13 views

Soal Jokowi

SIANG tadi, Gilang sibuk mondar-mandir. Dari dalam rumah ke pinggir jalan. “Ngapain sih dek! Bolak balik kayak gosokan gitu?” tanya Dinda.

“Adek mau nunggu Pak Jokowi, mbak! Nanti kan lewat depan rumah kita! Adek mau dada-dada sama Pak Presiden!”

“Emang Pak Jokowi ngapain lewat depan rumah kita, dek?!”

“Kan nanti mau ke Kampus Ittera, mbak! Pastinya ya lewat depan rumah kita!” ucap Gilang.

“Coba mbak cek ya?!” kata Dinda sambil mengambil hpnya.

Tak lama kemudian, Dinda bilang: “Pak Jokowi masih di Bakauheni, dek! Masih lama lewat sini!”

“Oh gitu ya, mbak! Nggak apa-apalah! Adek nongkrong di depan rumah aja!” sahut Gilang tetap bersemangat.

Penungguan 4 jam itu tak sia-sia! Saat kembali dari Kampus Ittera, Jokowi sepanjang jalan membuka kaca Mobil yang ditumpanginya bersama Gubernur Ridho Ficardo.

Gilang melambaikan tangannya. Dada-dada dengan Pak Jokowi. Sang Presiden pun melambaikan tangannya.

“Mbak, adek sudah dada-dada sama Pak Jokowi lo! Barusan aja dia lewat!” kata Gilang yang langsung masuk ke kamar Dinda.

“Iya tah Pak Jokowi buka kaca mobilnya buat dada-dada sama warga, dek?!” tanya Dinda.

“Iya kok, mbak! Adek aja liat langsung! Pak Jokowi kan buka kaca mobilnya! Keliatan sampai lehernya lho! Om Ridho duduk di samping Pak Jokowi!”

“Terus apa yang adek rasain bisa dada-dada-an sama Presiden, didampingi Gubernur pula?!” ucap Dinda.

“Terharu, mbak! Pak Presiden begitu rendah hati! Mau ngelongokin wajahnya demi menyapa rakyatnya! Adek juga ngerasa bangga dan bahagia, mbak!” aku Gilang.

“Bener itu, dek! Pak Jokowi emang pemimpin yang rendah hati! Tak membusungkan dada walo dia orang nomer satu di negeri ini! Dia tau persis, bisa jadi Presiden karena rakyat, dan itu sebabnya harus selalu bersama rakyat! Kepemimpinan rendah hati itulah yang takkan luntur di hati rakyat!”

“Jadi, dari Pak Jokowi itu kita belajar soal rendah hati ya, mbak?!”

“Iya dek! Kerendahan hati atau humility artinya tanah atau bumi! Jadi, kerendahan hati bisa dimaknai sebagai sikap menempatkan diri untuk membumi! Pemimpin yang rendah hati nyaman dengan jati dirinya dan tidak merasa butuh untuk menarik perhatian!”

“Kelebihan pemimpin rendah hati itu apa, mbak?!” tanya Gilang.

“Dia akan bersukacita dengan pencapaian orang lain! Memperlengkapi orang lain untuk menjadi unggul! Dan mengizinkan orang lain bersinar! Gitu kata John C. Maxwell, dek!” ucap Dinda.

“Oh gitu, mbak? Kalo nurut orang lain, pemimpin rendah hati itu kayak mana, mbak?!”

“Kalo nurut Patrick Lencioni, seorang penulis buku kepemimpinan, kerendahan hati adalah kesadaran bahwa seorang pemimpin tidak selalu lebih baik dari yang ia pimpin! Dan kharisma adalah kesadaran bahwa tindakan sang pemimpin lebih penting dari orang-orang yang ia pimpin! Sebagai pemimpin, kita harus berjuang merangkul kerendahan hati dan kharisma! Jadi emang, dari Pak Jokowi kita belajar langsung soal kerendahan hati itu, dek!”

“Mestinya, kalo Presiden aja bisa nampilin kerendahan hatinya, para petinggi dibawahnya harus mengikuti ya, mbak?!”

“Ya semestinya sih gitu, dek! Cuma, dalam soal ini kan kembali ke karakter! Sebab, kerendahan hati itu nggak bisa dibuat-buat! Tapi bener-bener sesuai dengan bawaan badan! Repotnya, banyak yang saat ini maju pilkada serentak, mempertontonkan kerendahan hati tanpa diiringi suara hati! Akibatnya, perilaku merakyatnya malah tampak amat dibuat-buat! Dan rakyat tau persis itu semua!” tutur Dinda sambil tersenyum. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *