38 views

Bicara Tadabbur

“ADEK, jangan sembrono gitu dong! Kalau mau keluar rumah itu selain pake masker, juga bawa hand sanitizer! Harus proteksi diri sendiri dengan maksimal!” ucap Dinda pada Gilang.

“Nyantai aja sih, mbak! Yang penting kan sudah pake masker!” sahut Gilang, cuek.

“E adek, jangan nyepelein soal pandemi covid-19 ya? Ratusan orang yang mau ke Jakarta lewat Lampung sekarang ini dikarantina di beberapa rumah sakit disini karena positif covid!” lanjut Dinda.

“Apa hubungannya, mbak? Kan mereka sudah diisolasi di rumah sakit! Kita mau jalan ke mal, bukan ke rumah sakit! Kok siwek amat!” tanggap Gilang.

“Adek, emang secara langsung nggak ada hubungannya! Tapi siapa yang ngejamin virusnya nggak nyebar kemana-mana! Lagian mal itu kan tempat terbuka yang pengunjungnya juga banyak! Baikan kita tadabbur deh dengan perkembangan pandemi covid ini!” kata Dinda lagi.

“Tadabbur itu opo to, mbak?!” sela Gilang sambil nyengir.

“Tadabbur itu asalnya dari Bahasa Arab, dek! Artine mikirin, merhatiin dan ngerenungin sesuatu secara mendalam! Jadi kita dapet hikmah dari peristiwa itu!” urai Dinda.

“O gitu to! Jadi kita harus tadabbur atas semua persoalan ya, mbak?”

“Ya nggak semua persoalanlah, dek! Cukup hal-hal serius dan lagi jadi perhatian aja yang wajar buat kita bertadabbur itu!”

“Selain soal pandemi covid-19 yang makin ningkat, apa yg mbak tadabburi?” tanya Gilang.

“Soal persidangan kasus mantan Bupati Lamteng, Mustafa, dek!” sahut Dinda.

“Oh ya..? Apa yang narik perhatian mbak?!” sela Gilang.

“Kasusnya kan soal dugaan gratifikasi, tapi belakangan berkembang jadi kasus berbau sogokan untuk dapetin rekomendasi maju pilgub 2018 lalu!” ucap Dinda.

“Maksudnya, ada pergeseran alur konsentrasi persidangannya ya, mbak?!”

“Mbak liat sih gitu, dek! Tapi malah jadi asyik! Karena lewat persidangan ini bakal keungkap beragam permainan patgulipat soal rekomendasi partai jelang pilgub lalu! Apalagi orang-orang bernama besar sudah disetujui pengadilan buat didatangin ke persidangan! Pasti bakal lebih seru sidang-sidang ke depannya nanti, dek!” sambung Dinda, bersemangat.

“Emang siapa aja orang-orang bernama besar yang bakal dihadirin ke persidangan, mbak?” tanya Gilang.

“Bos SGC Puwanti Lee, Wagub Nunik dan beberapa anggota juga bekas anggota Dewan, dek! Kalo sampe ini kejadian di persidangan nanti, bakal makin asyik dan seru nontonnya!”

“Emang persidangan itu tontonan ya, mbak?!” sela Gilang.

“Ya iyalah, dek! Sekarang ini banyak hal yang dulu ditabukan, sekarang jadi tontonan! Atau bisa juga sengaja dipertontonkan! Gimana kasus hukum secara perlahan tapi pasti telah berbalik alurnya ke soal politik!” ujar Dinda.

“Kok bisa gitu ya, mbak?”

“Ya inilah seninya hukum di era industrialisasi, dek! Pergeseran terjadi dan lahirlah industri hukum secara apik!”

“Mbak yakin orang-orang bernama besar itu akan hadir di persidangan?” tanya Gilang.

“Yakin nggak yakin sih, dek! Tapi semua kembali ke majelis hakimnya! Kalo para Yang Mulia itu gunain haknya untuk bisa manggil paksa, mau nggak mau yang dipanggil ya wajib hadir!” kata Dinda.

“Tapi mbak kayaknya ragu ya kalo orang-orang bernama besar itu akan dipanggil paksa?!” ketus Gilang.

“Iya, mbak emang ragu sih, dek! Dan mbak nggak berani juga ngenilainya nanti gimana perkembangan persidangan kasus Mustafa itu!” ucap Dinda, perlahan.

“Lho, emang kenapa mbak?” tanya Gilang.

“Mbak inget pepatah Jawa, dek! Wong pinter kalah karo wong bejo! Yang pinter kalah sama yang beruntung!”

“Apa hubungannya itu, mbak?”

“Adek jangan lupa, banyak orang terselamatkan dari urusan hukum dunia karena keberuntungannya! Bukan karena ia tak pernah melanggar hukum!”

“O gitu, terus gimana, mbak?!”

“Ya ikuti aja perkembangan persidangan selanjutnya, dek! Tapi jangan berharap terlalu banyak! Sebab, seperti kata Shakespeare, harapan adalah akar dari semua rasa sakit di hati! Biar aja waktu yang akan kasihtahu! Dan kita nggak usah perlu cari tahu! Karena nggak penting juga buat kita!” tutur Dinda sambil memberikan hand sanitizer ke Gilang. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *