19 views

Bicara Tadabbur

“DEK, apa sih tadabbur itu?n Belakangan mbak sering denger kata itu diucapin orang!” kata Dinda, pagi tadi.

“Tadabbur itu aslinya dari Bahasa Arab, mbak!” sahut Gilang.

“Tau mbak kalo itu dari Bahasa Arab, dek! Arti atau maksudnya itu lo apa?!”

“Tadabbur itu artinya memikirkan! Memperhatikan dengan seksama! Merenungkan sesuatu secara mendalam, sehingga didapat hikmah dari suatu fenomena atau peristiwa! Gitulah kurang lebihnya, mbak!” jelas Gilang.

“O gitu to! Mbak nggak nyambung aja, sering kawan-kawan pake kata itu pas wa-an!” kata Dinda sambil manggut-manggut memahami makna dari tadabbur.

“Biasanya kawan mbak pake kata itu pas ngobrolin apa to?!” tanya Gilang.

“Ya pas cerita-cerita aja, dek! Misalnya pas ada peristiwa rumah ambruk di kompleks perumahan elite di Telukbetung beberapa waktu lalu! Setelah ujan deres berjam-jam waktu itu!” ucap Dinda.

“O gitu, terus mbak?!” sela Gilang.

“Kawan mbak bilang: kita mesti banyak-banyak tadabbur ngeliat fenomena alam belakangan yang kayaknya nggak bersahabat ini!” sambung Dinda.

“Wah, sip itu kawan mbak! Berarti dia tau kalo ada ketidakseimbangan dalam kehidupan sekarang-sekarang ini, mbak! Dia gerakkan alur pikirannya dengan tetep nyandingin pada kuasa Tuhan!” kata Gilang.

“O gitu ya, dek! Berarti bagus dong kawan mbak itu?!” sahut Dinda.

“Iya, bagus dan pinter dia, mbak! Dia bisa ngeliat sesuatu dibalik sebuah peristiwa!”

“Dukun dong, dek!” sela Dinda.

“Ya bukanlah! Kawan mbak itu punya kekuatan nalar dengan kesadaran akan keterbatasan karena hanya Tuhan yang berkuasa! Pantes aja dia pake kata tadabbur! Kata itu biasa digunain oleh para filosof!” urai Gilang.

“Kawan mbak itu emang nelaah kalo ambruknya rumah di kompleks perumahan elite itu karena salah penempatan! Sebab sebenernya itu daerah resapan air, yang nggak boleh dibangunkan rumah di atasnya! Artinya secara lahiriyah emang ada yang nggak pas ya, dek! Mungkin tanahnya nggak ikhlas akhirnya ngadu ke Tuhan! d
Dan Tuhan longsorkan tanahnya hingga bangunannya ambruk! Gitu kali ya, dek!” kata Dinda.

“Ya bisa juga gitu, mbak! Apalagi banyak wilayah yang mestinya dipertahanin jadi daerah resapan air, sekarang ini sudah berubah fungsi! Banyak yang sudah jadi kawasan pemukiman! Belum lagi penambangan pasir dan batunya yang terus berjalan! Sudah terlalu banyak alam dicerabut dari fungsinya, mbak! Maka nggak usah heran kalo alam pun marah! Disinilah keluasan kita bertadabbur itu diperluin!” kata Gilang, panjang lebar.

“Tapi kan sudah ada peraturan daerah yang ngatur mana aja wilayah resapan air dan sebagainya sih, dek?! Masak bisa berubah gitu aja!” ucap Dinda.

“Yang namanya peraturan daerah itu kan buatan eksekutif yang disetujui legislatif, mbak! Kapan aja bisa diubah sepanjang kompensasinya jelas! Alangkah banyak kawasan resapan air yang sekarang sudah alih fungsi! Dan tentu, perubahan perda itu nggak gratis!”

“Jadi perda itu bisa diubah kapan aja ketika ada kepentingan dan saling nguntungin ya, dek?!” kata Dinda.

“Pastinya ya gitulah, mbak! Kalo ada keuntungan secara finansial, pasti aturannya bakal diubah! Memahami yang kayak ginian tapi nggak pake marah-marah apalagi sampe terindikasi ujaran kebencian itu hanya bisa dilakuin kalo kita paham bener dengan ilmu tadabbur, mbak!” ulas Gilang.

“Kalo gitu harus ada aksi nyata untuk nyelametin alam sesuai fungsinya ya, dek! Biar nggak makin rusak alam ini! Yang berujung datangnya bencana bertubi-tubi!”

“Mestinya ya gitu, mbak! Tapi siapa yang bisa lakuinnya? Karena saat ini semua pihak sudah berpikir praktis pragmatis! Bahkan, bencana pun moment untuk nambah pundi-pundi dengan ngemplang dana bantuannya!” kata Gilang sambil nyengir.

“Jadi kayak mana, dek?” ucap Dinda.

“Ya nggak kayak mana kayak mana, mbak! Dunianya sekarang sudah separah ini! Tunggu aja alam makin marah dan bencana makin menggila! Banyak korban berjatuhan! Baru lakukan perbaikan ke depannya! Itu pun kalo bencananya nggak sampe ke rumah kita!” ujar Gilang; tertawa. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *