baca ini! orang besar setingkat bupati aja tetep bisa tampil penuh kesederhanaan dan menghargai orang! Membesarkan dan membanggakan yang kecil!” kata Gilang sambil menyodorkan sebuah surat kabar nasional kepada Dinda.

Dinda pun fokus membaca halaman bertajuk nama & peristiwa. Matanya tertuju pada judul: Umar Ahmad Ikut Mengatur Penonton!

“Itu baru namanya pemimpin, mbak! Pemimpin yang sadar bener akan keberadaannya! Pemimpin yang tau persis suasana batin rakyatnya!” kata Gilang lagi.

“Kan cuma ngasih tempat anak-anak nonton teater mentas aja sih, dek! Bukan sesuatu yang luar biasa!” sela Dinda.

“Mbak yang nggak bisa menilainya secara fair! Perilaku Bupati Tulangbawang Barat yang kasih tempat duluan untuk anak-anak bisa menonton pentas teater adalah bukti nyata betapa kuat nurani kebapakannya! Dia tau persis pentas itu disukai anak-anak, karena itu ia tempatkan mereka untuk bisa menonton dengan nyaman! Sederhana memang yang dilakukannya, mbak! Tapi itu luar biasa maknanya bagi anak-anak yang didulukan tempat duduknya, tentu berikut keluarga mereka!”

“Banyak juga sebenernya pemimpin yang kayak gitu, dek! Cuma nggak diekspos aja!” kata Dinda.

“Ya pasti banyaklah, mbak! Justru disini kelebihan Umar Ahmad! Perilakunya yang penuh kepedulian dalam balutan sikap kesederhanaannya itu diekspos oleh media nasional ternama! Itu artinya apa yang dia lakukan mendapat apresiasi tinggi! Nggak bakal Koran nasional yang sudah punya nama ngemuat hal-hal yang tak bermakna, mbak! Mereka selektif bener dalam pemuatan berita, apalagi menyangkut sosok pimpinan daerah!”

“Terus maksud adek nyuruh mbak ngebaca berita soal itu apa?!” Tanya Dinda.

“Untuk kita bisa sejak dini belajar jadi pemimpin yang bijak, mbak! Pemimpin yang tau persis hakekat kepemimpinan! Pemimpin yang sadar bahwa kita jadi pemimpin karena ada yang dipimpin! Bukan pemimpin yang taunya hanya dilayani! Pemimpin yang inginnya selalu dibangga-banggain! Selalu dibener-benerin aja apapun maunya!” ucap Gilang.

“Kok adek jadinya sinis gitu sih?!” ketus Dinda.

“Terus terang ya, mbak! Adek ngerasa nggak pas lho waktu mbak teleponan dengan temen mbak tadi!”

“Yang mana, dek?!”

“Yang mbak bilang; suruh mereka dong yang susun kursinya, kalo semua sudah siap, aku baru dateng!”

“Emang kenapa, dek?!”

“Omongan itu nggak nunjukin kalo mbak adalah seorang pemimpin! Mestinya mbak bilang; oke, segera aku dateng, nanti kita susun bareng-bareng kursinya! Kalo yang mbak omongin kayak gitu, siapapun yang mbak pimpin akan merasa segan! Jangan-jangan malah mereka bergegas nyusun kursi sampai beres, jadi pas mbak nyampe lokasi, semua sudah siap!” ujar Gilang.

“Ya masak sebagai pemimpin harus ikut nyusun kursi sih, dek? Nggak juga deh!” kata Dinda.

“Nah, ini namanya jabatan ngebuat lupa diri itu, mbak! Emang mbak nggak pernah dulu-dulunya nyusunin kursi? Emang mbak nggak pernah ngerasain gimana kalo punya peminpin yang arogan? Pernahkan?!”

“Iya sih, pernah dek! Emang nggak enak dipimpin oleh pemimpin yang pengennya dihormati melulu! Diagung-agungin aja maunya! Disiapin semuanya dengan sempurna, baru dia mau dateng?!” aku Dinda.

“Nah, kalo pernah ngerasain hal-hal yang tidak enak akibat perilaku seorang pemimpin, ketika mbak jadi pemimpin, ya jangan diulang dong! Buatlah semua yang mbak pimpin penuh keakraban! Penuh kenyamanan! Penuh kebersamaan! Untuk itu, jangan sekali-kali mbak tercerabut dari sikap kesederhanaan! Kesederhanaan dalam omongan! Kesederhanaan dalam pembawaan! karena dalam kesederhanaan itulah suasana kebatinan akan mengunci dalam kebersamaan! Pemimpin itu akan besar dan semua programnya berjalan maksimal manakala suasana kebersamaan itu telah mengunci di batin semua yang dipimpin, mbak!” jelas Gilang.

“Iya, mbak akan ubah gaya, dek! Mbak akan kembali ke jati diri sebagai anak manusia yang setara dalam memperlakukan sesama!” ucap Dinda dengan sungguh-sungguh.

“Itu yang terbaik, mbak! Sebagai pemimpin emang harus berjiwa besar! Harus mau menerima kritik dan saran! Karena hakekat kritik dan saran adalah untuk kebaikan! Dan tetaplah jaga pada khalwat batin mbak yang terdalam, bahwa kesederhanaan adalah kunci kebersamaan! Saat ini, banyak pemimpin yang dikelilingi oleh kebersamaan yang semu, akibat ia terlepas dari sikap dasar kemanusian, yaitu; kesederhanaan!” lanjut Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *