43 views

Soal Tiji Tibeh

“APALAH maksud kawan ini! Ngirim wa cuma bilang: awas tiji tibeh!” ujar Gilang sambil menatap hpnya.

“Adek paham nggak maksudnya?” sela Dinda yang juga asyik dengan gadgetnya.
“Justru karena nggak paham maksudnya, maka adek bilang aneh wa kawan ini!” kata Gilang.

“Tiji tibeh itu maksudnya mati siji mati kabeh, dek! Sebuah adagium yang familiar di dunia politik!” jelas Dinda.

“O gitu maksudnya ya, mbak! Adek paham sekarang wa kawan itu!” sahut Gilang sambil nyengir.

“Emang apa maksudnya, dek?”

“Tim futsal sekolah kan lagi dievaluasi sama pelatih baru! Kabarnya bakal dirombak pemainnya, mbak! Kayaknya kawan itu ngingetin aja kalo tim sekarang bakal diganti total!” lanjut Gilang.

“Jadi bisa aja adek diganti juga dong sebagai kapten tim futsal?!” ucap Dinda.

“Nyantai aja sih, mbak! Diganti ya Alhamdulillah! Nggak diganti ya tetep Alhamdulillah! Gitu aja kok repot!” kata Gilang seraya melepas tawa. Renyah.

“Jadi beneran nih, adek nggak apa-apa kalo akhirnya nggak dimasukin tim futsal lagi?” tanya Dinda. Serius.

“Iya, adek mah nggak apa-apa, mbak! Nyantai aja lagi! Jadi kalo adek termasuk target pola tiji tibeh tadi, nggak ngaruh sama sekali buat adek!” ucap Gilang. Tegas.

“Tapi emang pola tiji tibeh itu sudah lazim dimainin kok, dek! Bahkan belakangan digulirin di dunia hukum! Dunia peradilan!” kata Dinda.

“Kok bisa ya, mbak? Bukannya pola tiji tibeh itu sudah kayak fatsunnya dunia politik khususnya setiap abis reorganisasi?!”

“Iya, pola tiji tibeh itu bahkan beberapa tahun belakangan lebih banyak dipraktekin di dunia hukum, dek! Itu seiring adanya kebijakan KPK soal justise collaborator alias JC!” urai Dinda.

“Maksudnya kayak mana sih JC itu, mbak?” tanya Gilang.

“Maksudnya seseorang yang sudah jadi tersangka atau terdakwa bersepakat dengan penyidik untuk ngebeberin semua runtut peristiwa pidananya dengan gamblang! Bukan cuma pola dan sebagainya tapi juga siapa-siapa aja yang bermain dalam peristiwa itu!”

“Terus manfaatnya jadi JC itu apa?” sela Gilang. Tidak sabaran.

“Karena dinilai ngebantu penyidik dan ekstra kooperatif, dia dikasih keringanan tuntutan! Otomatis status JC ini juga nyampe ke majelis hakim, hingga putusan hukumannya dipastikan lebih ringan!” Dinda menerangkan.

“O gitu to! Terus kaitannya sama tiji tibeh dimana?!” ujar Gilang.

“Aduh, adek! Nggak nyambung banget sih? Karena yang jadi JC itu ‘nyanyi’ soal peristiwa dan siapa-siapa aja yang diduga terlibat, akhirnya kan banyak yang terseret! Makanya banyak tersangka atau terdakwa, utamanya kasus korupsi, pasti ajuin diri jadi JC! Selain bisa ngeringanin hukumannya, dia juga nggak mau dihukum sendirian! Gaya tiji tibeh ini sudah ngetrend di dunia peradilan beberapa tahun belakangan!” lanjut Dinda.

“Mbak bisa kasih contohnya nggak?!” kata Gilang.

“Yang lagi berjalan aja ya? Itu kasus dugaan gratifikasi mantan Bupati Lampung Tengah, Mustafa! Belakangan alurnya bergeser sedikit! Mengurai larinya dana-dana yang diduga ke beberapa partai saat Mustafa mau minta rekomendasi buat maju pilgub 2018 lalu! Kan terungkap yang ke PKB ada 18 Miliar! Dengan kecerdikan penasihat hukum Mustafa, akhirnya soal larinya dana ke partai ini yang jadi topik utama saat ini!”

“Terus kayak mana endingnya, mbak?!” ucap Gilang.

“Endingnya masih lama, dek! Belum bisa diprediksi juga! Tapi dari keseriusan pengadilan mau ngungkap keberadaan dana ke PKB yang diduga kuat libatin Wagub Nunik sebagai ketua partai itu -yang sempet disebut sebagai Kanjeng Ratu-, keliatan bener gendang tiji tibeh sudah ditabuh!”

“Maksudnya Mustafa nggak mau dia sendiri yang kena ya, mbak?” ucap Gilang.

“Kalo itu sudah pasti, dek! Mustafa yang sudah jalani hukuman tentu ingin buktiin kalo soal gratifikasi itu dia nggak salah! Minimal dana-dana yang katanya dikasihin, dia buktiin kemana aja sebenernya dana-dana itu! Nah, yang nerima dana-dana itu ya mesti ikutan masuk bui juga dong! Gitu kalo mbak kira-kirain pikiran Mustafa dan penasihat hukumnya yang cerdik dan cerdas itu, dek!” tutur Dinda.

“Berani juga ya Mustafa pengen beber-beberan semuanya gitu, mbak?!”

“Adek perlu tahu, yang namanya penjara itu neraka dunia! Orang yang sudah pernah ngerasain hidup disana, sudah putus urat takutnya! Jadi jangan maininnya! Nanti celaka!” sambung Dinda dengan wajah serius.

“Oke, adek paham maksud omongan mbak ini! Yang adek mau tanya, kayak mana ngadepin gaya main tiji tibeh itu?!” kata Gilang.

“Ya adepin aja dengan pede! Nggak perlu ngehindar atau pura-pura sakit! Mbak nggak mau ngasih strateginya, dek! Karena sekarang ini banyak yang lebih pinter dari kepinteran yang sebenernya dan lebih hebat dari kehebatan yang sesungguhnya!” kata Dinda sambil tersenyum.

“Iya juga ya, mbak! Banyak yang sudah lupa dengan pesen leluhur: ojo keminter, mundhak keblinger! Ojo cidra, mundhak ciloko! Jangan sok pinter, nanti salah! Jangan curang, nanti celaka!” sambut Gilang seraya tertawa. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *